Selasa, 21 Februari 2012

UPAYA ORANG TUA BUDDHIS MEMBINA KECERDASAN SPIRITUAL ANAK


Langkah-Langkah Pembinaan Kecerdasan Spiritual

Pola didik orang tua sangat berpengaruh terhadap kecerdasan spiritual anak. Padatnya jadwal orang tua bekerja membuat interaksi dengan anak secara langsung menjadi sempit. Padahal interaksi secara langsung akan memperoleh manfaat yang besar dari kecerdasan spiritual. Anak yang mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi tidak semata-mata memandang segala  sesuatu karena rasa takut kepada orang tua, tetapi kesadaran yang tinggi dari dalam diri anak tersebut. Berikut ini penulis tuliskan cara mengembangkan kecerdasan spiritual anak.

1.1 Keteladanan

Keteladanan menjadi hal yang sangat dominan dalam mendidik anak. Anak pada dasarnya akan meniru apa yang dilakukan orang-orang disekelilingnya, terutama keluarga dekatnya. Oleh karena itu jika orang tua ingin mengajarkan tentang makna kecerdasan spiritual pada anak, maka orang tua seharusnya memiliki kecerdasan spiritual juga.
Benteng penjaga pertama agar anak tidak salah langkah dalam hidup ini adalah menumbuhkan Hiri atau rasa malu melakukan perbuatan yang tidak benar atau jahat. perbedaan dan akibat perbuatan baik dan tidak baik. Kejelasan orang tua menerangkan hal ini akan dapat menghilangkan keraguan anak dalam mengambil keputusan. Keputusan untuk memilih kebaikan dan meninggalkan kejahatan. Penjelasan akan hal ini sebaiknya diberikan sejak dini, semakin awal semakin baik. Berikanlah pengertian dan teladan tentang latihan kemoralan. Berikanlah kesempatan anak agar dapat meniru prilaku kebajikan orangtuanya. Ajarkan dan didiklah mereka untuk tidak melakukan pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan dan mabuk-mabukan. Pergunakanlah acara-acara di televisi sebagai alat pengajaran. Tunjukkan kepada mereka bahwa kejahatan tidak akan pernah menang. Kejahatan akan musnah pada akhirnya. Sebaliknya walaupun kebaikan kadang menderita di awalnya akhirnya akan memperoleh kebahagiaan juga.
Apabila anak sudah dapat dengan jelas membedakan kebaikan dan keburukan, tahap berikutnya adalah menumbuhkan rasa malu untuk melakukan kejahatan. Kondisikanlah pikiran anak punya rasa malu, merasa tidak pantas melakukan pelanggaran peraturan kemoralan baik yang diberikan oleh Sang Buddha maupun oleh masyarakat lingkungan. Orang tua bila mengetahui bahwa anaknya melakukan suatu perbuatan yang tidak pantas maka katakan segera bahwa hal itu memalukan. Kemudian berikanlah saran agar dia tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Bila perbuatan itu masih diulang, berilah sanksi. Berilah hukuman yang mendidik bila perbuatan itu tetap diulang. Usahakan dengan berbagai cara agar anak tidak lagi mengulang perbuatan yang tidak baik itu.  
Dalam memberikan pendidikan, orang tua hendaknya dengan tegas dapat menunjukkan kepada anak Apabila anak bertambah besar, orang tua selain menunjukkan bahwa suatu perbuatan tertentu tidak pantas, memalukan untuk dilakukan oleh anaknya, maka orang tua dapat meningkatkannya dengan memberikan uraian tentang akibat perbuatan buruk yang dilakukan anaknya. Akibat buruk terutama adalah yang diterima oleh si anak sendiri, kemudian terangkan pula dampak negatif yang akan diterima pula oleh orang tua, keluarga serta lingkungannya. Orang tua dapat memberikan perumpamaan bahwa bila diri sendiri tidak ingin dicubit, maka janganlah mencubit orang lain. Artinya apabila kita tidak senang terhadap suatu perbuatan tertentu, sebenarnya hampir semua orang pun bahkan semua mahluk cenderung tidak suka pula dengan hal itu. Rata-rata semua mahluk dalam hal ini manusia memiliki perasaan serupa. Penjelasan seperti ini akan membangkitkan kesadaran anak bahwa perbuatan buruk yang tidak ingin dialaminya akan menimbulkan perasaan yang sama bagi orang lain. Dan apalagi bila telah tiba waktunya nanti kamma buruk berbuah, penderitaan akan mengikuti si pelaku kejahatan.
Menumbuh kembangkan perasaan malu dan takut (hiri dan ottappa) melakukan perbuatan yang tidak baik ataupun berbagai bentuk kejahatan inilah yang akan menjadi 'pengawas setia' dalam diri setiap orang khususnya anak-anak. Selama dua puluh empat jam sehari, 'pengawas' ini akan melaksanakan tugasnya. Kemanapun anak pergi ia akan selalu dapat mengingat dan melaksanakan kedua hal sederhana ini. Ia akan selalu dapat menempatkan dirinya sendiri dalam lingkungan apapun juga sehingga akan mampu membahagiakan dirinya sendiri, orangtua dan juga lingkungannya. Orang tua sudah tidak akan merasa kuatir lagi menghadapi anak-anaknya yang beranjak remaja. Orang tua tidak akan ragu lagi menyongsong era globalisasi. Orang tua merasa mantap dengan persiapan mental yang telah diberikan kepada anak-anaknya.'

1.2 Membantu Anak untuk Merumuskan Tujuan Hidup

Banyak orang tua yang mendoktrin anaknya dengan tujuan hidup yang sebenarnya tidak begitu dipahami anak, “Jika kamu sudah besar nanti, kamu harus jadi orang kaya dan pintar.” Anak yang didoktrin dengan hal-hal yang bernilai duniawi atau dengan mengesampingkan unsur rohani, maka yang akan didapatkan anak itu hanyalah sebuah ambisi yang tidak pernah terpuaskan. Seseorang yang cerdas secara spiritual akan memiliki tujuan hidup berdasarkan alasan-alasan yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan baik secara moral maupun kehidupan setelah meninggal dunia.
Tujuan hidup seorang umat Buddha adalah untuk mencapai kebahagiaan. Dalam Dhamma disebutkan adanya tiga tujuan hidup yaitu berbahagia di dunia ini, berbahagia setelah kehidupan ini yaitu mencapai alam surga atau alam bahagia lainnya. Kemudian, sebagai tujuan hidup yang tertinggi adalah kebahagiaan Nibbana. Dengan demikian hidup manusia sebenarnya bukan sekedar memenuhi kebutuhan jasmani saja seperti; makan, minum, tidur, berkasih sayang dan sebagainya, tetapi lebih jauh dari itu, manusia juga memerlukan kebutuhan rohani dengan cara beribadah yang tujuan akhirnya adalah untuk mencapai ketenangan dan ketentraman dalam hidupnya.

1.3 Mendorong Anak Ikut Dalam Keagamaan

Sesibuk apapun sebagai orang tua harus tetap meluangkan waktu untuk membawa anak dalam keagamaan. Maksudnya membawa perilaku anak ke dalam kecerdasan spiritual. Orang tua dapat menggunakan altar yang ada di rumah dalam menyampaikan Dhamma. Pada waktu sore hari sebelum anak belajar, anak diajak untuk membaca Paritta Suci. Setelah melaksanakan kebaktian anak diberi khotbah Dhamma atau nasehat-nasehat dari orang tua sendiri. Berawal melaksanakan kebaktian tiap sore inilah anak akan timbul sebuah keyakinan (Saddha). Keyakinan kepada Tri Ratna yang akan tumbuh dengan kuat dalam diri anak.
Sebagai orang tua Buddhis yang bijaksana, meskipun hanya sekali dalam seminggu, ajaklah anak pergi ke Vihara dan membaca Paritta Suci disitu. Pada hari Minggu seluruh anggota keluarga dapat diajak kebaktian di Vihara setempat. Mengikuti kebaktian, selain memperbaiki pola pikir agar lebih positif sesuai dengan Buddha Dhamma juga dapat menjadi sarana rekreasi. Hal ini dapat terjadi karena di Vihara kita dapat berjumpa dengan banyak teman dan juga dapat berdiskusi Dhamma dengan para Bhikkhu maupun pandita yang dijumpai. Selain itu dihari libur seluruh anggota keluarga dapat bersama-sama pergi ke tempat-tempat sejarah Agama Buddha seperti Candi Mendut atau Candi Borobudur.
1.4  Mendongeng

Mendongeng adalah pekerjaan yang kecil yang mendatangkan hasil yang sangat besar. Mendongeng sebagai media membentuk kepribadian dan moralitas anak. Sebab dari kegiatan mendongeng terdapat manfaat yang dapat dipetik oleh pendongeng (orang tua) beserta para pendengar (anak). Manfaat tersebut adalah, terjalinnya interaksi komunikasi harmonis antara oran gtua dengan anaknya di rumah, sehingga bisa menciptakan relasi yang akrab, terbuka, dan tanpa sekat. 
Anak-anak bahkan orang dewasa, sangat terpengaruh dengan suatu cerita. Sebagai orang tua tidaklah kekurangan suatu cerita luhur, apbila bersedia menerima cerita itu dari semua sumber. Misalnya Jataka, yaitu kisah-kisah Boddhisata yang mengandung nilai moral yang bermanfaat bagi anak. Pendidikan yang terkandung dalam setiap dongeng dan cerita rakyat dapat merangsang kecerdasan emosional dan spiritual anak. Selain itu orang tua juga dapat menggunankan CD-CD lagu rohani, film, dan kisah yang mengandung unsur spiritual Agama Buddha.

2 Orang Tua Buddhis Menyikapi tentang Kecerdasan Spiritual Anak

Menjadi suatu konsekuensi sebagai orang tua untuk pandai menyikapi segala hal yang berkaitan dengan masalah anak-anak. Orang tua harus pandai-pandai membuat dan membimbing anak untuk menjadi anak yang tidak terlalu manja dan egois. 

2.1 Menghayati Dunia Anak

Anak belum punya beban layaknya orang dewasa yang dipenuhi kepenatan tiap harinya. Anak selalu menikmati dunianya sendiri, dunianya adalah bermain karena dari bermain dia menemukan banyak hal-hal baru untuk tumbuh nantinya. Dari hal itu rasanya kita perlu mencontoh mereka yang selalu gembira menikmati hidupnya. Memang orang dewasa dipenuhi tekanan hidup, tapi layaknya anak-anak, nikmatilah dunia mereka. Supaya lebih menghayati dunia anak, orang tua perlu melibatkan diri dalam dunia mereka. Mungkin bagi sebagian orang tua merasa enggan atau malu jika bermain bersama anak-anak, tapi sebenarnya banyak sekali yang dapat diperoleh dari hal itu.
Manfaat dari menghayati dunia anak yang pertama mereka punya ‘sahabat baru’. Mereka selalu senang memiliki banyak teman, karena pada dasarnya mereka itu tidak suka memilih-milih teman. Mereka menikmati pergaulan dengan siapa saja, karena dari mereka lah tumbuh benih-benih makhluk sosial. Sahabat baru yang memasuki dunia mereka akan semakin menambah antusiasme mereka, dan itu sangat bermanfaat untuk meningkatkan keaktifan atau psikomotor mereka. Semakin anak itu aktif semakin mereka belajar banyak hal. Sahabat baru bagi anak juga dapat berperan sebagai tempat mereka mencurahkan keluh kesah, suka cita, dan berbagai emosi dari mereka yang sudah mulai muncul. Hal itu sangat bagus bagi mereka untuk nantinya menjadi pribadi yang terbuka, jujur, dan menerima masukan-masukan orang lain atau biasa disebut pribadi yang fleksible.

2.2 Pentingnya Membina Kecerdasan Spiritual dalam Keluarga

Keluarga merupakan institusi pendidikan utama dan pertama bagi anak. Karena anak untuk pertama kalinya mengenal pendidikan dalam lingkungan keluarga sebelum mengenal masyarakat yang lebih luas. Disamping itu keluarga dikatakan sebagai peletak pondasi untuk pendidikan selanjutnya. Pendidikan yang diterima anak dalam keluarga inilah yang akan digunakan oleh anak sebagai dasar untuk mengikuti pendidikan selanjutnya disekolah. 
Orang tua sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak dan bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan anak-anaknya. Tugas dan tanggung jawab orang tua dalam keluarga terhadap pendidikan anak-anaknya lebih bersifat pembentukan watak, agama dan spiritualnya. Sehingga sebagai orang tua Buddhis, membina kecerdasan spiritual anak sangat penting sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Agama Buddha.

2.3 Menyikapi Tentang Kecerdasan Spiritual Anak

Kecerdasan intelektual (IQ) yang sering dibanggakan oleh kebanyakan orang tua sebagai pertanda bahwa anak telah berprestasi. Kecerdasan intelektual memang penting agar seseorang mempunyai kemampuan dalam menganalisis dan berhitung, terutama terkait dengan ilmu pasti. Demikian pula dengan kecerdasan emosional, keberadaannya harus dikembangkan dengan baik agar seseorang dapat lebih mudah dalam meraih kesuksesan hidupnya. Namun untuk menemukan makna hidup dan kebahagiaan, seseorang memerlukan kecerdasan spiritual. Inilah sebabnya kecerdasan spiritual dinilai sebagai kecerdasan yang paling penting dalam kehidupan seseorang karena menemukan makna dari kehidupan. Dan kebahagiaan adalah tujuan dari setiap orang dalam hidupnya. Untuk apa mempunyai kecerdasan, baik itu dalam karier, kekayaan, maupun dalam kehidupan sosial bila tidak bias merasakan sebuah kebahagiaan. Jadi sebagai orang tua Buddhis yang bijaksana jangan memaksa anak hanya perlu pintar dalam intelektual saja, akan tetapi tidak kalah pentingnya yaitu kecerdasan spiritual.

3 Peranan Orang Tua Buddhis Dalam Membina Kecerdasan Spiritual Anak

Orang tua manapun pasti ingin anaknya bisa bertingkah laku yang baik di depan orang banyak, menghormati orang yang lebih tua, sadar akan hak dan kewajiban orang lain yang bisa membatasi hak dan kewajibannya sendiri, serta peka terhadap orang lain. Pendek kata anak bisa mengikuti norma dan nilai sosial yang berlaku di masyarakat. Sungguh bukan hal yang mudah untuk diserap dan dipelajari anak, namun kita begitu ingin mereka tahu dan bisa mengamalkan hal-hal baik tersebut. Sebagai orang tua Buddhis, berikut ini beberapa cara yang dapat diperhatikan untuk membina kecerdasan spiritual anak:

3.1 Melalui Pemberian Tugas

Anak dilatih melakukan tugas-tugas hariannya  dengan dorongan motivasi dari dalam. Artinya anak melakukan setiap aktifitasnya dengan perasaan senang, bukan karena terpaksa atau karena paksaan orang tua. Biasanya anak akan melakukan tugas-tugasnya dengan penuh semangat apabila dia tahu manfaat baginya. Untuk itu orang tua perlu memberi motivasi, membuka wawasan sehingga setiap tindakan anak-anak tersebut secara bertahap dimotivasi dari dalam.
Anak perlu diberi waktu menggunakan kebebasan pribadinya, membenamkan diri pada aktifivitas-aktivitas favoritnya seperti membaca Paritta, menyanyi lagu-lagu Buddhis, mendengarkan musik, menari, dan sebagainya. Permainan-permainan ini membuat anak-anak produktif dan mengembangkan kekayaan kecerdasan dalam diri mereka. Didalam keluarga perlu kondisi yang mendukung pengembangan kondisi batin anak agar dapat berkhayal, berangan-angan, mengembangkan fantasinya, dan bermain. Permainan memungkinkan anak-anak mengenal dirinya sendiri. Permainan adalah guru terbaik bagi anak-anak. Permainan membantu anak terhubung dengan bebas ke dunianya dan dengan mudah menghabiskan waktunya penuh kualitas. Kebebasan berpikir yang efektif dan positif akan berkembang dalam diri anak yang merencanakan, memulai, dan menentukan sendiri arah permainannya. Berhubungan dengan hal itu, sifat-sifat orang tua Buddhis yang sangat mengekang atau mengendalikan anak secara positif akan menghambat perkembangan SQ anak dalam keluarga

3.2 Melalui Pengasuhan

Orang tua Buddhis yang penuh kasih sayang, saling pengertian, cinta kasih dan penghargaan. Pengasuh atau seorang ibu yang terlalu menolong tidak mengembangkan kecerdasan spiritual (SQ) anak, karena hanya mengembangkan pribadi-pribadi yang kikir dan berpikiran sempit dalam cinta, tidak memilih perspektif luas sehingga tidak menyadari kebutuhan dasar atau keberadaan orang lain.   Terbuka dan jalin hubungan kasih dengan anak-anak. 
Orang tua Buddhis perlu membuka diri, mengungkapkan dirinya kepada “putra-putrinya”. Hanya dengan cara demikian kita memberi model dan pengalaman hidup bagi anak-anak untuk mengembangkan kecerdasan spiritual (SQ)-nya. Orang tua perlu menciptakan lingkungan keluarga penuh kasih dan pengalaman saling memaafkan.

3.3 Melalui Pengetahuan 

Dengan mengembangkan sikap pemahaman, pengetahuan dan sikap eksploitatif. Dirumah perlu diberi ruang bagi anak untuk mengembangkan wawasan ilmu pengetahuannya. Mungkin dialog dengan orang tua Buddhis yang sudah memiliki pengetahuan yang lebih luas dapat memperluas pengetahuan anak sehingga membantu usaha eksploitatif dan pencariannya terhadap kekayaan ilmu pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan dalam hal ini lebih di khususkan mengenai Dhamma. Sehingga anak memiliki pemahaman yang kuat mengenai agama Buddha.
Perlu disadari penanaman keyakinan pada anak kita secara otomatis akan berkaitan dengan cara hidup yang benar. Tanamkan keyakinan pada mengenai kebesaran dan keagungan Sang Buddha. Suatu ide yang sangat penting, bila sejak kecil anak-anak harus dilatih untuk yakin akan keagungan dan kemuliaan Sang Buddha. Penggunaan patung ataupun gambar Sang Buddha adalah suatu ide yang bagus untuk mengajarkan anak kita memberikan penghormatan kepada Sang Buddha, sebagai guru yang agung untuk manusia. Jelaskan bahwa itu bukanlah penyembahan berhala seperti yang sering diajarkan oleh para pendidik agama non-Buddhis yang mengharuskan anak kita mengikuti pelajaran agamanya di sekolah yang berada dalam naungan suatu agama tertentu. Penggunaan patung Buddha sebagai objek konsentrasi penghormatan kepada Sang Buddha akan menjadi lebih efektif mengingatkan kita kepada Sang Guru Agung dibandingkan simbol-simbol lain. Demikian juga penghormatan terhadap anggota Sangha dengan bersujud ataupun bernamaskara, perlu dijelaskan bahwa itu merupakan cara penghormatan yang tidak lain seperti penghormatan pada tradisi-tradisi lain, dan bukanlah menyembah orangnya.

3.4 Melalui Keterbukaan

Hal inilah yang paling dapat dilatih dalam keluarga, melalui sikap saling terbuka semua anggota keluarga dengan berdialog satu sama lain. Setiap kesulitan atau konflik yang timbul dalam keluarga dipecahkan bersama dengan saling menghargai satu sama lain, sarana untuk itu adalah “dialog”. Untuk dapat berdialog diandalkan kemampuan untuk saling mendengarkan dan kemampuan menerima pendapat yang berbeda. Pengalaman seperti itu hanya dapat dialami oleh anak didalam keluarganya.
Selain itu sikap orang tua Buddhis terhadap era globalisasi bukanlah menutup diri, melainkan yang paling tepat adalah membuka diri dalam arti siap beradaptasi, meskipun keterbukaan diri bukan berarti dengan begitu saja umat Buddha menerima segala sesuatu yang ditawarkan. Keterbukaan diri tersebut tentunya memerlukan suatu persiapan diri yang boleh dikatakan sebagai kemampuan diri tertentu. Kemampuan diri ini sangat penting ditanamkan pada anak dalam rangka penyesuaian hidup seseorang terhadap perkembangan era globalisasi untuk mewujudkan kehidupan yang diharapkan.

3.5 Melalui Kepemimpinan yang Penuh Pengabdian

Orang tua Buddhis adalah model seorang pemimpin yang akan dialami oleh anak-anak di dalam keluarga. Pemimpin yang efektif seorang yang bersikap ramah, mampu memahami perasaan yang dipimpin dan mampu berhubungan dengan semua anggota keluarga. Disini orang tua dapat menjadi model bagi anak-anak untuk melayani, rela berkorban, dan mengutamakan kepentingan bersama dari pada kepentingan diri sendiri. Karena yang memandu setiap perilaku adalah apa yang bernilai dan bermakna bagi semua. Singkatnya, tempat pertama untuk menumbuhkan kecerdasan spiritual adalah keluarga. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berkecerdasan spiritual (SQ) tinggi akan menjadi pribadi-pribadi dengan SQ tinggi pula.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar