Kamis, 23 Februari 2012

TIGAPULUH SATU ALAM KEHIDUPAM


Di dalam tiga puluh satu alam kehidupan terdapat satu kelompok alam yang disebut Kāma Bhūmi. Kāma Bhūmi adalah alam kehidupan yang makhluk-makhluknya masih senang dengan nafsu indera dan terikat dengan panca indera. Pada umumnya makhluk-makhluk yang berdiam di Kāma Bhūmi ini masih suka menikmati kesenangan-kesenangan duniawi. Misalnya makhluk yang berdiam di Manussa Bhūmi itu masih suka berpacaran dan melakukan hubungan sex. Namun, mereka kadang-kadang kecewa bila hubungan cintanya putus di tengah jalan. Mereka kadang-kadang sedih bila pesta usai, bila perjalanan ke tempat-tempat rekreasi berakhir dan lain-lain. Dengan demikian, kesenangan-kesenangan duniawi itu bersifat tidak kekal. Oleh sebab itu, makhluk-makhluk yang berdiam di Kāma Bhūmi harus menyadari hakekat hidup dan kehidupan ini dengan sewajarnya. Selanjutnya, mereka harus berusaha mempraktekkan ajaran-ajaran Sang Buddha dalam kehidupannya sehari-hari, agar mereka dapat terbebas dari kekecewaan, ketidakpuasan, atau dukkha.
            Dari uraian di atas jelaslah bahwa di alam semesta ini terdapat juga makhluk-makhluk yang masih memiliki nafsu indera. Mereka berdiam di Kāma Bhūmi. Kāma Bhūmi terdiri atas sebelas alam kehidupan, yang dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu:
1.      Apāya Bhūmi atau Duggati Bhūmi.
2.      Kāmasugati Bhūmi.
Apāya Bhūmi atau Duggati Bhūmi merupakan alam kehidupan yang menyedihkan. Dikatakan menyedihkan karena di alam ini tidak terdapat kesenangan dan kebahagiaan. Makhluk-makhluk yang berdiam di alam ini mengalami penderitaan yang berkepanjangan. Penderitaan itu bukan merupakan hukuman atau siksaan dari Tuhan atau Sang Buddha, tetapi itu merupakan akibat dari perbuatan jahat yang telah dilakukannya pada kehidupan-kehidupan sebelumnya.
Apāya Bhūmi atau Duggati Bhūmi terdiri atas empat alam kehidupan, yaitu:
1.      Niraya Bhūmi atau alam neraka.
2.      Peta Bhūmi atau alam setan.
3.      Asurakāya Bhūmi atau alam raksasa asura.
4.      Tiracchāna Bhūmi atau alam binatang.

Niraya Bhūmi
Di dalam masyarakat, pernah ada orang berkata, “Setelah meninggal dunia, saya mau ke neraka saja karena di sana banyak bintang film yang cantik-cantik”. Tentu saja ini kata-kata bercanda. Secantik-cantiknya bintang film, bila ia telah sampai di neraka, maka ia akan berubah menjadi tidak cantik lagi. Keadaan makhluk neraka amat menyedihkan. Ada yang tubuhnya dibakar oleh api yang berkobar, ditusuk oleh besi yang panas, dan sebagainya. Akibatnya, wajah mereka berkerinyut menahan sakit, lidahnya terjulur keharusan, mulutnya merintih-rintih mengeluarkan air liur, dan lain.
Di dalam kitab-kitab agama Buddha, neraka disebut niraya. Niraya berasal dari kata ni dan aya yang berarti ketidakbahagiaan. Jadi, suatu alam di sebut Niraya Bhūmi atau alam neraka karena di alam ini tidak terdapat kesenangan dan kebahagiaan. Makhluk-makhluk yang berdiam di alam ini selalu mengalami penderitaan terus-menerus sebagai akibat karma buruknya.
Niraya Bhūmi termasuk salah satu dari empat alam kehidupan yang menyedihkan (Apāya Bhūmi). Niraya Bhūmi juga terbagi atas beberapa kelompok alam, di antaranya ada yang disebut kelompok delapan Maha-Naraka atau neraka besar, yaitu: Sañjiva neraka, Kālasutta Naraka, Saºghāta Naraka, Roruva Naraka, Mahā Roruva Naraka, Tapāna Naraka, Mahātapāna Naraka, dan Avici Naraka. Masing-masing neraka besar ini terbagi lagi, sehingga seluruhnya terdapat seratus tiga puluh enam (136) neraka.
1.      Sañjiva berarti “hidup lagi dan hidup lagi”. Suatu alam disebut Sañjiva Naraka karena makhluk yang hidup di alam ini akan merasakan penderitaan terus-menerus selama hidupnya. Tubuh makhluk-makhluk yang terlahir di neraka ini akan terpotong-potong menjadi kepingan-kepingan tiada putusnya, tetapi makhluk-makhluk ini tidak mati. Mereka hidup lagi dan hidup lagi. Hal ini disebabkan oleh kekuatan karma buruk mereka yang menyebabkan mereka harus menderita dengan cara seperti ini. Dalam hal ini, kematian pun tidak dapat melepaskan mereka dari siksaan tersebut. Sañjiva-naraka berada di utara Kālasutta-naraka. Makhluk Sañjiva-naraka mempunyai usia panjang 500 tahun Naraka, sama dengan 1.620.000.000.000 tahun manusia. Perbandingan waktu dengan alam manusia, sehari-semalam Sañjiva-naraka sama dengan 9.000.000 tahun manusia.
2.     Kālasutta berarti benang hitam. Suatu alam disebut Kālasutta Naraka karena makhluk yang hidup di alam ini akan merasakan penderitaan yang berupa tubuhnya dijelujuri oleh penyiksa dengan benang hitam dan dipukuli dengan beliung. Kālasutta-naraka berada di selatan Sañjiva-naraka dan di utara Sangāta-naraka. Makhluk Kālasutta-naraka mempunyai usia panjang 1.000 tahun Neraka, sama dengan 12.960.000.000.000 tahun manusia. Perbandingan waktu dengan alam manusia, sehari semalam Kālasutta-naraka sama dengan 36.000.000 tahun manusia.
3.    Sanghāta Naraka berarti neraka penghancur. Suatu alam disebut Saºghata Naraka makhluk yang hidup di alam ini akan merasakan penderitaan yang berupa dirinya dihancurkan oleh batu karang besar yang menyala-nyala yang datang dari empat penjuru. Saºghāta-naraka berada di selatan Kālasutta dan di utara Roruva-naraka. Makhluk Saºghāta-naraka mempunyai usia panjang 2.000 tahun Neraka, sama dengan 103.680.000.000.000 tahun manusia. Perbandingan waktu dengan alam manusia, sehari semalam Saºghāta-naraka sama dengan 145.000.000 tahun manusia.
4.     Roruva Naraka berarti daerah tartarus. Suatu alam disebut Roruva Naraka karena makhluk yang hidup di alam ini akan merasakan penderitaan yang berupa tubuh mereka dibakar dari dalam oleh nyala api dan asap melalui sembilan lubang seperti telinga, hidung, dan sebagainya. Api itu membakar dalam tubuh mereka yang dapat diumpamakan seperti daerah tartarus. Hal ini mengakibatkan penderitaan yang amat parah bagi mereka, sehingga mereka menangis tiada henti-hentinya. Roruva-naraka berada di selatan Saºghāta-naraka dan di utara Mahāroruva-naraka. Roruva-naraka mempunyai usia panjang 4.000 tahun Neraka, sama dengan 829.440.000.000.000 tahun manusia. Perbandingan waktu dengan alam manusia, sehari semalam Roruva-naraka sama dengan 576.000.000 tahun manusia.
5.      Mahāroruva berarti roruva besar. Suatu alam disebut Mahāroruva Naraka karena makhluk yang hidup di alam ini akan merasakan penderitaan yang berupa tubuhnya dipanggang dalam nyala api yang besar sekali dan dalam penderitaan itu mereka pun menangis tiada henti-hentinya. Mahāroruva-naraka di selatan Roruva-naraka dan di utara Tapāna-naraka. Mahāroruva-naraka mempunyai usia panjang 8.000 tahun Neraka, sama dengan 6.635.520.000.000.000 tahun manusia. Perbandingan waktu dengan alam manusia, sehari semalam Mahāroruva-naraka sama dengan 2.305.000.000 tahun manusia.
6.      Tapāna berarti pembakar. Suatu alam disebut Tapāna Naraka karena makhluk yang hidup di alam ini akan merasakan penderitaan yang berupa tubuhnya diikat pada batang besi panas yang menyala yang ditanam pada lantai yang menyala pula. Mereka terikat erat dan tidak dapat bergerak. Tapāna-naraka berada di selatan Mahāroruva-naraka dan di utara Mahātapāna-naraka. Tapāna-naraka mempunyai usia 16.000 tahun Neraka, sama dengan 53.084.160.000.000.000 tahun manusia. Perbandingan waktu dengan alam manusia, sehari semalam Tapāna-naraka sama dengan 9.216.000.000 tahun manusia.
7.      Mahātapāna berarti pembakaran yang hebat. Suatu alam disebut Mahātapāna Naraka karena makhluk yang hidup di alam ini akan merasakan penderitaan yang berupa tubuhnya dipukul secara paksa dengan senjata otomatis yang bekerja sendiri dan menyala-nyala untuk mendaki gunung yang diliputi oleh api. Api itu menyerang tubuh mereka dengan kuat sehingga mereka terjatuh ke bawah lagi. Kemudian, mereka diikat lagi pada batang besi menyala dan tidak dapat bergerak. Mereka amat menderita dengan keadaan seperti itu. Mahātapāna-naraka berada di selatan Tapāna-naraka dan di utara Avici-naraka. Mahātapāna-naraka mempunyai usia panjang tidak terhitung, kira-kira satu Kalpa. Perbandingan waktu dengan alam manusia, sehari semalam Mahātapāna-naraka tidak terhitung dengan tahun manusia.
8.      Avici berarti tanpa penghentian. Suatu alam disebut Avici Naraka karena makhluk yang hidup di alam ini akan merasakan penderitaan yang berupa tubuhnya diserang oleh api dari sisi yang satu dan sisi lainnya secara bergantian tiada hentinya. Avici Naraka merupakan naraka terbawah dan terbesar. Avici-naraka berada di selatan Mahātapāna-naraka. Avici-naraka mempunyai usia panjang tidak terhitung. Perbandingan waktu dengan alam manusia, sehari semalam Avici-naraka tidak terhitung dengan tahun manusia.
Makhluk-makhluk dapat terlahir di alam neraka avici karena mereka telah melakukan lima perbuatan durhaka (akusala garuka kamma) pada kehidupan sebelumnya. Lima perbuatan durhaka tersebut adalah:
1.      Membunuh ibu kandung.
2.      Membunuh ayah kandung.
3.      Membunuh arahat (orang suci tingkat tertinggi)
4.      Melukai Sang Buddha.
5.      Memecah belah Sangha.
Devadatta yang merupakan siswa Sang Buddha yang durhaka telah melakukan dua dari lima perbuatan durhaka, yaitu melukai Sang Buddha dan memecah belah Sangha. Akibatnya ia bertumimbal lahir di alam neraka avici ini. ia hidup di alam neraka avici ini selama seratus ribu kappa
Makhluk-makhluk dapat bertumimbal lahir di alam neraka karena mereka telah melakukan perbuatan-perbuatan yang penuh dengan dosa atau kebencian pada kehidupannya yang lampau. Ada pernyataan dalam bahasa Pāli sebagai berikut, Dosena hi candajatataya dosasadisa× niraya× uppajjanti”, yang berarti: Semua makhluk dilahir di alam neraka dengan kekuatan dosa.
Di dalam kitab suci, Sang Buddha menguraikan secara terperinci mengenai delapan jenis perbuatan jahat yang dapat mengakibatkan kelahiran di alam neraka, yaitu:
1.    Suka mencelakakan atau membunuh bhikkhu, samanera, dan umat Buddha yang taat pada agama. Orang yang bekerja sebagai algojo juga dapat terlahir di alam neraka ini.
2.      Suka memeras, menganiaya, dan membunuh makhluk hidup dengan kekuatan yang dimilikinya.
3.      Suka korupsi, mencari keuntungan berupa uang yang bertentangan dengan kebenaran, menyelewengkan uang penyebaran agama untuk kepentingan pribadi, menyelewengkan ajaran agama, mencuri harta benda kepunyaan orang tua, guru, sangha, dan lain-lain.
4.      Membakar kota, rumah, tempat ibadah, rumah sakit, kantor, dan merusak candi-candi dengan sengaja.
5.      Mempunyai pandangan salah, seperti anti agama, tidak percaya pada hukum karma, tumimbal lahir, dan kebenaran lainnya.
6.   Melakukan lima perbuatan durhaka (akusala garuka kamma), yaitu membunuh orang tua dan arahat (orang suci tingkat tertinggi), melukai Sang Buddha, dan memecah belah Sangha.
7.    Menggugurkan kandungan. Wanita yang menggugurkan kandungannya, walaupun ia baru mengandung sebulan, akan terjatuh di alam neraka karena dengan menggugurkan kandungan, ia telah melakukan pembunuhan terhadap makhluk yang ada di dalam rahimnya. Namun, orang yang melaksanakan KB tidak berarti menggugurkan kandungan, sehingga ia belum tentu akan dilahirkan di alam neraka setelah kematiannya.
8.      Suka berzina, suka mengadakan hubungan sex dengan suami atau istri orang lain, suka memecah belah kerukunan hubungan suami dan istri orang lain, atau merebut suami atau istri orang lain untuk dijadikan teman hidup.
Perbuatan-perbuatan jahat di atas dapat mengakibatkan kelahiran di alam-alam neraka. Sang Buddha menjelaskan pembagian perbuatan jahat dalam alam neraka sebagai berikut:
1.      Perbuatan membunuh manusia dapat mengakibatkan pelakunya terlahir kembali di Sañjiva Naraka
2.     Perbuatan membunuh binatang dapat mengakibatkan pelakunya terlahir kembali di Saºghāta Naraka atau Roruva Naraka.
3.      Perbuatan mencuri dapat mengakibatkan pelakunya terlahir kembali di Mahāroruva Naraka.
4.      Perbuatan membakar kota dapat mengakibatkan pelakunya terlahir kembali di Tapāna Naraka.
5.      Mempunyai pandangan salah dapat mengakibatkan pemiliknya terlahir kembali di Mahātapāna Naraka.
6.   Melakukan lima perbuatan durhaka (akusala garuka kamma) dapat mengakibatkan pelakunya terlahir kembali di Avici Naraka.
Makhluk-makhluk yang terlahir di alam neraka amat menderita. Mereka tidak mempunyai waktu untuk bermimpi dan memuaskan nafsu sexnya. Namun, neraka bukan merupakan akhir dari segalanya. Makhluk-makhluk di sana tidak akan tersiksa terus selamanya tanpa daya dan tanpa harapan. Mereka hidup di sana hanya untuk waktu tertentu. Jika karma buruk untuk hidup di sana telah habis, maka mereka akan meninggal dari alam neraka untuk bertumimbal lahir lagi di alam-alam lain sesuai dengan karmanya. Jadi, pada suatu waktu makhluk-makhluk penghuni neraka itu akan dapat bertumimbal lahir lagi di alam-alam lain, untuk menjalankan perjalanan hidup dalam lingkaran tumimbal lahir, sampai akhirnya mencapai Nibbāna.

Peta Bhūmi

            Peta berarti setan. Suatu alam di sebut Peta Bhūmi atau alam setan karena makhluk yang berdiam di alam ini jauh dari kesenangan dan kebahagiaan. Mereka tergolong sebagai makhluk yang sengsara dan celaka. Mereka mempunyai bentuk jasmani tersendiri dengan rūpa yang buruk dan dengan berbagai macam ukuran besar dan tinggi.
          Makhluk-makhluk setan dapat bertumimbal lahir di alam setan (Peta Bhūmi) karena mereka telah melakukan perbuatan-perbuatan yang penuh dengan lobha atau keserakahan pada kehidupannya yang lampau. Ada pernyataan dalam bahasa Pāli sebagai berikut, “Yebhuyyayena hi satta tanhayapettivisaya× uppajjanti”, yang berarti: Semua makhluk dilahirkan di alam setan dengan kekuatan lobha.
Makhluk setan ini terbagi dalam beberapa kelompok, di antanya terdapat kelompok-kelompok setan yang disebut Empata Peta, Dua belas Peta, Dua puluh satu Peta.
Dalam kitab Petavatthu Atthakatha dijelaskan adanya empat jenis peta atau setan sebagai berikut:
1.  Paradattupajivika Peta, atau setan yang memelihara hidupnya dengan memakan makanan yang disuguhkan orang dalam upacara sembahyang.
2.      Khupapipāsika Peta, atau setan yang selalu lapar dan haus.
3.      Nijjhāmatanhika Peta, atau setan yang selalu kelaparan.
4.      Kālakañcika Peta, atau setan yang sejenis asura atau nama asura yang menjadi setan.
Dari keempat jenis Peta atau setan ini, Paradattupajivika Peta yang dapat menerima dan dapat makan makanan yang disajikan orang dalam upacara sembahyang. Tiga Peta atau setan lainnya tidak dapat menerima makanan yang disajikan orang dalam upacara sembahyang. Jika para Bodhisatva terlahir menjadi setan, maka ia akan menjadi setan jenis Paradattupajivika Peta, dan tidak akan menjadi peta atau setan lainnya.
Dalam kitab Gambhilokapaññatti dijelaskan adanya dua belas jenis peta atau setan sebagai berikut:
1.      Vantāsa Peta, atau setan yang memakan air ludah, dahak, dan muntahan.
2.      Kunapasa Peta, atau setan yang makan mayat manusia dan binatang.
3.      Gūthakhādaka Peta, atau setan yang memakan berbagai macam kotoran.
4.      Aggijālamukha Peta, atau setan yang mulutnya selalu ada api.
5.      Sucimuja Peta, atau setan yang mulutnya sekecil lubang jarum.
6.      Taºhāttika Peta, atau setan yang dikendalikan oleh tanha atau nafsu sehingga selalu lapar dan haus.
7.      Sunijjhāmaka Peta, atau setan yang bertubuh hitam seperti arang.
8.      Suttanga Peta, atau setan yang mempunyai kuku tangan dan kaki yang panjang setajam pisau.
9.      Pabbatang Peta, atau setan yang bertubuh setinggi gunung.
10.  Ajagaranga Peta, atau setan yang bertubuh seperti ular.
11.  Vemānika Peta, atau setan yang menderita waktu siang dan senang di waktu malam dalam khayangan.
12.  Mahadadhika Peta, atau setan yang mempunyai kekuatan ilmu gaib. Ilmu gaib setan ini tidak sama dengan abhiñña atau kemampuan batin. Setan jenis inilah yang sering masuk ke tubuh manusia yang kesurupan.
Dalam kita suci Vinaya dan lakkhanasamyutta dijelaskan adanya dua puluh satu jenis peta atau setan sebagai berikut:
1.      Atthisankhasika Peta, atau setan yang mempunyai tulang bersambung tetapi tidak mempunyai daging.
2.      Mansapesika Peta, atau setan yang mempunyai daging terpecah-pecah tetapi tidak mempunyai tulang.
3.      Mansapinada Peta, atau setan yang mempunyai daging berkeping-keping.
4.      Nicachaviparisa Peta, atau setan yang tidak mempunyai kulit.
5.      Asiloma Peta, atau setan yang berbulu tajam.
6.      Sattiloma Peta, atau setan yang berbulu seperti tombak.
7.      Usuloma Peta, atau setan yang berbulu panjang seperti anak panah.
8.      Suciloma peta, atau setan yang berbulu seperti jarum.
9.      Dutiyasuciloma Peta, atau setan yang berbulu jarum jenis kedua.
10.  Kumabhanda Peta, atau setan yang mempunyai buah kemaluan sangat besar.
11.  Guthakupanimugga Peta, setan yang gelomangan dengan kotoran.
12.  Gūthakhādaka Peta, atau setan yang memakan kotoran.
13.  Nicachavitaka Peta, atau setan perempuan yang tidak memiliki kulit.
14.  Dugagandha Peta, atau setan yang berbau sangat busuk.
15.  Ogilini Peta, atau setan yang badannya seperti bara api.
16.  Asisa Peta, atau setan yang tidak mempunyai kepala.
17.  Bhikkhu Peta, atau setan yang berbadan seperti bhikkhu.
18.  Bhikkhuni Peta, atau setan yang berbadan seperti bhikkhuni.
19.  Sikkhamana Peta, atau setan yang berbadan seperti pelajar wanita atau calon bhikkhuni.
20.  Samanera Peta, atau setan yang berbadan seperti samanera.
21.  Samaneri Peta, atau setan yang berbadan seperti samaneri.
Dari uraian di atas nyatalah bahwa ada satu jenis setan yang disebut Bhikkhu Peta. Makhluk ini dapat terlahir dalam keadaan seperti ini karena pada kehidupan sebelumnya, ketika ia masih hidup di alam manusia sebagai bhikkhu, ia tidak taat pada Dhamma (ajaran Sang Buddha) dan Vinaya (peraturan kebhikkhuan). Ia sering melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan Dhamma dan Vinaya. Makhluk peta ini ada kalanya berdiam di bawah-bawah pohon atau di tempat-tempat lain, dalam bentuk menyerupai bhikkhu.

Asurakāya Bhūmi

Asurakāya berarti raksasa asura. Suatu alam disebut Asurakāya Bhūmi atau alam raksasa, karena makhluk yang berdiam di alam ini jauh dari kemuliaan, kebebasan dan kesenangan. Asurakāya Bhūmi merupakan salah satu alam dari Apāya Bhūmi. Jadi, makhluk raksasa asura berdiam di alam Apāya Bhūmi.        

Makhluk-makhluk dapat bertumimbal lahir di alam raksasa asura karena mereka telah melakukan perbuatan-perbuatan yang penuh lobha atau keserakahan pada kehidupan-kehidupannya yang lampau. Makhluk raksasa asura ini mempunyai badan jasmani yang berukuran tinggi dan besar.
Makhluk Raksasa Asura dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1.      Deva Asura, atau kelompok dewa yang disebut asura.
2.      Peta Asura, atau kelompok setan yang disebut asura.
3.      Niraya Asura, atau kelompok makhluk neraka yang disebut asura.
Kelompok dewa yang disebut Asura atau Deva Asura itu terdiri atas enam jenis, yaitu:
1.      Vepacitti Asura.
2.      Subali Asura.
3.      Rahu Asura.
4.      Pahara Asura.
5.      Sambarati Asura.
6.      Vinipatika Asura.
Dari keenam jenis Deva Asura tersebut, jenis pertama sampai jenis kelima, yaitu Vepacitti Asura, Subali Asura, Rahu Asura, Pahara Asura, dam Sambarati Asura disebut Asura karena tempat tinggalnya di Apāya Bhūmi, jauh dari alam Dewa Tāvatimsa. Deva Asura jenis keenam, yaitu Vinipatika Asura, termasuk makhluk Asura karena ukuran badan jasmani dan tenaganya lebih kecil dari Dewa Tāvatimsa. Makhluk Deva Asura ini bertempat tinggal di hutan, gunung, pohon, rumah, cetiya, vihara dan lain-lain.

Tiracchāna Bhūmi

Tiracchāna berarti bintang. Suatu alam disebut Tiracchāna Bhūmi atau alam binatang, karena makhluk yang berdiam di alam ini tidak mempunyai tempat yang khusus.
Makhluk-makhluk binatang dapat bertumimbal lahir di alam binatang (Tiracchāna Bhūmi) karena mereka telah melakukan perbuatan-perbuatan yang berdasarkan moha atau kebodohan pada kehidupannya yang lampau. Ada pernyataan dalam bahasa Pāli sebagai berikut, Mohena hi niccasammulaha× tiracchanayoniya× upajjanti”, yang berati: Semua makhluk dilahirkan di alam bintang dengan kekuatan moha.
 Ditinjau dari penglihatan mata, makhluk binatang dapat dibagi atas dua kelompok, yaitu:
1.      Kelompok makhluk binatang yang dapat dilihat oleh mata biasa, seperti rusa, kera, gajah, dan lain-lain yang terdapat di kebun binatang dan di tempat-tempat lain.
2.  Kelompok makhluk-makhluk binatang yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa karena binatang tersebut berbadan halus.
 Ditinjau dari kakinya, makhluk binatang dapat dibagi atas empat kelompok, yaitu:
1.  Apadatitiracchāna, atau kelompok makhluk binatang yang tidak mempunyai kaki, seperti ular, ikan, cacing dan lain-lain.
2.   Dvipadatiracchāna, atau kelompok makhluk binatang yang mempunyai dua kaki, seperti ayam, itik, angsa, burung, dan lain-lain.
3.  Catupadatiracchāna, atau kelompok makhluk binatang yang mempunyai empat kaki, seperti kuda, kerbau, kambing, rusa, harimau, anjing, kucing, kelinci, kadal dan lain-lain.
4.      Bahuppadatiracchāna, atau kelompok makhluk binatang yang mempunyai banyak kaki, seperti ulat bulu, lipan, kalajengking, kepiting, laba-laba, dan lain-lain

Kāmasugati Bhūmi

            Kāmasugati Bhūmi merupakan alam kehidupan nafsu yang menyenangkan. Kāmasugati Bhūmi terdiri atas tujuh alam kehidupan, dan dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu:
  1. Manussa Bhūmi atau alam manusia, yang terdiri atas satu alam.
  2. Deva Bhūmi atau alam dewa, yang terdiri atas enam alam.

Manussa Bhūmi

            Manussa berartimanusia. Suatu alam disebut Manussa Bhūmi atau alam manusia karena makhluk yang disebut manusia ini mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, yang berguna dan yang tidak berguna, yang berfaedah dan yang tidak berfaedah, dan lain-lain.
            Makhluk-makhluk dapat bertumimbal lahir di alam manusia karena pada kehidupannya yang lampau, mereka taat terhadap Pancasila Buddhis dan sepuluh Kusala Kammapatha atau sepuluh macam perbuatan baik. Sepuluh Kusala Kammapatha itu dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu Kayasucarita, Vacisucarita, dan Manosucarita.
            Kayasucarita (kusala kaya kamma) berarti perbuatan baik yang dilakukan melalui badan jasmani. Kayasucarita terdiri atas tiga jenis, yaitu:
1.      Panatipata veramani, yang berarti menghindari membunuh.
2.      Adinnadana veramani, yang berarti menghindari mencuri.
3.      Kamesumicchacara veramani, yang berarti menghindari berzinah.

Vacisucarita (kusala vaci kamma) berarti perbuatan baik yang dilakukan melalui ucapan. Vacisucarita terdiri atas empat jenis, yaitu:
1.      Musavada veramani, yang berarti menghindari berdusta.
2.      Pisunaya vacaya veramani, yang berarti menghindari mencuri.
3.      Pharusaya vacaya veramani, yang berarti menghindari bicara kasar.
4.      Samphappalapa veramani, yang berarti menghindari bicara hal-hal yang tidak perlu atau omong kosong.

Manosucarita (kusala mano kamma) berarti perbuatan baik yang dilakukan melalui pikiran. Manosucarita terdiri atas tiga jenis, yaitu:
1.      Anabhijjha, yang berarti tidak mempunyai nafsu serakah.
2.      Abyapada, yang berarti tidak mempunyai dendam atau kemauan jahat.
3.      Samma Ditthi, yang berarti berpandangan benar

Deva Bhūmi.
            Deva Bhūmi terdiri atas enam alam, yaitu:
1.      Cacummaharajika Bhūmi atau alam empat raja dewa.
2.      Tāvatimsa Bhūmi atau alam tiga puluh tiga dewa.
3.      Yāmā Bhūmi atau alam Dewa Yāmā.
4.      Tusitā Bhūmi atau alam kenikmatan.
5.      Nimmānarati Bhūmi atau alam dewa yang menikmati ciptaannya.
6.      Paranimmitavasavatti Bhūmi atau alam dewa yang membantu menyempurnakan ciptaan dari dewa-dewa lainnya.

Deva Bhūmi inilah yang disebut surga dalam agama lain. Namun, kehidupan di alam surga ini bukanlah kehidupan yang kekal menurut agama Buddha. Sebab masih akan ada kehidupan lain setelah kehidupan di alam surga ini berakhir. Makhluk-makhluk yang berdiam di alam surga ini masih dapat terlahir kembali di alam yang lebih rendah kalau karma mengharuskan demikian. Makhluk-makhluk ini juga tidak terlepas dari rantai derita dan samsara (lingkaran kelahiran dan kematian).
Makhluk-makhluk yang berdiam di alam-alam dewa ini lahir secara spontan dan langsung membesar. Mereka yang terlahir secara spontan di pangkuan dewa dianggap sebagai anak dewa. Mereka yang terlahir secara spontan dalam daerah di kediamannya itu dianggap sebagai pelayan dewa. Demikian seterusnya. Jadi makhluk-makhluk dewa ini lahir tidak melalui kandungan, sehingga mereka tidak mengalami masa bayi dan anak-anak. Mereka pun tidak mengalami masa tua. Mereka selalu kelihatan muda terus.
Penampakan dewi akan tetap merupakan penampakan seorang gadis berumur enam belas tahun sepanjang hidupnya, sedangkan seorang dewa mempunyai penampakan seorang pemuda berumur dua puluh tahun. Dewa tidak mengenal ketuaan dalam arti rontoknya gigi atau memutihnya rambut. Hanya pada saat-saat terakhir menjelang kematiannya, tubuhnya yang semula bersinar akan kehilangan cahayanya, merasa lemah dan lelah. Demikian pula dengan tempat kediaman yang semula gelang-gemilang terbuat dari kristal. Sinar gemerlap, akan melenyap tanpa sisa bagaikan sebuah kamper yang terbakar.
Untuk dapat terlahir di alam dewa atau alam surga, manusia itu harus berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. Sekurang-kurangnya mereka harus sering berdana, melaksanakan sila, mengendalikan indriyanya, memiliki hiri (rasa malu untuk berbuat jahat) dan ottappa (rasa takut akan akibat perbuatan jahat), suka mendengarkan Dhamma, belajar Dhamma, mengajar Dhamma, belajar di jalan kesucian, membangun vihara, membangun rumah sakit Buddhis, membangun sekolah Buddhis, dan sebagainya.
Bila seorang ibu mempunyai keinginan untuk mempunyai putra berasal dari alam dewa, maka ibu itu harus memiliki empat sifat mulia. Pertama, seorang ibu harus bijaksana (Medhavini), karena seorang anak yang baik tidak dapat tertarik oleh seorang ibu yang bodoh dan dungu. Kedua, sang ibu harus memiliki sifat-sifat bajik (Silavati). Ketiga, seorang ibu harus memperlakukan keluarga (dari pihak suami) dengan baik (Sasu dewa). Lalu, keempat, sang ibu harus setia dan puas dengan seorang suami (Patibatta). Dengan demikian, pada wanita dengan empat sifat mulia tersebut akan terlahir anak-anak yang baik dan pandai (Sura-konti) dari alam surga. Anak-anak yang baik ini merupakan keberkahan bagi orang tuanya dan negara tempat mereka dilahirkan.

Cātummahārajika Bhūmi

            Cātummahārajika berarti empat raja dewa. Suatu alam disebut Cātummahārajika Bhūmi atau alam empat raja dewa, karena di alam ini berdiam empat raja dewa yang merupakan penjaga empat Penjuru Dunia. Empat raja dewa itu bernama Dāvadhatarattha, Dāvavirulaka, Dāvavirupakkha, dan Dāvakuvera. Cātummahārajika Bhūmi ini merupakan alam dewa tingkat paling rendah di antara alam-alam dewa lainnya. Jika makhluk dewa Cātummahārajika ini melakukan hubungan sex, maka hubungan sexnya itu sama yang dilakukan oleh manusia.
            Para dewa yang berdiam di Cātummahārajika Bhūmi terbagi atas tiga kelompok, yaitu:
1.      Bhumamattha Devata, adalah para dewa yang berdiam di atas tanah, seperti di gunung, sungai, laut, rumah, cetiya, vihara, dan lain-lain.
2.      Rukakhattha Devata, adalah para deva yang berdiam di atas pohon. Dewa ini terbagi atas dua kelompok, yaitu kelompok dewa yang mempunyai kahyangan di atas pohon dan kelompok dewa yang tidak mempunyai kahyangan di atas pohon.
3.      Ākāsattha Devata, adalah para dewa yang berdiam di angkasa, seperti di bulan, bintang, dan planet lain.

Jangka waktu kehidupan di alam dewa Cātummahārajika ini adalah lima ratus tahun dewa, atau yang dalam perhitungan tahun manusia sama dengan sembilan juta tahun. Di dalam kitab suci dijelaskan bahwa jangka waktu lima puluh tahun di alam manusia sama dengan  satu hari satu malam di alam dewa Cātummahārajika. Jangka waktu hidup makhluk dewa Cātummahārajika ini sesungguhnya paling pendek di antara dewa-dewa lainnya. Kehidupan makhluk dewa Cātummahārajika ini juga sesungguhnya paling tidak menyenangkan di antara dewa-dewa lainnya. Makhluk-makhluk  dapat bertumimbal lahir di Cātummahārajika Bhūmi ini karena pada kehidupannya yang lampau, mereka taat melaksanakan Pancasila Buddhis dan melakukan perbuatan-perbuatan baik, tetapi disertai dengan pamrih. Oleh sebab itu, setiap umat Buddha seyogyanya melakukan perbuatan-perbuatan baik dengan hati yang tulus ikhlas (tanpa pamrih)

Tāvatimsa Bhūmi

Tāvatimsa berarti tiga puluh tiga dewa. Suatu alam disebut Tāvatimsa Bhūmi atau alam tiga puluh tiga dewa, karena pada awalnya di alam ini berdiam tiga puluh tiga dewa yang pada kehidupan sebelumnya, mereka adalah sekelompok pria yang berjumlah tiga puluh tiga orang yang selalu bekerja sama dalam berbuat kebaikan, seperti bersama-sama membantu fakir miskin, bersama-bersama membangun vihara, dan lain-lain.
            Makhluk-makhluk dapat bertumimbal lahir di Tāvatimsa Bhūmi ini karena mereka taat melaksakan Pancasila Buddhis dan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang sangat banyak pada kehidupannya yang lampau. Jika makhluk dewa Tāvatimsa ini melakukan hubungan sex, maka hubungan sexnya  itu sama seperti yang dilakukan oleh manusia. Dewa Indra yang dalam agama Buddha disebut Dewa Sakka itu merupakan raja dewa dalam alam dewa Tāvatimsa ini. Raja Dewa Indra atau Dewa Sakka ini juga menguasai alam dewa Cātummahārajika.
            Dalam kitab suci terdapat sebuah kisah nyata tentang seorang dewa yang hidup di Surga Tāvatimsa bersama dengan seribu dewi. Pada suatu pagi, ketika salah seorang dewinya sedang berada di sebuah cabang pohon untuk memetik bunga, tiba-tiba tubuhnya menghilang. Ternyata dewi itu meninggal dari Surga Tāvatimsa dan bertumimbal lahir di alam manusia, di India, di kota Savatthi, sebagai seorang wanita pada sebuah keluarga yang berkasta tinggi. Ia memiliki kemampuan untuk mengingat kembali kehidupannya yang lampau. Ia masih mengingat suaminya yang dahulu, seorang dewa di Surga Tāvatimsa, dan sering memberikan persembahan kepadanya disertai doa agar pada suatu waktu dapat berkumpul kembali dengan suaminya itu.
            Sesuai dengan tradisi di India pada waktu itu, ia menikah pada usia enam belas tahun. Kemudian, ia melahirkan empat orang anak. Ia merawat anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan mendidiknya agar menjadi manusia yang bermoral baik. Ia berusaha melakukan kewajibannya dengan baik. Namun, ia tidak dapat melupakan suaminya yang dahulu. Ia sering memberikan persembahan dan berbicara tentang suaminya yang dahulu walaupun sebenarnya suaminya itu berada di surga.
            Pada suatu waktu, setelah ia hidup di dunia ini selama seratus tahun, ia sakit dan meninggal dunia. Kemudian, ia bertumimbal lahir di hadapan suaminya yang dahulu di surga. Lalu, dewa suaminya itu berkata kepada dewi istrinya, “Kami tidak melihatmu sejak kemarin pagi. Di mana saja kamu berada?”
“Saya terjatuh dari kehidupan ini, Tuanku,” jawab istrinya.
“Apa? Apakah engkau bersungguh-sungguh?”
“Benar, Tuanku.”
“Di mana kamu terlahir?”
“Di Savatthi, pada sebuah keluarga berkasta tinggi.”
“Berapa lama kamu hidup di sana?”
“Seratus tahun. Mula-mula saya berada dalam rahim ibu selama sembilan bulan sepuluh hari. Setelah itu, saya lahir. Kemudian, pada usia enam belas tahun, saya menikah dan mempunyai empat orang anak. Saya suka berdana dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Kina, saya terlahir kembali di alam dewa.”
“Pada umumnya, berapa lama jangka waktu kehidupan manusia itu?”
“Sekitar seratus tahun.”
“Demikian?”
“Ya, Tuanku.”
“Jika kehidupan manusia begitu singkat, apakah manusia melewati waktunya dengan terlena dan seenaknya saja ataukah mereka berdana dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa?”
“Pada umumnya, mereka selalu seenaknya; mereka menganggap bahwa mereka tidak akan tua dan mati.”
            Mendengar jawaban istrinya yang demikian itu, sang dewa menjadi berang dan berkata, “Betapa bodohnya manusia. Mereka dilahirkan hanya untuk kehidupan seratus tahun, tetapi masih juga seenaknya, bermasa bodoh dan terlena sepanjang waktu. Jika demikian, kapan mereka akan terbebas dari penderitaan?”
            Demikian kisahnya. Tampak betapa berbeda perhitungan waktu di alam surga dengan di alam manusia. Jangka waktu puluhan tahun hidup sebagai manusia ternyata lamanya kurang dari satu hari di alam surga. Tepatnya, jangka waktu seratus tahun di alam manusia sama dengan satu  hari satu malam di alam surga Tāvatimsa. Di dalam kitab suci dijelaskan bahwa jangka waktu kehidupan di surga Tāvatimsa adalah seribu tahun surgawi, atau yang dalam perhitungan tahun manusia sama dengan tiga puluh enam juta tahun. Jangka waktu kehidupan di Surga Tāvatimsa ini sama dengan empat kali jangka waktu kehidupan di alam dewa Cātummahārajika.

Yāmā Bhūmi

            Suatu alam disebut Yāmā Bhūmi atau alam dewa Yāmā, karena para dewa yang berdiam di alam ini terbebas dari kesulitan. Para dewa yang berdiam di alam ini selalu hidup dalam kesenangan. Jika makhluk dewa Yāmā ini melakukan hubungan sex, maka hubungannya itu hanya melalui sentuhan dan ciuman.
            Makhluk-makhluk dapat bertumimbal lahir di Yāmā Bhūmi ini karena mereka taat melaksanakan Pancasila Buddhis dan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang sangat banyak pada kehidupannya yang lampau. Jangka waktu kehidupan di alam dewa Yāmā adalah dua ribu tahun surgawi, atau yang dalam perhitungan tahun manusia sama dengan seratus empat puluh empat juta tahun. Jangka waktu kehidupan di alam dewa Yāmā ini sama dengan empat kali jangka waktu kehidupan di alam dewa Tāvatimsa. Di dalam dijelaskan bahwa jangka waktu dua ratus tahun di alam manusia sama dengan satu hari satu malam di alam dewa Yāmā.

Tusitā Bhūmi

            Suatu alam disebut Tusitā Bhūmi atau alam kenikmatan, karena para dewa yang berdiam di alam ini terbebas dari kepanasan hati; yang ada hanya kesenangan dan kenikmatan. Jika makhluk dewa Tusitā ini melakukan hubungan sex, maka hubungannya itu hanya melalui sentuhan tangan.
            Makhluk-makhluk dapat bertumimbal lahir di Tusitā Bhūmi ini karena mereka taat melaksanakan Pancasila Buddhis dan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang sangat banyak pada kehidupannya yang lampau. Jangka waktu kehidupan di alam dewa Tusitā adalah empat ribu tahun surgawi, atau yang dalam perhitungan tahun manusia sama dengan lima ratus tujuh puluh enam juta tahun. Jangka waktu kehidupan di alam dewa Tusitā ini sama dengan empat kali jangka waktu kehidupan di alam dewa Yāmā. Di dalam kitab suci dijelaskan bahwa jangka waktu empat ratus tahun di alam manusia sama dengan satu hari satu malam di alam dewa Tusitā.

Nimmānarati Bhūmi

            Suatu alam disebut Nimmānarati Bhūmi atau alam dewa yang menikmati ciptaannya, karena para dewa yang diam di alam ini menikmati kesenangan panca indriya hasil ciptaannya. Jika makhluk dewa Nimmānarati ini melakukan hubungan sex, maka hubungannya itu hanya melalui melihat dan tersenyum.
            Makhluk-makhluk dapat bertumimbal lahir di Nimmānarati Bhūmi ini karena taat melaksanakan Pancasila Buddhis dan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang sangat banyak pada kehidupannya yang lampau. Jangka waktu kehidupan di alam dewa Nimmānarati adalah delapan ribu tahun surgawi, atau yang dalam perhitungan tahun manusia sama dengan dua ribu tiga ratus empat juta tahun. Jangka waktu kehidupan di Nimmānarati Bhūmi ini sama dengan empat kali jangka waktu kehidupan di alam dewa Tusitā. Di dalam kitab suci dijelaskan bahwa jangka waktu delapan ratus tahun di alam manusia sama dengan satu hari satu malam di alam dewa Nimmānarati.

Paranimmitavasavatti Bhūmi

            Suatu alam disebut Paranimmitavasavatti Bhūmi atau alam dewa yang membantu menyempurnakan ciptaan dewa-dewa lainnya, karena para dewa yang berdiam di alam ini di samping menikmati kesenangan panca indria, juga mampu membantu menyempurnakan ciptaan dewa-dewa lain. Jika makhluk dewa Paranimmitavasavatti ini melakukan hubungan sex, maka hubungan itu hanya melalui pandangan mata.
            Makhluk-makhluk dapat bertumimbal lahir di Paranimmitavasavatti Bhūmi ini karena mereka taat melaksanakan Pancasila Buddhis dan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang sangat banyak pada kehidupannya yang lampau. Jangka waktu kehidupan di alam dewa Paranimmitavasavatti Bhūmi adalah enam belas tahun surgawi, atau yang dalam perhitungan tahun manusia adalah sembilan ribu seratus dua puluh enam juta tahun. Jangka waktu kehidupan di Paranimmitavasavatti Bhūmi ini sam dengan empat kali jangka waktu kehidupan di alam dewa Nimmānarati Bhūmi. Di dalam kitab suci dijelaskan bahwa jangka waktu seribu enam ratus tahun di alam manusia sama dengan satu hari satu malam di alam dewa Paranimmitavasavatti.

Perbedaan Alam Manusia Dengan Alam Dewa

            Alam manusia dan alam dewa termasuk dalam satu kelompok alam yang sama, yaitu alam nafsu yang menyenangkan atau Kāmasugati Bhūmi. Namun, di antara kedua jenis ini terdapat beberapa perbedaan.
            Di alam dewa, makhluk suci atau Ariya Puggalanya lebih banyak dari pada di alam manusia, kemajuan batin para dewa lebih cepat daripada manusia, dan ada beberapa segi kehidupan dewa yang lebih baik daripada manusia. Di alam dewa, Ariya Puggalanya lebih banyak daripada di alam manusia. Sebab, pada jaman Sang Buddha Gotama banyak umat Buddha dan anggota Sangha yang mencapai tingkat-tingkat kesucian seperti Sotapanna, Sakadagami setelah mendengarkan khotbah langsung dari Sang Buddha. Setelah meninggal dunia, mereka bertumimbal lahir di alam dewa sebagai Ariya Puggala. Di alam dewa, kemajuan batin para dewa lebih cepat daripada manusia. Sebab bagi dewa-dewa yang belum mencapai kesucian, bila mereka mempunyai waktu untuk mendengarkan dan melaksanakan Dhamma dan Vinaya, maka mereka akan mencapai tingkat-tingkat kesucian dalam waktu yang singkat.
            Alam manusia juga mempunyai keistimewaan yang tidak terdapat di alam dewa, yaitu di alam manusia ada sangha atau persaudaraan para bhikkhu, ada yang belajar dan belajar Tripitaka. Sedangkan, di alam dewa tidak ada sangha dan tidak ada yang mengajar Tripitaka. Para Bodhisatva yang ingin meneruskan Dasa Paramita atau sepuluh macam kesempurnaan perbuatan baik sehingga dapat mencapai tingkat kebuddhaan, sebagian besar lahir di alam manusia ini.


            

7 komentar:

  1. Terima kasih ^o^

    BalasHapus
  2. Really Nice Blog ^^
    Thanks for the information ,it's really helpful :)

    BalasHapus
  3. Sabbe damma ananta ........ Waw, good dhamma ! Ada kah yang lebih menarik gak, misal cerita dan jalan untuk menggapai parinirwana yaitu kebahagiaan sejati ? Please Share to me if you know that ..... Sabbe satta Sabbe sadda pamachantu ....... sabbe Satta Bhavanthu sukhi tatta om sadu sadu sadu


    BalasHapus
  4. Numpang Promo ya ^^
    MetroQQ.poker Situs Poker & Domino Online
    Bonus New Member 5%
    Bonus Deposit 3%
    Bonus Referral 20%
    Bonus TurnOver Up To 0,5%
    Game : Poker,DominoQQ,BandarQ,Sabung Ayam dan Joker
    Gabung yuuk Min DP:20rb Min : 50rb
    www.MetroQQ.poker Terima Kasih yaa ^^

    BalasHapus
  5. Bagus skl ulasannya. Jelas dan enak dibaca. Sy baca dr awal sampai akhir. Tq atas sharing dharmanya ya

    BalasHapus
  6. Ini sumbernya dari mana ya? apa benar dewa/i masi berhubungan sex?

    BalasHapus