Selasa, 21 Februari 2012

KITAB SUCI ABHIDHAMMA PITAKA I

Pengertian Abhidhamma.
Abhidhamma yang merupakan istilah Pali ini sesungguhnya terdiri atas dua kata, yaitu "Abhi" yang berarti halus atau tinggi dan "Dhamma" yang berarti kebenaran atau pelajaran dari Sang Buddha. Jadi, Abhidhamma sebagai istilah (bahasa Pali) berarti Ajaran Tertinggi atau Luhur dari Sang Buddha.
Sebagai Ajaran Tertinggi, Abhidhamma memungkinkan seseorang untuk mencapai Pembebasan Mutlak dari  segala bentuk penderitaan karena Abhidhamma sangat berguna dalam usaha mengembangkan Pandangan Terang (Vipassana). Dengan mempelajari Abhidhamma secara tekun akan timbullah suatu dorongan untuk melatih diri dalam melaksanakan meditasi Vipassana. Dengan melatih Vipassana akan berkembanglah Pandangan Terang dalam dirinya. Dengan berkembangnya Pandangan Terang akan tercapailah Pembebasan Mutlak atau Nibbāna yang merupakan tujuan terakhir umat Buddha. Jadi, Abhidhamma dikatakan sebagai Ajaran Tertinggi (Paramattha Dhamma) karena Abhidhamma hanya membahas hal-hal yang berhubungan dengan Pembebasan. Dalam Abhidhamma, terutama Abhidhammatthasangaha, hal-hal yang tidak berhubungan dengan Pembebasan, walaupun menarik, tidak diuraikan. Masalah-masalah yang menarik perhatian umat manusia tetapi tidak relevan dan tidak berkaitan dengan jalan kesucian disisihkan dengan penuh pertimbangan.
Sebagai Ajaran Tertinggi, Abhidhamma juga melebihi yang terdapat dalam Sutta Pitaka dan Vinaya Pitaka. Dalam Sutta Pitaka dan Vinaya Pitaka, Sang Buddha menggunakan istilah-istilah konvensional seperti manusia, binatang, benda-benda, dan sebagainya. Di dalam Sutta Pitaka, wacana-wacana (khotbah-khotbah) diuraikan dengan cara yang lebih sederhana dan bersifat menerangkan. Sebaliknya, dalam Abhidhamma Pitaka, segala sesuatu dianalisis secara teliti dan digunakan istilah-istilah yang abstrak seperti kelompok kehidupan (khandha), unsur (dhātu), landasan (āyatana), dan sebagainya.
Abhidhamma mempelajari segala sesuatu lebih mendalam dalam pengertian Paramattha Dhamma (Paramattha Sacca). Menurut Paramattha Sacca atau Kebenaran Tertinggi, segala sesuatu yang ada itu hanyalah bentuk unsur-unsur materi atau rūpa dan unsur-unsur batin atau nāma (citta dan cetasika). Apa yang dianggap diri atau seseorang itu hanyalah perubahan gejala nāma dan rūpa. Setiap gejala itu tidak kekal. Ia muncul dan kemudian lenyap lagi dengan segera. Gejala-gejala itu bukan suatu 'diri', bukan milik suatu 'diri', dan gejala-gejala tersebut adalah 'tanpa aku' atau anatta.
Berbicara masalah Kebenaran atau Sacca, terdapat dua jenis Sacca atau Kebenaran yang diajarkan oleh Sang Buddha, yaitu:
1.      Sammutti Sacca, berarti kebenaran konvensional umum, kebenaran relative kebenaran yang biasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Paramattha Sacca, berarti kebenaran tertinggi, kebenaran mutlak, kebenaran terakhir.
Kebenaran konvensional adalah kebenaran dengan istilah-istilah umum yang digunakan oleh sebagian besar orang, seperti: 'diri ada', 'manusia ada', 'para dewa ada', 'gajah ada', 'kepalaku ada', jiwa yang hidup ada', dan seterusnya.
Kebenaran konvensional ini merupakan kebalikan dari ketidakbenaran. Bukanlah kedustaan atau ketidakbenaran kalau orang berkata: "mungkin ada satu diri atau jiwa hidup yang kekal, langgeng, yang tidak muncul ataupun lenyap sementara sepanjang satu kehidupan" karena ini merupakan cara berbicara biasa dari kebanyakan orang yang tidak bermaksud apapun untuk membohongi orang lain. Namun, menurut kebenaran mutlak, ini dianggap sebagai Vipallasa atau khayalan yang secara keliru memandang ketidakkekalan sebagai kekekalan dan tanpa aku sebagai aku. Selama pandangan keliru ini tak terhilangkan, seseorang tidak pernah lepas dari Samsara atau roda kehidupan.
Kebenaran yang terakhir adalah kebenaran yang mutlak dari pernyataan atau pengingkaran yang penuh dan sempurna, sesuai dengan kenyataan yang merupakan dasar atau sifat aslinya dari semua bentuk-bentuk, seperti: 'tidak ada manusia', 'tidak ada dewa', 'tidak ada aku', 'tidak ada tangan', 'tidak ada anggota badan', dan lain-lain. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan kalimat 'tidak ada aku atau tidak ada jiwa' adalah tidak ada sesuatu atau suatu kesatuan, seperti benda atau jiwa, yang dapat tinggal terus dengan tanpa mengalami perubahan, atau tidak timbul dan lenyap setiap saat selama ia dalam keadaan yang disebut hidup. Dalam pernyataan 'tidak ada makhluk dan lain-lain, yang dimaksudkan adalah sebenarnya tidak ada bentuk kehidupan yang kekal, melainkan yang ada ialah bentuk unsur-unsur materi dan unsur-unsur batin. Unsur-unsur ini bukanlah            makhluk atau pribadi, bukan pula dewa, binatang, dan lain-lain. Oleh sebab itu, tidak ada makhluk atau pribadi yang terpisah sendiri dari unsur-unsur itu.

Isi Abhidhamma Pitaka.
Abhidhamma Pitaka berisi uraian mengenai filsafat, metafisika, dan ilmu jiwa Buddha Dhamma. Abhidhamma Pitaka terdiri atas 42.000 Dhammakkhandha atau pokok Dhamma dan dibagi menjadi tujuh kitab, yaitu:
1.      Dhammasangani, menguraikan perincian Paramattha Dhamma, yaitu etika atau sari batin.
2.      Vibhanga, menguraikan pembagian Paramattha Dhamma yang terdapat dalam buku Dhammasangani.
3.      Dhatukatha, menguraikan unsur-unsur batin dari Paramattha Dhamma.
4.      Puggalapannatti, menguraikan tentang pannatti, puggala, dan Paramattha.
5.      Kathavatthu, menguraikan Paramattha Dhamma dalam bentuk tanya jawab.
6.      Yamaka, menguraikan Paramattha Dhamma secara berpasangan.
7.      Patthana, menguraikan dua puluh empat paccaya (hubungan-hubungan antara batin dan jasmani).
Untuk jelasnya garis besar isi buku-buku ini akan diuraikan satu persatu.
1.      Dhammasangani (Perincian Dhamma)
Buku ini terbagi dalam empat bab, yaitu: Citta (kesadaran), Rūpa (materi), Nikkhepa (ringkasan) dan Atthuddhara (penjelasan).
2.      Vibhanga (Pembagian)
Buku ini terdiri atas delapan belas bagian. Tiga bagian yang pertama tentang Khandha (kelompok kehidupan), Āyatana (landasan indriya), dan Dhātu (unsur), adalah yang terpenting. Bab-bab lainnya adalah tentang Sacca (kebenaran), Indriya (pengendalian indriya), Paccayakara (asal muasal penyebab), Satipatthana (dasar-dasar perhatian), Sammappadhana (usaha tertinggi), Iddhipada (makna pencapaian), Bojjhanga (faktor kebijaksanaan), Jhana (pencerapan), Appamanna (tidak terbatas), Magga (jalan), Sikkhapada (latihan), Patisambhida (pengetahuan analitis), Nana (kebijaksanaan), Khuddhakavatthu (pokok kecil), dan Dhammahadaya (intisari kebenaran).
3.      Dhatukatha (pembahasan mengenai unsur)
Buku ini membahas apakah Dhamma termasuk atau tidak, berhubungan dengan, atau terlepas dari Khandha (kelompok kehidupan), Āyatana (landasan), dan Dhātu (unsur). Buku ini terdiri atas empat belas bab.
4.      Puggalapannatti (penjelasan mengenai orang-orang)
Dalam cara menerangkan, buku ini menyerupai Anguttara Nikaya dari Sutta Pitaka. Buku ini menerangkan berbagai jenis orang. Buku ini terdiri atas sepuluh bab. Bab pertama berisi tentang perseorangan tunggal; yang kedua tentang pasangan; yang ketiga tentang kelompok tiga; dan sebagainya.
5.      Kathavatthu (pokok-pokok pembahasan)
Penghimpun pokok-pokok ajaran ini dianggap adalah Yang Ariya Tissa Moggaliputta Thera, yang hidup pada zaman Raja Dhammasoka. Beliaulah yang menjadi ketua Sanghasamaya Ketiga yang diadakan di Pataliputta (Patna) pada abad ketiga sebelum masehi. Karya Beliau dimasukkan dalam Abhidhamma Pitaka pada Konsili tersebut. Buku ini terbagi menjadi 23 bab dan berisikan 216 pembahasan.
6.      Yamaka (kitab pasangan)
Disebut demikian karena cara penguraiannya. Dalam buku ini, suatu pertanyaan dan kebalikannya dikelompokkan. Buku ini terbagi menjadi sepuluh bab, yaitu Mula (akar), Khandha (kelompok kehidupan), Āyatana (landasan), Dhātu (unsur), Sacca (kebenaran), Saºkhāra (benda yang tercipta), Anusaya (kecenderungan yang tersembunyi), Citta (kesadaran), Dhamma, dan Indriya (pengendalian indriya).
7.      Patthana (kitab hubungan)
Buku inilah yang terpenting dan terpanjang dalam Abhidhamma Pitaka. Orang yang dengan sabar membacanya (tidak dapat tidak) akan mengagumi kebijaksanaan sempurna dan pandangan yang mendalam dari Sang Buddha. Istilah Patthana berasal dari "pa" (berbagai) dan "thana" (hubungan atau keadaan/paccaya). Disebut demikian karena menguraikan dua puluh empat cara hubungan sebab, Tika (kelompok tiga), dan Duka (kelompok dua) yang sudah diterangkan dalam Dhammasangani. Buku ini disebut pula Maha Pakarana (Buku Besar).

Hubungan Abhidhamma dengan Pañcakkhandha.
Jika Pañcakkhandha itu dihubungkan dengan Abhidhamma, maka:
1.      Rūpakkhandha adalah rupa yang terdiri atas dua puluh delapan macam.
2.      Vedanakkhandha adalah vedanā cetasika.
3.      Saññakkhandha adalah Saññā cetasika.
4.      Saºkhārakkhandha adalah cetasika yang terdiri atas lima puluh macam (tidak termasuk vedanā cetasika dan Saññā cetasika).
5.      Viññāöakkhandha adalah citta yang terdiri atas delapan puluh sembilan atau seratus dua puluh satu macam.
Vedanakkhandha, saññakkhandha, dan saºkhārakkhandha merupakan cetasika atau bentuk-bentuk batin yang berjumlah lima puluh dua macam. Cetasika selalu mengikuti citta atau kesadaran, bagaikan bayangan suatu benda yang tidak pernah terpisah dari bendanya. Tidak ada citta yang timbul tanpa cetasika. Citta dan cetasika merupakan namakkhandha atau kelompok batin. Jika seseorang mengalami kematian, maka rupakkhandha atau kelompok jasmaninya terpisah dari namakkhandha atau kelompok batinnya. Pada saat itu, cittanya padam yang diikuti pula oleh padamnya cetasika. Citta ini kemudian langsung bertumimbal lahir lagi di alam-alam lain sesuai dengan karmanya. Pada saat citta ini muncul lagi, cetasika pun ikut muncul, disertai pula terbentuknya jasmani baru. Jadi, jasmani lama yang sudah ditinggalkan itu tidak akan digunakan lagi.
Sebaliknya, manusia yang masih hidup tentu mempunyai rupa dan nama. Manusia yang masih hidup mempunyai pikiran sehingga ia dapat berbuat baik maupun jahat. Manusia yang masih hidup pasti mempunyai kesadaran, walaupun pada saat ia sedang tidur. Ia mempunyai Pañcakkhandha. Pañcakkhandha dicengkeram oleh tilakkhana atau tiga corak umum yang terdiri atas anicca atau ketidakkekalan, dukkha atau penderitaan, dan anatta atau tanpa aku yang kekal. Dengan demikian, Pañcakkhandha itu selalu berubah-ubah. Tidak ada sesuatu yang kekal dalam diri manusia, baik jasmani maupun batinnya. Jasmani manusia selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu, sejak ia dilahirkan hingga meninggal dunia. Karena selalu berubah-ubah, maka manusia mengalami ketidakpuasan atau penderitaan. Batin manusia pun selalu berubah-ubah. Karena selalu berubah-ubah, maka tidak ada aku atau jiwa yang kekal dalam diri manusia.

Pengertian Kamavacara Citta
Kamavacara Citta yang merupakan istilah Pali ini sesungguhnya terdiri atas tiga kata, yaitu "kāma" yang berarti nafsu indera atau dimaksudkan pula dengan sebelas alam indriawi, "avacara" yang berarti berkelana atau berdiam, dan "citta" yang berarti kesadaran atau pikiran. Jadi, Kamavacara Citta berarti kesadaran atau pikiran yang berkelana di sebelas alam indriawi (sebelas Kāma Bhūmi).
Kāma Bhūmi merupakan alam kehidupan yang makhluknya masih senang dengan nafsu indera dan terikat dengan panca indera. Kāma Bhūmi terdiri atas sebelas alam kehidupan, yang dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu:
1.      Apāya Bhūmi atau Dugati Bhūmi, adalah alam kehidupan yang menyedihkan, yang terdiri atas empat alam, yaitu alam neraka, alam setan, alam raksasa asura, dan alam binatang.
2.      Kāmasugati Bhūmi, adalah alam nafsu yang menyenangkan, yang terdiri atas tujuh alam, yaitu alam manusia dan enam alam dewa (Cātummahārajika-Bhūmi, Tāvatimsa Bhūmi, Yāmā Bhūmi, Tusitā Bhūmi, Nimmānarati-Bhūmi, dan Paranimmita-vasavatti Bhūmi).

Pembagian Kāmāvacara Citta
Kāmāvacara Citta atau Kama Citta berjumlah lima puluh empat jenis. Untuk mempermudah mempelajarinya, Kāmāvacara Citta dibagi dalam tiga kelompok, yaitu:
1.      Akusala Citta, yang terdiri atas dua belas jenis.
2.      Ahetuka Citta, yang terdiri atas delapan belas jenis.
3.      Kāmāvacara Sobhana Citta, yang terdiri atas dua puluh empat jenis.

Pengertian Akusala Citta
Akusala Citta berarti kesadaran atau pikiran yang tidak baik atau amoral. Kesadaran atau pikiran ini bersekutu dengan Akusala Cetasika atau bentuk-bentuk batin yang tidak baik. Kesadaran atau pikiran ini timbul dari lobha atau keserakahan, dosa atau kebencian, dan moha atau kebodohan. Lobha timbul karena indera mencerap objek yang baik, dosa timbul karena indera mencerap objek yang tidak baik, sedangkan moha timbul karena adanya ayonisomanasikara yang berarti pertimbangan yang tidak sedetil-detilnya terhadap sesuatu, sehingga tidak dapat mengetahui sesuatu itu dengan sewajarnya.
Pengelompokan Akusala Citta
Akusala Citta berjumlah dua belas jenis. Berdasarkan akusala mula, Akusala Citta dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu:
1.      Lobhamula Citta, yang terdiri atas delapan jenis.
2.      Dosamula Citta, yang terdiri atas dua jenis.
3.      Mohamula Citta, yang terdiri atas dua jenis.
1.      Lobhamula Citta
Lobhamula Citta berarti kesadaran atau pikiran yang berakar pada lobha. Lobha mula Citta terdiri atas delapan jenis, yaitu:
1.      Somanassa sahagata× dithigatasampayutta× asankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai kesenangan, bersekutu dengan pandangan salah.
2.      Somanassa sahagata× dithigatasampayutta× sasankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kesenangan, bersekutu dengan pandangan salah.
3.      Somanassa sahagata× dithigatasampayutta× asankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai kesenangan, tidak bersekutu dengan pandangan salah.
4.      Somanassa sahagata× dithigatasampayutta× sasankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kesenangan, tidak bersekutu dengan pandangan salah.
5.      Upekkhāsahagata× dithigatasampayutta× asankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai kemasabodohan, bersekutu dengan pandangan salah.
6.      Upekkhāsahagata× dithigatasampayutta× sasankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kemasabodohan, bersekutu dengan pandangan salah.
7.      Upekkhāsahagata×dithigatasampayutta× asankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai kemasabodohan, tidak bersekutu dengan pandangan salah.
8.      Upekkhāsahagata× dithigatasampayutta× sasankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kemasabodohan, tidak bersekutu dengan pandangan salah.
2.      Dosamula Citta
Dosamula Citta berarti kesadaran atau pikiran yang berakar pada dosa. Dosamula Citta terdiri atas dua jenis, yaitu:
1.      Domanassasahagata× pa ighasampayutta× asakhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai ketidaksenangan, bersekutu dengan dendam.
2.      Domanassasahagata× patighasampayutta× sasankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai ketidaksenangan, bersekutu dengan dendam.
3.      Mohamula Citta
Mohamula Citta berarti kesadaran atau pikiran yang berakar pada moha. Mohamula Citta terdiri atas dua jenis, yaitu:
1.      Upekkhāsahagata× vicikicchāsampayutta×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul disertai kemasabodohan, bersekutu dengan keragu-raguan.
2.      Upekkhāsahagata× uddhaccasampayutta×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul disertai kemasabodohan, bersekutu dengan kegelisahan.
Pengertian Ahetuka Citta
Ahetuka Citta berarti kesadaran atau pikiran yang tidak bersekutu dengan sebab atau hetu karena kesadaran atau pikiran ini merupakan hasil atau akibat dari perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan pada masa yang lampau. Ahetuka Citta merupakan kesadaran atau pikiran yang tidak mempunyai enam sebab atau enam hetu. Enam sebab atau enam hetu ini dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu:
1.      Akusalahetu atau sebab kejahatan, yang terdiri atas lobha hetu, dosa hetu, dan moha hetu.
2.      Kusalahetu atau sebab kebaikan, yang terdiri atas alobha hetu, adosa hetu, dan amoha hetu.

Pengelompokan Ahetuka Citta
Ahetuka Citta berjumlah delapan belas jenis. Ke delapan belas jenis Ahetuka Citta ini termasuk Asankhārika, yaitu timbulnya tanpa ajakan karena kesadaran atau pikiran ini merupakan vipaka atau hasil. Ahetuka Citta terbagi atas tiga kelompok, yaitu:
1.      Akusala Vipaka Citta , yang terdiri atas tujuh jenis.
2.      Ahetuka Kusala Vipaka Citta, yang terdiri atas delapan jenis.
3.      Ahetuka Kiriya Citta, yang terdiri atas tigaj jenis.
1.      Akusala Vipaka Citta
Akusala Vipaka Citta berarti kesadaran atau pikiran yang menjadi hasil atau akibat dari akusala kamma atau perbuatan yang tidak baik. Akusala kamma timbul dari akusala citta. Akusala citta setiap jenis disekutui oleh uddhacca atau kegelisahan. Dengan adanya uddhacca atau kegelisahan, kesadaran atau pikiran menjadi tidak kuat memegang objek. Akibatnya, akusala-cetana atau kehendak jahat yang bersekutu dengan hetu atau sebab itu menjadi lemah tenaganya dan tidak mampu memberikan hasil atau akibat. Akusala kamma itu mempunyai tenaga yang lemah dan memberikan hasil atau akibat hanya dalam bagian 'Ahetuka Citta'. Jadi di sini, tidak penting harus dipanggil 'Ahetuka Akusala Vipaka Citta', tetapi cukup dipanggil Akusala Vipaka Citta' saja.
Akusala Vipaka Citta terdiri atas tujuh jenis, yaitu:
1.      Upekkhāsahagata× cakkhuviññāna×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul karena indera mata melihat objek bentuk (yang tidak baik), disertai kemasabodohan.
2.      Upekkhāsahagata× sotaviññāna×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul karena indera telinga mendengar objek suara (yang tidak baik), disertai kemasabodohan.
3.      Upekkhāsahagata× ghaöaviññāna×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul karena indera hidung mencium objek bau (yang tidak baik), disertai kemasabodohan.
4.      Upekkhāsahagata× jivhāviññāna×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul karena indera lidah mencicip objek rasa (yang tidak baik), disertai kemasabodohan.
5.      Dukkhāsahagata× kāyaviññāna×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul karena indera badan jasmani merasakan objek sentuhan (yang tidak baik), disertai kesakitan.
6.      Upekkhāsahagata× sampaticchanacitta×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang menerima lima objek (yang tidak baik) hasil cerapan panca indera, disertai kemasabodohan.
7.      Upekkhāsahagata× santiranacitta×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang memeriksa lima objek (yang tidak baik) hasil cerapan panca indera, disertai kemasabodohan.

2.      Ahetuka Kusala Vipaka Citta
Ahetuka Kusala Vipaka Citta berarti kesadaran atau pikiran yang menjadi hasil atau akibat dari kusala kamma atau perbuatan baik yang telah dilakukan pada masa yang lampau. Ahetuka Kusala Vipaka Citta merupakan hasil atau akibat dari kesadaran atau pikiran baik yang tidak bersekutu dengan sebab. Kesadaran atau pikiran ini mempunyai kusala-cetana atau kehendak baik yang bertenaga lemah (kebaikan yang dilakukan tidak dengan sepenuh hati).
Ahetuka Kusala Vipaka Citta terdiri atas delapan jenis, yaitu:
1.      Upekkhāsahagata× cakkhuviññāna×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul karena indera mata melihat objek bentuk (yang baik), disertai kemasabodohan.
2.      Upekkhāsahagata× sotaviññāna×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul karena indera telinga mendengar objek suara (yang baik), disertai kemasabodohan.
3.      Upekkhāsahagata× ghanaviññāna×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul karena indera hidung mencium objek bau (yang baik), disertai kemasabodohan.
4.      Upekkhāsahagata× jivhāviññāna×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul karena indera lidah mencicip objek rasa (yang baik), disertai kemasabodohan.
5.      Sukhasahagata× kāyaviññāna×, yang berarti kesadaran atau, pikiran yang timbul karena indera badan jasmani merasakan objek sentuhan (yang baik), disertai kesenangan.
6.      Upekkhāsahagata× sampaticchanacitta×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang menerima lima objek (yang baik) hasil cerapan panca indera, disertai kemasabodohan.
7.      Upekkhāsahagata× santiranacitta×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang memeriksa lima objek (yang baik) hasil cerapan panca indera, disertai kemasabodohan.
8.      Somanassasahagata× santiranacitta×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang memeriksa lima objek (yang baik) hasil cerapan panca indera, disertai kesenangan.
3.      Ahetuka Kiriya Citta
Ahetuka Kiriya Citta berarti kesadaran atau pikiran tidak berakibat yang tidak bersekutu dengan sebab. Kesadaran atau pikiran ini bukan hasil atau akibat dari yang jahat maupun yang baik, pun bukan merupakan kesadaran atau pikiran yang menjadi diri kusala atau akusala. Kesadaran atau pikiran ini berbuat menurut kewajiban pekerjaan dari diri sendiri. Kesadaran atau pikiran ini tidak mampu menimbulkan hasil atau akibat yang baik maupun yang jahat. Namun, jika kesadaran atau pikiran kepunyaan Arahat melakukan berbagai macam pekerjaan menjadi kiriya citta yang bersekutu dengan hetu atau sebab, maka kesadaran ini disebut Sahetuka Kiriya Citta atau Maha Kiriya Citta yang terdiri atas delapan jenis. Jadi, kiriya citta itu ada dua bagian, yaitu Ahetuka Kiriya Citta dan Sahetuka Kiriya Citta.
Ahetuka Kiriya Citta terdiri atas tiga jenis, yaitu:
1.      Upekkhāsahagata× pañcadvārāvajjanacitta×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang menyelidiki objek dari lima pintu indera, disertai kemasabodohan (tidak terikat dengan keadaan ini). Kesadaran atau pikiran ini timbul untuk melaksanakan kewajiban bekerja dalam penerimaan objek waktu sekarang melalui lima pintu indera.
2.      Upekkhāsahagata× manodvārāvajanacitta×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang menyelidiki objek dari hati sanubari, disertai kemasabodohan (tidak terikat dengan keadaan ini). Kesadaran          atau pikiran ini berkewajiban untuk memberikan keputusan terhadap lima objek dari hati sanubari.
3.      Somanassasahagata× hasituppādacitta×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang menimbulkan senyum dari seorang arahat, disertai kesenangan.
Pengertian Kamavacara sobhana Citta
Kamavacara-sobhana Citta berarti kesadaran atau pikiran baik yang pada umumnya terdapat pada makhluk-makhluk yang berdiam di Kāma Bhūmi. Kesadaran atau pikiran baik ini berjumlah dua puluh empat jenis. Untuk makhluk-makhluk yang belum mencapai kesucian, kesadaran atau pikiran baik ini dinamakan Maha Kusala Citta. Sedangkan, kesadaran atau pikiran baik yang timbul pada arahat dinamakan Maha Kiriya Citta. Dalam Kamavacara-sobhana Citta ini juga terdapat Maha Vipaka Citta yang merupakan Patisandhi Citta.

Pengelompokan Kamavacara sobhana Citta
Kamavacara-sobhana Citta berjumlah dua puluh empat jenis yang terbagi atas tiga kelompok, yaitu:
1.      Mahakusala Citta, yang terdiri atas delapan jenis.
2.      Mahavipaka Citta, yang terdiri atas delapan jenis.
3.      Mahakiriya Citta, yang terdiri atas delapan jenis.

Mahakusala Citta
Mahakusala Citta berarti kesadaran atau pikiran yang maha baik. Kesadaran atau pikiran ini dapat timbul pada tiga puluh alam kehidupan (tidak termasuk alam Asannasatta karena makhluk yang berdiam di alam ini tidak mempunyai citta dan juga cetasika). Jadi, makhluk-makhluk yang berdiam di alam Apāya pun dapat mengembangkan mahakusala-citta jika mereka memang mau mengembangkannya. Misalnya, pada saat seekor anjing sedang menolong majikannya dari bahaya yang mengancam atau pada saat seekor induk macan sedang melindungi anak-anaknya dari bahaya dengan penuh kasih sayang.

Mahakusala-Citta terdiri atas delapan jenis, yaitu:
1.      Somanassasahagata× ñānasampayutta× asankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai kesenangan, bersekutu dengan pengetahuan.
2.      Somanassasahagata× ñānasampayutta× sasankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kesenangan, bersekutu dengan pengetahuan.
3.      Somanassasahagata× ñānavippayutta× asankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai kesenangan, tidak bersekutu dengan pengetahuan.
4.      Somanassasahagata× ñānavippayutta× sasankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kesenangan, tidak bersekutu dengan pengetahuan.
5.      Upekkhāsahagata× ñānasampayutta× asankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai kemasabodohan, bersekutu dengan pengetahuan.
6.      Upekkhāsahagata× ñānasampayutta× sasankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kemasabodohan, bersekutu dengan pengetahuan.
7.      Upekkhāsahagata× ñānavippayutta× asankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai kemasabodohan, tidak bersekutu dengan pengetahuan.
8.      Upekkhāsahagata× ñānavippayutta× asankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kemasabodohan, tidak bersekutu dengan pengetahuan.


Mahavipaka Citta
Mahavipaka Citta berarti kesadaran atau pikiran yang menjadi hasil atau akibat dari Mahakusala Citta (yang dilakukan tanpa pamrih). Mahavipaka Citta merupakan Patisandhi Citta karena kesadaran atau pikiran ini menjalankan tugas tumimbal lahir (di alam manusia dan enam alam dewa). Mahavipaka Citta terdiri atas delapan jenis, yaitu:
1.      Somanassasahagata× ñānasampayutta× asankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai kesenangan, bersekutu dengan pengetahuan.
2.      Somanassasahagata× ñānasampayutta× sasankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kesenangan, bersekutu dengan pengetahuan.
3.      Somanassasahagata× ñānavippayutta× asankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai kesenangan, tidak bersekutu dengan pengetahuan.
4.      Somanassasahagata× ñānavippayutta× sasankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kesenangan, tidak bersekutu dengan pengetahuan.
5.      Upekkhāsahagata× ñānasampayutta× asankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai kemasabodohan, bersekutu dengan pengetahuan.
6.      Upekkhāsahagata× ñānasampayutta× sasankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kemasabodohan, bersekutu dengan pengetahuan.
7.      Upekkhāsahagata× ñānavippayutta× asankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai kemasabodohan, tidak bersekutu dengan pengetahuan.
8.      Upekkhāsahagata× ñānavippayutta× sasankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kemasabodohan, tidak bersekutu dengan pengetahuan.

Mahakiriya Citta
Mahakiriya Citta berarti kesadaran atau pikiran yang bukan kusala, bukan akusala, dan bukan vipaka, hanya merupakan kesadaran atau pikiran yang bertugas menerima objek melalui enam pintu indera. Karena kesadaran atau, pikiran ini timbul khusus kepada arahat, maka kesadaran atau pikiran ini terbebas dari akibat pada masa yang akan datang. Mahakiriya Citta terdiri atas delapan jenis, yaitu:
1.      Somanassasahagata× ñānasampayutta× asankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai kesenangan, bersekutu dengan pengetahuan.
2.      Somanassasahagata× ñānasampayutta× sasankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kesenangan, bersekutu dengan pengetahuan.
3.      Somanassasahagata× ñānavippayutta× asankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai kesenangan, tidak bersekutu dengan pengetahuan.
4.      Somanassasahagata× ñānavippayuta× sasankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kesenangan, tidak bersekutu dengan pengetahuan.
5.      Upekkhāsahagata× ñānasampayutta× asankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai kemasabodohan, bersekutu dengan pengetahuan.
6.      Upekkhāsahagata× ñānasampayutta× sasankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kemasabodohan, bersekutu dengan pengetahuan.
7.      Upekkhāsahagata× ñānavippayutta× asankharika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul tanpa ajakan, disertai kemasabodohan, tidak bersekutu dengan pengetahuan.
8.      Upekkhāsahagata× ñānavippayutta× sasankhārika×, yang berarti kesadaran atau pikiran yang timbul dengan ajakan, disertai kemasabodohan, tidak bersekutu dengan pengetahuan.

Pengertian Rupavacara Citta
Rupavacara Citta berarti kesadaran atau pikiran yang mencapai objek dari Rupa-jhana. Kesadaran atau pikiran ini berkelana di Rupa Bhumi. Rupa Bhumi merupakan alam kehidupan yang makhluk
Makhluknya mempunyai rupa jhana. Rupa Bhumi terdiri atas enam belas alam, yang terbagi atas empat kelompok, yaitu:
1.      Pathama Jhana Bhumi atau alam jhana tingkat pertama, yang terdiri atas tiga alam, yaitu Brahma Parisajja Bhumi, Brahma Purohita Bhumi, dan Maha Brahma Bhumi.
2.      Dutiya Jhana Bhumi atau alam jhana tingkat kedua, yang juga terdiri atas tiga alam, yaitu Brahma Parittabha Bhumi, Brahma Appamanabha Bhumi, dan Brahma Abhassara Bhumi.
3.      Tatiya Jhana Bhumi atau alam jhana tingkat ketiga, yang juga terdiri atas tiga alam, yaitu Brahma Parittasubha Bhumi, Brahma Appamanasubha Bhumi, dan Brahma Subhakinha Bhumi.
4.      Catuttha Jhana Bhumi atau alam jhana tingkat keempat, yang terdiri atas tujuh alam, yaitu Brahma Vehapphala Bhumi, Brahma Asannasatta Bhumi, dan lima alam Suddhavasa (Brahma Aviha Bhumi, Brahma Atappa Bhumi, Brahma Sudassa Bhumi, Brahma Sudassi Bhumi, dan Brahma Akanittha Bhumi).
Menurut Sutta Pitaka, terdapat delapan tingkat jhana yang terdiri atas empat tingkat rupa jhana dan empat tingkat arupa jhana. Sedangkan, menurut Abhidhamma Pitaka, terdapat sembilan tingkat jhana yang terdiri atas lima tingkat rupa jhana dan empat tingkat arupa jhana. Jadi, dalam Sutta dan Abhidhamma terdapat perbedaan tingkat rupa jhananya. Perbedaan ini muncul karena dalam Abhidhamma, hal ini disesuaikan menurut keadaan, menurut bagian, dan jumlah kesadaran yang berada dalam rupavacara-citta, karena kesadaran dari manda puggala (orang yang kurang cerdas) tidak dapat melihat kekotoran dari vitakka dan vicara kedua-duanya ini sekaligus dalam waktu yang sama, hanya dapat membuang "keadaan batin" satu persatu, yaitu dutiya-jhana (jhana tingkat kedua) membuang vitakka, dan tatiya-jhana (jhana tingkat ketiga) membuang vicara. Namun, dalam Sutta Pitaka, hal ini disesuaikan dengan kesadaran yang dimiliki oleh tikkha puggala (orang yang cerdas), yang mana ia mampu menyelidiki dan melihat kekotoran dari vitakka dan vicara sekaligus. Karena itu, dalam Sutta Pitaka, rupa-jhana mempunyai empat tingkatan.

Pembagian Rupavacara Citta
Rupavacara Citta berjumlah lima belas jenis yang terbagi atas tiga kelompok, yaitu:
1.      Rupavacarakusala Citta, yang terdiri atas lima tingkatan jhana.
2.      Rupavacaravipaka Citta, yang terdiri atas lima akibat kesadaran jhana.
3.      Rupavacarakiriya Citta, yang terdiri atas lima tingkatan jhana.


Rupavacarakusala Citta
Rupavacara Citta berarti kesadaran atau pikiran baik yang mencapai rupa-jhana. Kesadaran atau pikiran ini terdapat pada orang yang belum mencapai tingkat kesucian arahat. Rupavacara-kusala Citta terdiri atas lima tingkatan jhana, yaitu:
1.      Vitakka, vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, Pathamajjhana kusalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik dari jhana pertama yang timbul bersama dengan vitakka, vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
2.      Vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, dutiyajjhana kusalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik dari jhana kedua yang timbul bersama dengan vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
3.      Piti, sukha, ekaggatasahitam, tatiyajjhana kusalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik dari jhana ketiga yang timbul bersama dengan piti, sukha, dan ekaggata.
4.      Sukha, ekaggatasahitam, catutthajjhana kusalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik dari jhana keempat yang timbul bersama dengan sukha dan ekaggata.
5.      Upekkha, ekaggatasahitam, pancamajjhana kusalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik dari jhana kelima yang timbul bersama dengan upekkha (keseimbangan batin) dan ekaggata.


Rupavacaravipaka Citta
Rupavacaravipaka Citta berarti kesadaran atau pikiran yang menjadi hasil atau akibat dari Rupavacarakusala Citta. Rupavacaravipaka Citta terdiri atas lima akibat kesadaran jhana, yaitu:
1.      Vitakka, vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, pathamajjhana vipakacittam, yang berarti akibat kesadaran atau pikiran dari jhana pertama yang timbul bersama dengan vitakka, vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
2.      Vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, dutiyajjhana vipakacittam, yang berarti akibat kesadaran atau pikiran dari jhana kedua yang timbul bersama dengan vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
3.      Piti, sukha, ekaggatasahitam, tatiyajjhana vipakacittam, yang berarti akibat kesadaran atau pikiran dari jhana ketiga yang timbul bersama dengan piti, sukha, dan ekaggata.
4.      Sukha, ekaggatasahitam, catutthajhana vipakacittam, yang berarti akibat kesadaran atau pikiran dari jhana keempat yang timbul bersama dengan sukha dan ekaggata.
5.      Upekkha, ekaggatasahitam, pancamajjhana vipakacittam, yang berarti akibat kesadaran atau pikiran dari jhana kelima yang timbul bersama dengan upekkha (keseimbangan batin) dan ekaggata. 
Rupavacarakiriya Citta
Rupavacarakiriya Citta berarti kesadaran atau pikiran khusus terdapat pada arahat yang mencapai rupa-jhana. Kesadaran atau pikiran ini tidak berakibat karena arahat tidak akan bertumimbal lahir lagi. Rupavacarakiriya Citta terdiri atas lima tingkatan jhana, yaitu:
1.      Vitakka, vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, pathamajjhana kiriyacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran tidak berakibat dari jhana pertama yang timbul bersama dengan vitakka, vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
2.      Vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, dutiyajjhana kiriyacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran tidak berakibat dari jhana kedua yang timbul bersama dengan vicara, piti, sukha, dan. ekaggata.
3.      Piti, sukha, ekaggatasahitam, tatiyajjhana kiriyacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran tidak berakibat dari jhana ketiga yang timbul bersama dengan piti, sukha, dan ekaggata.
4.      Sukha, ekaggatasahitam, catutthajjhana kiriyacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran tidak berakibat dari jhana keempat yang timbul bersama dengan sukha dan ekaggata.
5.      Upekkha, ekaggatasahitam, pancamajjhana kiriyacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran tidak berakibat dari jhana kelima yang timbul bersama dengan upekkha (keseimbangan batin) dan ekaggata.

Pengertian Arupavacara Citta
Arupavacara Citta berarti kesadaran atau pikiran yang mencapai objek dari Arupa-jhana. Kesadaran atau pikiran ini berkelana di Arupa Bhumi. Arupa Bhumi merupakan alam kehidupan yang makhluk-makhluknya mempunyai arupa jhana. Arupa Bhumi terdiri atas empat alam kehidupan, yaitu:
1.       Akasanancayatana Bhumi, adalah alam kehidupan yang makhluk-makhluknya mempunyai arupa jhana tingkat pertama.
2.       Vinnanancayatana Bhumi, adalah alam kehidupan yang makhluk-makhluknya mempunyai arupa jhana tingkat kedua.
3.       Akincannayatana Bhumi, adalah alam kehidupan yang makhluk-makhluknya mempunyai arupa jhana tingkat ketiga.
4.       Nevasannanasannayatana Bhumi, adalah alam kehidupan yang makhluk-makhluknya mempunyai arupa jhana tingkat keempat.

Pembagian Arupavacara Citta
Arupavacara Citta berjumlah dua belas jenis yang terbagi atas tiga kelompok, yaitu:
1.       Arupavacarakusala Citta, yang terdiri atas empat tingkatan jhana.
2.       Arupavacaravipaka Citta, yang terdiri atas empat akibat kesadaran jhana.
3.       Arupavacarakiriya Citta, yang terdiri atas empat tingkatan jhana.

Arupavacarakusala Citta
Arupavacarakusala Citta berarti kesadaran atau pikiran baik yang mencapai Arupa-jhana. Kesadaran atau pikiran ini terdapat pada orang yang belum mencapai kesucian arahat. Arupa-vacarakusala Citta terdiri atas empat tingkatan jhana, yaitu:
1.       Upekkha, ekaggatasahitam, akasanancayatana kusalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik dari keadaan konsepsi ruangan tanpa batas yang timbul bersama dengan upekkha (keseimbangan batin) dan ekaggata.
2.       Upekkha, ekaggatasahitam, vinnanancayatana kusalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik dari keadaan konsepsi kesadaran tanpa batas yang timbul bersama dengan upekkha (keseimbangan batin) dan ekaggata.
3.       Upekkha, ekaggatasahitam, akincannayatana kusalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik dari keadaan konsepsi kekosongan yang timbul bersama dengan upekkha (keseimbangan batin) dan ekaggata.
4.       Upekkha, ekaggatasahitam, nevasannanasannayatana kusalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik dari keadaan konsepsi bukan pencerapan pun bukan tidak pencerapan yang timbul bersama dengan upekkha (keseimbangan batin) dan ekaggata 

Arupavacaravipaka Citta
Arupavacaravipaka Citta berarti kesadaran atau pikiran yang menjadi hasil atau akibat dari Arupavacarakusala Citta. Arupavacaravipaka Citta terdiri atas empat akibat kesadaran jhana, yaitu:
1.       Upekkha, ekaggatasahitam, akasanancayatana vipakacittam, yang berarti akibat kesadaran atau pikiran dari keadaan konsepsi ruangan tanpa batas yang timbul bersama dengan Upekkha (keseimbangan batin) dan ekaggata.
2.       Upekkha, ekaggatasahitam, vinnanancayatana vipakacittam, yang berarti akibat kesadaran atau pikiran dari keadaan konsepsi kesadaran tanpa batas yang timbul bersama dengan upekkha (keseimbangan batin) dan upekkha.
3.       Upekkha, ekaggatasahitam, akincannayatana vipakacittam, yang berarti akibat kesadaran atau pikiran dari keadaan konsepsi kekosongan yang timbul bersama dengan upekkha (keseimbangan batin) dan ekaggata.
4.       Upekkha, ekaggatasahitam, nevasannanasannayatana vipakacittam, yang berarti akibat kesadaran atau pikiran dari keadaan konsepsi bukan pencerapan pun bukan tidak pencerapan yang timbul bersama dengan upekkha (keseimbangan batin) dan ekaggata.

Arupavacarakiriya Citta
Arupavacarakiriya Citta berarti kesadaran atau pikiran khusus terdapat pada arahat yang mencapai Arupa Jhana. Kesadaran atau pikiran ini tidak berakibat karena arahat tidak akan bertumimbal lahir lagi. Arupavacarakiriya Citta terdiri atas empat tingkatan Jhana, yaitu:
1.      Upekkha, ekaggatasahitam, akasanancayatana kiriyacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran tidak berakibat dari keadaan konsepsi ruangan tanpa batas yang timbul bersama dengan upekkha (keseimbangan batin) dan ekaggata.
2.      Upekkha, ekaggatasahitam, vinnanancayatana kiriyacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran tidak berakibat dari keadaan konsepsi kesadaran tanpa batas yang timbul bersama dengan upekkha (keseimbangan batin) dan ekaggata.
3.      Upekkha, ekaggatasahitam, akincannayatana kiriyacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran tidak berakibat dari keadaan konsepsi kekosongan yang timbul bersama dengan upekkha (keseimbangan batin) dan ekaggata.
4.      Upekkha, ekaggatasahitam, nevasannanasannayatana kiriyacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran tidak berakibat dari keadaan konsepsi bukan pencerapan pun bukan tidak pencerapan yang timbul bersama dengan upekkha (keseimbangan batin) dan ekaggata.

Pembagian Lokuttara Citta
Lokuttara Citta berjumlah delapan atau empat puluh jenis yang terbagi atas dua kelompok, yaitu:
1.      Lokuttarakusala Citta atau Magga Citta, yang terdiri atas empat atau dua puluh jenis.
2.      Lokuttaravipaka Citta atau Phala Citta, yang terdiri atas empat atau dua puluh jenis.

Lokuttarakusala Citta atau Magga Citta yang berjumlah empat atau dua puluh jenis itu terdiri atas:
1.      Sotapatti-magga-citta, yang terdiri atas lima tingkatan jhana.
2.      Sakadagami-magga-citta, yang terdiri atas lima tingkatan jhana.
3.      Anagami-magga-citta, yang terdiri atas lima tingkatan jhana.
4.      Arahatta-magga-citta, yang terdiri atas lima tingkatan jhana.

Lokuttaravipaka Citta atau Phala Citta yang berjumlah empat atau dua puluh jenis itu juga terdiri atas:
1.      Sotapatti-phala-citta, yang terdiri atas lima tingkatan jhana.
2.      Sakadagami-phala-citta, yang terdiri atas lima tingkatan jhana.
3.      Anagami-magga-citta, yang terdiri atas lima tingkatan jhana.
4.      Arahatta-phala-citta, yang terdiri atas lima tingkatan jhana.

Sotapatti-magga-citta terdiri atas lima tingkatan jhana, yaitu:
1.      Vitakka, vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, pathamajjhana Sotapattimaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sotapattimagga dari jhana pertama yang timbul bersama dengan vitakka, vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
2.      Vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, dutiyajjhana Sotapattimaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sotapattimagga dari jhana kedua yang timbul bersama dengan vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
3.      Piti, sukha, ekaggatasahitam, tatiyajjhana Sotapattimaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sotapattimagga dari jhana ketiga yang timbul bersama dengan piti, sukha, dan ekaggata.
4.      Sukha, ekaggatasahitam, catutthajjhana Sotapattimaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sotapattimagga dari jhana keempat yang timbul bersama dengan sukha dan ekaggata.
5.      Upekkha, ekaggatasahitam, pancamajjhana Sotapattimaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sotapattimagga dari jhana kelima yang timbul bersama dengan Upekkha dan ekaggata.

Sakadagami-magga-citta terdiri atas lima tingkatan jhana, yaitu:
1.      Vitakka, vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, pathamajjhana Sakadagamimaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sakadagamimagga dari jhana pertama yang timbul bersama dengan vitakka, vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
2.      Vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, dutiyajjhana Sakadagamimaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sakadagamimagga dari jhana kedua yang timbul bersama dengan vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
3.      Piti, sukha, ekaggatasahitam, tatiyajjhana Sakadagamimaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sakadagamimagga dari jhana ketiga yang timbul bersama dengan piti, sukha, dan ekaggata.
4.      Sukha, ekaggatasahitam, catutthajjhana Sakadagamimaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sakadagamimagga dari jhana keempat yang timbul bersama dengan sukha dan ekaggata.
5.      Upekkha, ekaggatasahitam, pancamajjhana Sakadagamimaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sakadagamimagga dari jhana kelima yang timbul bersama dengan upekkha dan ekaggata.
Anagami-magga-citta terdiri atas lima tingkatan jhana, yaitu:
1.      Vitakka, vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, pathamajjhana Anagamimaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Anagamimagga dari jhana pertama yang timbul bersama dengan vitakka, vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
2.      Vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, dutiyajjhana Anagamimaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Anagamimagga dari jhana kedua yang timbul bersama dengan vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
3.      Piti, sukha, ekaggatasahitam, tatiyajjhana Anagamimaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Anagamimagga dari jhana ketiga yang timbul bersama dengan piti, sukha, dan ekaggata.
4.      Sukha, ekaggatasahitam, catutthajjhana Anagamimaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Anagamimagga dari jhana keempat yang timbul bersama dengan sukha dan ekaggata.
5.      Upekkha, ekaggatasahitam, pancamajjhana anagamimaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Anagamimagga dari jhana kelima yang timbul bersama dengan Upekkha dan ekaggata.
Arahatta-magga-citta terdiri atas lima tingkatan jhana, yaitu:
1.      Vitakka, vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, pathamajjhana Arahattamaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Arahattamagga dari jhana pertama yang timbul bersama dengan vitakka, vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
2.      Vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, dutiyajjhana Arahattamaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Arahattamagga dari jhana kedua yang timbul bersama dengan vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
3.      Piti, sukha, ekaggatasahitam, tatiyajjhana Arahattamaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Arahattamagga dari jhana ketiga yang timbul bersama dengan piti, sukha, dan ekaggata.
4.      Sukha, ekaggatasahitam, catutthajjhana Arahattamaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Arahattamagga dari jhana keempat yang timbul bersama dengan sukha dan ekaggata.
5.      Upekkha, ekaggatasahitam, pancamajjhana Arahattamaggacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Arahattamagga dari jhana kelima yang timbul bersama dengan upekkha dan ekaggata.
Sotapatti-phala-citta terdiri atas lima tingkatan jhana, yaitu:
1.      Vitakka, vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, pathamajjhana Sotapattiphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sotapattiphala dari jhana pertama yang timbul bersama dengan vitakka, vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
2.      Vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, dutiyajjhana Sotapattiphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sotapattiphala dari jhana kedua yang timbul bersama dengan vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
3.      Piti, sukha, ekaggatasahitam, tatiyajjhana Sotapattiphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sotapattiphala dari jhana ketiga yang timbul bersama dengan piti, sukha, dan ekaggata.
4.      Sukha, ekaggatasahitam, catutthajjhana Sotapattiphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sotapattiphala dari jhana keempat yang timbul bersama dengan sukha dan ekaggata.
5.      Upekkha, ekaggatasahitam, pancamajjhana Sotapattiphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sotapattiphala dari jhana kelima yang timbul bersama dengan upekkha dan ekaggata.
Sakadagami-phala-citta terdiri atas lima tingkatan jhana, yaitu:
1.      Vitakka, vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, pathamajjhana Sakadagamiphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sakadagamiphala dari jhana pertama yang timbul bersama dengan vitakka, vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
2.      Vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, dutiyajjhana Sakadagamiphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sakadagamiphala dari jhana kedua yang timbul bersama dengan vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
3.      Piti, sukha, ekaggatasahitam, tatiyajjhana Sakadagamiphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sakadagamiphala dari jhana ketiga yang timbul bersama dengan piti, sukha, dan ekaggata.
4.      Sukha, ekaggatasahitam, catutthajjhana Sakadagamiphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sakadagamiphala dari jhana keempat yang timbul bersama dengan sukha dan ekaggata.
5.      Upekkha, ekaggatasahitam, pancamajjhana Sakadagamiphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Sakadagamiphala dari jhana kelima yang timbul bersama dengan upekkha dan ekaggata.
Anagami-phala-citta terdiri atas lima tingkatan jhana, yaitu:
1.      Vitakka, vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, pathamajjhana Anagamiphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Anagamiphala dari jhana pertama yang timbul bersama dengan vitakka, vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
2.      Vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, dutiyajjhana Anagamiphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Anagamiphala dari jhana kedua yang timbul bersama dengan vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
3.      Piti, sukha, ekaggatasahitam, tatiyajjhana Anagamiphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Anagamiphala dari jhana ketiga yang timbul bersama dengan piti, sukha, dan ekaggata.
4.      Sukha, ekaggatasahitam, catutthajjhana Anagamiphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Anagamiphala dari jhana keempat yang timbul bersama dengan sukha dan ekaggata.
5.      Upekkha, ekaggatasahitam, pancamajjhana Anagamiphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Anagamiphala dari jhana kelima yang timbul bersama dengan upekkha dan ekaggata.

Arahatta-phala-citta terdiri atas lima tingkatan jhana, yaitu:
1.      Vitakka, vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, pathamajjhana Arahattaphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Arahattaphala dari jhana pertama yang timbul bersama dengan vitakka, vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
2.      Vicara, piti, sukha, ekaggatasahitam, dutiyajjhana Arahattaphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Arahattaphala dari jhana kedua yang timbul bersama dengan vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
3.      Piti, sukha, ekaggatasahitam, tatiyajjhana Arahattaphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Arahatta phala dari jhana ketiga yang timbul bersama dengan piti, sukha, dan ekaggata.
4.      Sukha, ekaggatasahitam, catutthajjhana Arahattaphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Arahattaphala dari jhana keempat yang timbul bersama dengan sukha dan ekaggata.
5.      Upekkha, ekaggatasahitam, pancamajjhana Arahattaphalacittam, yang berarti kesadaran atau pikiran baik Arahattaphala dari jhana kelima yang timbul bersama dengan Upekkha dan ekaggata.

Pengertian Cetasika
Cetasika atau bentuk-bentuk batin adalah keadaan yang bersekutu dengan citta. Ada empat macam sifat cetasika, yaitu:
1.      Ekuppada, yang berarti timbulnya bersama dengan citta.
2.      Ekanirodha, yang berarti padamnya bersama dengan citta.
3.      Ekalambana, yang berarti mempunyai objek sama dengan citta.
4.      Ekavatthuka, yang berarti pemakaian objek sama dengan citta.

Pembagian Cetasika
Cetasika terdiri atas lima puluh dua jenis. Setiap jenis cetasika mempunyai sifat yang tidak sama. Berdasarkan sifat-sifatnya yang berbeda itu, cetasika dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu:
a.       Annasamana Cetasika, yang terdiri atas tiga belas jenis.
b.      Akusala Cetasika, yang terdiri atas empat belas jenis.
c.       Sobhana Cetasika, yang terdiri atas dua puluh lima jenis.

Annasamana Cetasika adalah bentuk-bentuk batin yang dapat bersekutu dengan semua kesadaran atau pikiran yang baik dan yang tidak baik. Akusala Cetasika adalah bentuk-bentuk batin yang tidak baik. Sobhana Cetasika adalah bentuk-bentuk batin yang baik. Bentuk-bentuk batin ini selalu timbul dan padam terus menerus dalam diri manusia dari waktu ke waktu. Sebagai umat Buddha, kita seyogyanya berusaha memunculkan bentuk-bentuk batin yang baik dan melenyapkan bentuk-bentuk batin yang tidak baik, agar kita dapat hidup tenang dan berbahagia.
Pengertian Annasamana Cetasika
Annasamana Cetasika berarti bentuk-bentuk batin yang sama keadaannya, yaitu dapat bersekutu dengan kesadaran atau pikiran yang baik dan yang tidak baik. Cetasika ini berjumlah tiga belas jenis. Dari ketiga belas jenis cetasika ini terdapat tujuh jenis cetasika yang bersekutu dengan semua kesadaran atau pikiran yang baik dan yang tidak baik. Ketujuh jenis cetasika yang disebut Sabbacittasadharana Cetasika ini selalu timbul menyertai setiap jenis citta yang timbul dalam diri manusia. Sedangkan enam jenis cetasika sisanya hanya bersekutu dengan sebagian kesadaran atau pikiran. Keenam jenis cetasika ini disebut Pakinnaka Cetasika.
Pembagian Annasamana Cetasika
Annasamana Cetasika berjumlah tiga belas jenis. Ketiga belas jenis cetasika ini dapat bersekutu dengan kesadaran atau pikiran yang baik dan yang tidak baik. Namun, ada cetasika yang bersekutu dengan semua kesadaran atau pikiran yang baik dan yang tidak baik, tetapi ada pula cetasika yang hanya dapat bersekutu dengan sebagian kesadaran atau pikiran. Oleh sebab itu, cetasika ini dapat dikelompokkan atas dua kelompok, yaitu:
1.      Sabbacittasadharana-cetasika, yang terdiri atas tujuh jenis.
2.      Pakinnaka-cetasika, yang terdiri atas enam jenis.
Sabbacittasadharana Cetasika
Sabbacittasadharana Cetasika berarti bentuk-bentuk batin yang bersekutu dengan semua kesadaran atau pikiran yang baik dan yang tidak baik. Cetasika ini menyertai setiap kejadian tunggal dari kesadaran atau pikiran atau citta. Citta itu terdapat pada diri setiap manusia yang hidup di dunia ini, dan karenanya cetasika yang menyertai citta itu merupakan hal-hal yang berhubungan dengan duniawi dan bersifat universal.

Sabbacittasadharana cetasika terdiri atas tujuh jenis, yaitu:
1.      Phassa, yang berarti kontak. Kontak berarti kemampuan untuk menyentuh atau menekan objek yang menyenangkan atau tidak menyenangkan.
2.      Vedana, yang berarti perasaan. Perasaan berarti kemampuan untuk mengenal rasa.
3.      Sanna, yang berarti pencerapan. Pencerapan berarti pengenalan suatu objek atau persepsi indera.
4.      Cetana, yang berarti kehendak. Kehendak berarti kemauan atau niat untuk berbuat yang baik atau yang tidak baik.
5.      Ekaggata, yang berarti pemusatan pikiran atau konsentrasi atau meditasi atau samadhi. Ekaggata merupakan salah satu faktor jhana.
6.      Jivitindriya, yang berarti kehidupan jasmani. Jivitindriya merupakan pemelihara dari bentuk-bentuk batin dalam kelanjutannya.
7.      Manasikara, yang berarti perhatian. Manasikara bermanfaat untuk membawa objek keinginan itu ke dalam bidang kesadaran.

Pakinnaka Cetasika
Pakinnaka Cetasika berarti bentuk-bentuk batin yang bersekutu dengan sebagian kesadaran atau pikiran atau citta. Cetasika ini dapat berhubungan dengan citta yang baik dan yang tidak baik, tetapi hanya tipe-tipe citta atau kesadaran khusus. Jadi, cetasika ini tidak bersekutu pada semua citta, tetapi hanya citta-citta tertentu.

Pakinnaka Cetasika terdiri atas enam jenis, yaitu:
1.      Vitakka, yang berarti perenungan permulaan dari pikiran. Vitakka bermanfaat untuk mengarahkan pikiran pada objek.
2.      Vicara, yang berarti perenungan penopang dari pikiran, yaitu perenungan sebagai pendukung atau penopang atau yang memegang pikiran. Vicara bermanfaat untuk memegang pikiran dan mengatur di dalam objek.
3.      Adhimokkha, yang berarti keputusan, atau keadaan pikiran yang menyendiri, bebas dari objek, yaitu khusus mengenai kebebasan pikiran dari gelombang keadaan di antara dua sumber, yaitu 'ada' atau 'tidak ada', 'benar' atau 'tidak benar'.
4.      Viriya, yang berarti semangat atau tenaga, atau usaha dari pikiran di dalam perbuatan. Viriya terbagi atas dua macam, yaitu usaha yang benar dan usaha yang salah. Namun, umat Buddha yang baik seyogyanya melakukan usaha yang benar.
5.      Piti, yang berarti kegiuran atau kegembiraan dari pikiran yang telah terlepas dari keruwetannya.
6.      Chandha, yang berarti keinginan untuk berbuat, misalnya keinginan untuk pergi, keinginan untuk berbicara, dan sebagainya. Chandha terdiri atas tiga jenis, yaitu:
a.       Kamachandha, yang berarti kesenangan dan kepuasan dalam nafsu indera.
b.      Kattukamyata Chandha, yang berarti semata-mata keinginan untuk berbuat.
c.       Dhammachandha, yang berarti kepuasan dalam Dhamma, yaitu belajar dan melaksanakan Dhamma sehingga mencapai kepuasan dalam memperoleh hasilnya.

Pengertian Akusala Cetasika
Akusala Cetasika berarti bentuk-bentuk batin yang tidak baik. Bentuk-bentuk batin atau cetasika selalu timbul mengikuti kesadaran atau pikiran atau citta. Bentuk-bentuk batin yang tidak baik atau Akusala Cetasika selalu timbul mengikuti pikiran yang tidak baik atau Akusala Citta. Jadi, Akusala Cetasika ini membentuk semua kejadian yang tidak baik dari kesadaran makhluk.

Pembagian Akusala Cetasika
Akusala Cetasika berjumlah empat belas jenis. Dari keempat belas jenis cetasika ini, ada cetasika yang dipimpin oleh lobha, dosa, moha, thiduka, dan vicikiccha. Berdasarkan hal tersebut, Akusala Cetasika ini dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok, yaitu:
1.      Mocatuka Cetasika, yang terdiri atas empat jenis.
2.      Lotika Cetasika, yang terdiri atas tiga jenis.
3.      Docatuka Cetasika, yang terdiri atas empat jenis.
4.      Thiduka Cetasika, yang terdiri atas dua jenis.
5.      Vicikiccha Cetasika, yang terdiri atas satu jenis.
Mocatuka Cetasika
Mocatuka Cetasika berarti bentuk-bentuk batin yang dipimpin oleh moha cetasika. Mocatuka Cetasika terdiri atas empat jenis, yaitu moha, ahirika, anottappa, dan uddhacca. Keempat jenis bentuk batin ini merupakan bentuk-bentuk batin yang tidak baik.

Lotika Cetasika
Lotika Cetasika berarti bentuk-bentuk batin yang dipimpin oleh lobha cetasika. Lotika Cetasika terdiri atas tiga jenis, yaitu lobha, ditthi, dan mana. Ketiga jenis bentuk batin ini merupakan bentuk-bentuk batin yang tidak baik. Jika seseorang memiliki bentuk-bentuk batin ini, maka ia akan melakukan berbagai macam perbuatan jahat yang bersumber dari lobha. Oleh sebab itu, ketiga jenis bentuk batin ini harus dikikis dari dalam diri kita sedikit demi sedikit hingga akhirnya lenyap sama sekali.

Docatuka Cetasika
Docatuka Cetasika berarti bentuk-bentuk batin yang dipimpin oleh dosa cetasika. Docatuka Cetasika terdiri atas empat jenis, yaitu dosa, issa, macchariya, dan kukkucca. Keempat jenis bentuk batin ini merupakan bentuk-bentuk batin yang tidak baik. Jika seseorang memiliki bentuk-bentuk batin ini, maka ia akan melakukan berbagai macam perbuatan jahat yang bersumber dari dosa. Oleh sebab itu, keempat jenis bentuk batin ini harus dikikis dari dalam diri kita sedikit demi sedikit hingga akhirnya lenyap sama sekali.
Thiduka Cetasika
Thiduka Cetasika berarti bentuk-bentuk batin yang dipimpin oleh thina cetasika. Thiduka cetasika terdiri atas dua jenis, yaitu thina dan middha. Kedua jenis bentuk batin ini merupakan bentuk-bentuk batin yang tidak baik. Jika seseorang memiliki bentuk-bentuk batin ini, maka ia menjadi malas untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik.
Vicikiccha Cetasika
Vicikiccha Cetasika hanya terdiri atas satu jenis, yaitu vicikiccha. Vicikiccha berarti keragu-raguan atau kebingungan, yaitu ketidakpercayaan terhadap apa yang harus dipercayai, atau ketidakyakinan terhadap apa yang harus diyakini. Umat Buddha seyogyanya berusaha melenyapkan keragu-raguan terhadap Sang Triratna yang terdiri atas Buddha, Dhamma, dan Sangha. Mereka hendaknya mempunyai keyakinan yang teguh terhadap Sang Triratna.

Pengertian Sobhana Cetasika
Sobhana Cetasika berarti bentuk-bentuk batin yang baik. Disebut demikian karena cetasika ini umum bagi seluruh kejadian moral yang baik dari kesadaran. Cetasika ini muncul dalam kombinasi yang beraneka ragam dalam pernyataan kesadaran yang baik. Jadi, Sobhana Cetasika sebagai bentuk-bentuk batin yang baik ini selalu timbul mengikuti kesadaran atau pikiran yang baik.

Pembagian Sobhana Cetasika
Sobhana Cetasika berjumlah dua puluh lima jenis yang terbagi atas empat kelompok, yaitu
1.      Sobhanasadharana Cetasika, yang terdiri atas sembilan belas jenis.
2.      Virati Cetasika, yang terdiri atas tiga jenis.
3.      Appamanna Cetasika, yang terdiri atas dua jenis.
4.      Pannindriya Cetasika, yang terdiri atas satu jenis.

Sobhanasadharana Cetasika
Sobhanasadharana Cetasika berarti bentuk-bentuk batin yang bersekutu hanya dengan kesadaran atau pikiran yang baik. Jika pikiran baik muncul, maka bentuk-bentuk batin ini juga ikut muncul.

Sobhanasadharana Cetasika terdiri atas sembilan belas jenis, yaitu Saddha, Sati, Hiri, Ottappa, Alobha, Adosa, Tatramajhattata, Kayapassadhi, Cittapassadhi, Kaya lahuta, Citta lahuta, Kaya muduta, Citta muduta, Kaya kammannata, Citta kammannata, Kaya pagunnata, Citta pagunnata, Kayujukata, dan Cittujukata.

Virati Cetasika
Virati Cetasika berarti bentuk-bentuk batin yang terbebas dari kejahatan sebagai pemimpin. Virati Cetasika terdiri atas tiga jenis, yaitu Samma Vaca, Samma Kammanta, dan Samma Ajiva.


Appamanna Cetasika
Appamanna Cetasika berarti bentuk-bentuk batin yang tidak terbatas. Disebut demikian karena objek-objek tersebut tanpa batas. Appamanna Cetasika terdiri atas dua jenis, yaitu karuna dan mudita. Karuna berarti belas kasihan, atau keinginan untuk menolong makhluk yang sedang menderita. Mudita berarti simpati, yaitu merasa gembira dan bahagia melihat kesuksesan dan kebahagiaan orang lain. Umat Buddha seyogyanya memiliki sifat mudita. Mereka hendaknya merasa turut bergembira melihat orang lain gembira dan berhasil dalam usahanya. Mereka hendaknya merasa turut berbahagia melihat orang lain bahagia dan sukses dalam berbagai bidang.


Pannindriya Cetasika
Pannindriya Cetasika hanya terdiri atas satu jenis, yaitu panna. Panna berarti kebijaksanaan, yaitu dapat melihat hidup dan kehidupan ini dengan sewajarnya, bahwa hidup dan kehidupan ini dicengkeram oleh Tilakkhana (anicca, dukkha, dan anatta). Istilah lain untuk panna adalah amoha atau ketidakbodohan, nana atau pengertian, vijja atau pengetahuan, samma ditthi atau Pandangan Benar.

Pengertian Sampayoga
Sampayoga berarti 'bersekutu'. Di sini dimaksudkan bahwa Cetasika setiap jenis itu dapat bersekutu dengan Citta berapa jenis, yaitu Citta apa. Jadi, dari kelima puluh dua jenis Cetasika itu akan dilihat satu persatu atau secara berkelompok masuk bersekutu dengan citta berapa jenis. Namun, di bawah ini akan diuraikan mengenai Sampayoga dari Cetasika yang bersekutu dengan Citta, khusus dalam Cittuppada (kesadaran yang timbul) setiap jenis.

Pengertian Aniyatayogi Cetasika.
Aniyatayogi Cetasika adalah cetasika yang bersekutu dengan citta secara tidak tetap, yang berarti Cetasika itu sewaktu-waktu bersekutu, dan sewaktu-waktu tidak bersekutu. Jadi, cetasika ini tidak setiap saat timbul dalam diri makhluk. Cetasika ini hanya timbul pada saat-saat tertentu.
Aniyatayogi Cetasika yang berjumlah sebelas jenis itu dapat dibagi atas tiga kelompok, yaitu:
1.      Nanakadaci, yang berarti bersekutu sewaktu-waktu dan satu persatu.
2.      Sahakadaci, yang berarti bersekutu sewaktu-waktu dan bersama.
3.      Kadaci, yang berarti bersekutu sewaktu-waktu.


Pengertian Sangaha
Sangaha berarti gabungan. Di sini dimaksudkan Citta atau kesadaran satu-persatu jenis dihitung, ada cetasika bergabung berapa jenis dan cetasika apa saja. Sangaha juga dimaksudkan menghitung jumlah Cetasika yang berada dalam Citta. Jadi, citta yang berjumlah delapan puluh sembilan atau seratus dua puluh satu jenis itu akan dihitung satu persatu atau secara berkelompok, ada berapa jenis cetasika yang datang bersekutu.
Citta yang dapat dibagi atas lima kelompok, ada Cetasika datang bersekutu sebagai berikut:
1.      Akusala Citta, ada cetasika bersekutu sebanyak 27 jenis.
2.      Ahetuka Citta, ada cetasika bersekutu sebanyak 12 jenis.
3.      Kamavacarasobhana Citta, ada cetasika bersekutu sebanyak 38 jenis.
4.      Mahaggata Citta, ada cetasika bersekutu sebanyak 35 jenis.
5.      Lokuttara Citta, ada cetasika bersekutu sebanyak 36 jenis.
Citta yang berjumlah delapan puluh sembilan atau seratus dua puluh satu jenis itu mempunyai Sangaha sebanyak tiga puluh tiga bagian, yaitu:
1.      Akusala Citta, ada Sangaha sebanyak tujuh bagian.
2.      Ahetuka Citta, ada Sangaha sebanyak empat bagian.
3.      Kamavacarasobhana Citta, ada Sangaha sebanyak dua belas bagian.
4.      Mahaggata Citta, ada Sangaha sebanyak lima bagian.
5.      Lokuttara Citta, ada Sangaha sebanyak lima bagian.


Pengertian Sabbakusalayogi Cetasika
Sabbakusalayogi Cetasika adalah cetasika yang dapat bersekutu dengan Akusala Citta semuanya, baik Lobhamula Citta, Dosamula Citta, maupun Mohamula Citta. Sabbakusalayogi Cetasika ini bersekutu secara pasti dengan setiap jenis Akusala Citta. Jika Akusala Citta timbul, maka Sabbakusalayogi Cetasika juga ikut timbul.
Sabbakusalayogi Cetasika terdiri atas empat belas jenis, yaitu Sabbakusaladharana Cetasika sebanyak empat jenis dan Annasamana Cetasika sebanyak sepuluh jenis. Sabbakusaladharana Cetasika yang disebut juga Mocatuka Cetasika itu terdiri atas moha, ahirika, anottappa, dan uddhacca. Sedangkan, Annasamana Cetasika di sini berjumlah sepuluh jenis, yaitu Phassa, Vedana, Sanna, Cetana, Ekaggata, Jivitindriya, Manasikara, Vitakka, Vicara, dan Viriya (tidak termasuk Adhimokkha, Piti, dan Chandha). Keempat belas jenis cetasika ini selalu timbul menyertai setiap jenis Akusala Citta.

**********

7 komentar:

  1. jika harus menghafal segitu banyaknya , sebagian orang akan merasa sulit sekali termasuk saya hehehehe.
    menurut saya inti dari semua baik dan buruk adalah pikiran.

    mari kita upayakan slogan " takut berbuat jahat dan akibat dari perbuatan jahat" dunia ini akan terasa indah

    BalasHapus
  2. saya hormat sama Abhidharma pittaka

    BalasHapus
  3. saya hormat sama Abhidharma pittaka

    BalasHapus
  4. Selamat malam
    Saya mau tanya bukankah abhidamma terbagi 7 buku

    BalasHapus