Selasa, 21 Februari 2012

PAÑCABALA DALAM AGAMA BUDDHA


1  Pengertian Pañcabala

     Pañcabala terdiri dari dua suku kata yaitu Pañca dan Bala. Pañca dalam kamus Dictionary of the pali language berarti lima, sedangkan Bala berarti  kekuatan (Caesar, 1974:326). Jadi Pañcabala berarti lima kekuatan. 
      Pañcabala atau lima kekuatan terdiri dari Kekuatan keyakinan (Saddhā Bala), Kekuatan semangat (Viriya Bala), Kekuatan kesadaran (Sati Bala), Kekuatan kosentrasi (Samādhi Bala), Kekuatan kebijaksanaan (Paññā Bala) (A.V:318). 
2 Unsur-unsur  dalam Pañcabala

     Setiap orang pada dasarnya memiliki Pañcabala. Pañcabala apabila dikembangkan setiap orang mendapatkan manfaat yaitu mempunyai rasa aman. Prinsip ini sangat baik bagi pengembangan tenaga maupun sebagai metode agar semua yang dilakukan tidak sia-sia. Pañcabala atau lima kekuatan sangat penting untuk dijadikan suatu pedoman atau pondasi dalam melakukan segala sesuatu, tergantung dari konteksnya masing-masing. Kekuatan keyakinan, kekuatan semangat, kekuatan kesadaran, kekuatan kosentrasi dan kekuatan kebijaksan harus dikembangkan secara baik.

2.1 Kekuatan Keyakinan  (Saddhā Bala)

     Setiap manusia pada umumnya memiliki Saddhā Bala.  Vidhurdhammābhorn (1992:178) mendefinisikan  Saddhā bala adalah memiliki keyakinan. Hendaknya sebagai manusia memiliki keyakinan, bukan sebagai manusia yang tidak memiliki keyakinan sama sekali. Demi memiliki kekuatan keyakinan tersebut, setiap orang menetapkan prinsip, serta dipegang teguh misalnya dengan rajin belajar maka mempunyai keyakinan untuk lulus. Mettadewi (2001:7) menyatakan saddhābala merupakan suatu kekuatan dari keyakinan.  Keyakinan disini ditekankan keyakinan terhadap Buddha, Dhamma dan Sangha.   
Buddha menjelaskan terdapat empat keyakian yang terbaik.  Apabila setiap orang memiliki empat keyakinan terbaik akan mendapatkan hasil yang terbaik pula. Empat keyakinan tersebut adalah: (1). Mereka yang memiliki keyakinan terhadap Buddha memiliki keyakinan yang terbaik, (2). Mereka yang memiliki keyakinan terhadap Jalan Mulia Berunsur Delapan memiliki keyakinan terbaik, (3). Mereka yang memiliki keyakinan kepada Dhamma memiliki keyakinan yang terbaik, (4). Mereka yang memiliki keyakinan terhadap Saṅgha memiliki keyakian yang terbaik. Dan bagi mereka yang memiliki empat keyakinan terbaik, akan mendapat  hasil terbaik  pula (A. IV:211).
     Memiliki keyakinan terhadap Buddha maksudnya  Tathāgata, Arahā,  Yang Tercerahkan Sempurna  dinyatakan sebagai keyakinan terbaik diantara makhluk hidup yang berkaki dua, berkaki empat, baik yang berupa maupun tidak berupa serta yang sudah mencapai pencerahaan maupun belum mencapai pencerhaan.              
     Keyakian  terhadap Jalan Mulia Berunsur Delapan maksudnya setiap orang yakin bahwa jalan ini merupakan jalan yang tebaik diantara jalan yang lain. Jalan Mulia Berunsur Delapan yaitu: Pandangan benar (Sammā-diṭṭhi), Pikiran benar (Sammā-saṅkappa), Perkataan benar (Sammā-vācā), Perbuataan benar (Sammā-kammanta), Penghidupan benar (Sammā-ājīva), Upaya benar (sammā-vāyāma), Perhatian benar (sammā-sati), Kosentrasi benar (sammā-samādhi). 
Keyakinan terhadap Dhamma maksudnya memiliki keyakinan mengenai lenyapnya nafsu keinginan sebagai yang terbaik diantara keangkuhan, kemelekatan, keserakahan. Memiliki keyakinan terhadap Saṅgha  merupakan siswa Sang Bhagavā patut menerima pemberian, sambutan, persembahan, hormat, dan yakin bahwa Saṅgha ladang subur untuk menanam perbuatan baik tiada taranya. 
     Keyakinan terhadap Buddha, Jalan Mulia Berunsur Delapan, Dhamma dan Saṅgha. Maka akan memperoleh hasil yang terbaik pula. Apabila keyakinan  terhadap empat hal tersebut dikembangkan dapat memperoleh manfaat yang baik.   Setiap seorang menjalakan pekerjaan, dalam hal ini seorang tersebut mempunyai keyakinan yang baik terhadap Jalan Mulia Berunsur Delapan sehingga dapat mengatasi keragu–raguan dalam menjalakan pekerjaan.
     Keyakinan diri adalah pengharapan pasti, bukan suatu hal yang tidak dapat diketahui, tetapi suatu hal yang dapat diuji sebagai pengalaman dan dipahami secara pribadi. Keyakinan diri adalah akal budi, pengetahuan, dan pengalaman. Keyakinan diri menjadi kekuatan pikiran untuk memahami arti kehidupan (Dhammananda, 2005:291). Setiap orang pada dasarnya memiliki suatu keyakian yang dapat dijadikan suatu fondasi dalam melakukan segala sesuatu termasuk dalam bekerja. Keyakinan merupakan suatu hal bersifat  pengetahuan yang dimiliki oleh setiap orang. Keyakinan dapat dikembangkan untuk memperoleh hal yang bermanfaat dalam mengerjakan segala sesuatu tergantung dari konteksnya masing-masing. 
     Keyakinan memang perlu dimiliki oleh setiap orang, lebih lanjut bagi yang melakukan pekerjaan. Dalam melakukan pekerjaan saran dan pendapat dari orang lain sering dijumpai, dengan memiliki keyakinan yang kuat maka setiap orang terlebih dahulu akan mencari kebenaran pendapat tersebut apakah bermanfaat untuk pekerjaanya.   
     Dengan mempunyai keyakinan terhadap diri sendiri, maka seorang tidak akan percaya secara langsung terhadap pendapat orang lain.   Buddha menjelaskan kepada suku Kālāma bahwa: 
Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya, pembicara yang kelihatan meyakinkan..…………. tetapi setelah mengetahui hal-hal ini tidak bermanfaat, hal-hal ini dapat dicela; ….…….hal-hal ini jika dilaksanakan dan dipraktekan akan menuju kerugian dan penderitaan, maka  kalian harus meninggalkannya (A. III:141).

     Berdasarkan kutipan tersebut setiap orang hendaknya selalu memiliki keyakinan terhadap diri sendiri, dengan memiliki keyakinan maka setiap orang tidak akan secara langsung percaya oleh pendapat orang lain melainkan harus diselidiki kebenarannya. Setiap orang dalam melakukan pekerjaan memiliki keyakinan bahwa pekerjaan yang dijalankan akan berhasil. Dalam melakukan pekerjaan tentunya setiap orang mendapatkan saran, pendapat dari pihak lain. Dengan memiliki keyakianan dalam menerima saran, pendapat terlebih dahulu dicari kebenarannya sehingga akan membawa hasil, manfaat bagi pekerjaannya.

2.2 Kekuatan Semangat  (Viriya Bala)

Setiap orang pada dasarnya mempunyai hobi. Hobi yang dimiliki dapat membuat setiap orang merasa senang dalam melakukan pekerjaan. Kesenangan serta kegembiraan akan menimbulkan semangat untuk menekuni pekerjaan yang dijalankan. Semangat merupakan suatu keuletan, kegigihan, kerja keras dalam menjalankan suatu pekerjaan. Dengan semangat yang dimiliki maka seorang akan selalu tekun, rajin, serta  keuletan dalam melakukan pekerjaan.
     Setiap orang dalam melakukan berbagai hal termasuk dalam bekerja untuk mencapai tujuan, harus mempunyai keuletan, ketekunan dalam melakukan pekerjaan. Viriya Bala adalah bekerja atau belajar secara terus menerus dan konsekuen. Dengan secara terus menerus melakukan hal yang dikerjakan  maka akan terlatih untuk  berusaha (Vidhurdhammābhorn, 1992:179). Abhayanando (2004:60) memberikan definisi batasan mengenai viriya sebagai usaha yang semangat dalam mengerjakan berbagai hal.  Viriya atau Semangat dapat mengatasi kejenuhan dalam melakukan pekerjaan sehingga, dengan memiliki  viriya akan terus berusaha untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. 
Lebih lanjut Wuryanto (2007:69) berpendapat mengenai viriya bala  yaitu suatu usaha yang bersemangat, tekun, berusaha dengan sungguh-sungguh didalam melakukan berbagai hal sampai mencapai hasil. Viriya bala bila dikembangkan untuk melakukan suatu pekerjaan akan memperoleh hasil yang maksimal. Setiap orang dalam melakukan berbagai hal termasuk dalam bekerja, viriya harus dimiliki, sikap ini merupakan salah satu faktor sikap kerja yang positif. Dengan memiliki semangat setiap orang akan melakukan pekerjaan secara terus menerus sehingga tidak akan mengakibatkan suatu kegagalan.  Memiliki semangat dalam melakukan pekerjaan tentu akan lebih tekun, rajin dan mempunyai rasa senang dalam melakukan pekerjaan, sehingga tidak akan mengalami suatu kejenuhan dan kebosanan. 
     Menjalani hidup ini maupun melakukan suatu hal diperlukan adanya viriya atau semangat. Dalam Dhammapada bab Sahassa Vagga ayat 112 Buddha menjabarkan bahwa:
Daripada hidup selama seratus tahun bermalas-malasan dan kurang berusaha, lebih baik hidup satu hari yang penuh dengan semangat perjuangan (Dh. I:2).

Semangat memang harus dimiliki oleh setiap orang, dalam hal ini semangat berperan penting dalam menjalani kehidupan. Buddha telah menjelaskan bahwa setiap orang dalam menjalakan kehidupan ini harus mempunyai semangat. Semangat yang dimiliki oleh setiap orang dapat memberikan suatu hal yang positif.  Manfaat yang diperoleh dengan mengembangkan semangat yaitu tidak bermalas-malasan, selalu berusaha, memiliki keuletan, ketekunan untuk mengerjakan berbagai hal. Viriya bala  merupakan kekuatan dari semangat (A.V:318). Semangat dalam hal ini ditekankan pada empat usaha benar, Usaha-usaha tersebut adalah: (1) Untuk mencegah munculnya keadaan yang tak bajik dan jahat yang belum muncul, (2) Untuk menghilangkan keadaan yang tak-bajik dan jahat yang sudah ada, (3) Untuk mengembangkan keadaan bajik yang belum muncul, (4) untuk menahan dan menyempurnakan keadaan bajik yang sudah ada (S. IX:2542).
     Untuk mencegah munculnya keadaan yang tak bajik dan jahat yang belum muncul maksudnya membangun tekat untuk menghindari munculnya keadaan yang yang jahat, tak bajik, belum muncul dengan cara melakukan suatu usaha, membangkitkan suatu energinya, mengerahkan pikirannya untuk berjuang. Usaha benar bertujuan untuk mengatasi keadaan-keadaan tak bajik, kotoran batin. Untuk menghilangkan keadaan yang tak bajik dan jahat sudah ada yaitu membangun suatu tekat yang kuat untuk mengatasi keadaan-keadaan yang jahat, tidak bajik, yang sudah muncul dan melakukan usaha, menggunakan energi, mengunakan pikiran untuk selalu berjuang.
     Untuk mengembangkan keadaan bajik belum muncul yaitu membangun tekat untuk membangkitkan keadaan-keadaan bajik yang masih belum muncul dan melakukan usaha dan penuh perjuangan. Hal ini usaha untuk menghapus kotoran batin juga dilakukan usaha benar untuk mengembangkan keadaan bajik pikiran. Dalam usaha mengembangkan keadaan bajik yang belum muncul, setiap orang harus berusaha untuk membangkitkan keadaan-keadaan bajik yang belum muncul selanjutnya mematangkan keadaan-keadaan bajik yang sudah muncul.
     Untuk menahan dan menyempurnakan keadaan bajik yang sudah ada yaitu membangun tekat, usaha untuk memelihara hal-hal bajik yang sudah muncul dengan terus mengembangkan agar keadaan tersebut tidak lenyap. Usaha yang terakhir ini ditekankan pada faktor penjagaan hal-hal bajik yang sudah muncul.  
     Untuk mengembangkan dari empat hal tersebut diperlukan adanya perjuangan yang sungguh-sungguh, ketekunan dan keuletan serta kesabaran. Dilakukan dengan mengunakan suatu usaha, membangkitkan suatu energi dengan selalu berpikir dan selalu berjuang. Mengembangkan empat hal tersebut tentunya ada kesulitan-kesulitan baik secara sadar maupun secara tidak sadar akan dihadapi, hal ini diperlukan kesabaran dan ketekunan. 
     Buddha menekankan dalam mengerjakan segala sesuatu membutuhkan suatu usaha, ketekunan, kerja keras, dan keteguhan  terus menerus. Ketekunan dalam usaha sangat penting karena setiap orang harus bekerja untuk  membebaskan dirinya sendiri. Buddha menunjukan jalan menuju pembebasan dan harus dipraktikan. Hal ini memerlukan kerja keras dan keteguhan terus menerus. Usaha yang terus menerus dipakai untuk mengembangkan pikiran selalu fokus terhadap keseluruhan jalan (Bodhi, 2010:74). 
     Semangat yang ada dalam setiap orang dapat bermanfaat dalam melakukan berbagai hal termasuk pekerjaan. Setiap orang dengan memiliki kekuatan semangat maka, dalam bekerja memiliki ketekunan, kerja keras, konsekuen terhadap pekerjaan yang dijalankan. Memiliki semangat dalam bekerja akan memperoleh hasil yang maksimal dan tidak akan merasakan kebosanan dan kejenuhan, melainkan terus rajin, tekun dan selalu konsekuen dalam melakukan pekerjaan.

2.3 Kekuatan Kesadaran (Sati Bala)

      Menurut Vidhurdhammābhorn (1992:179) sati bala  atau kekuatan kesadaran dapat diartikan sebagai menggingat. Menggingat disini ditekankan pada menyadari hal-hal yang perlu dilakukan serta menyadari hal-hal yang tidak patut dilakukan karena tidak membawa manfaat. Dalam melakukan pekerjaan setiap orang menyadari pekerjaan yang harus dilaksanakan, serta menyadari pekerjaan yang tidak patut dikerjakan karena tidak membawa manfaat. Dengan memiliki  samādhi bala maka setiap orang akan selalu mengontrol diri dan tidak akan lupa terhadap pekerjaan yang dijalankan. 
      Pernyataan Vidhurdhammābhorn sati bala atau kekuatan kesadaran didefinisikan sebagai menggingat. Hal tersebut ternyata selaras dengan Wuryanto (2007:70) mendefinisikan sati bala. Sati bala merupakan  kemampuan untuk mengingat, waspada dan sadar  dengan apa yang dilakukan atau dikerjakan. Kesadaran yang dimiliki oleh setiap orang harus dikembangkan. Dengan mengembangkan kesadaran dalam melakukan pekerjaan selalu memperhatikan dengan sungguh-sungguh tanpa melupakan tugasnya. Apabila seorang selalu sadar dan memperhatikan pekerjaan yang sedang dilakukan sehingga dapat menyelesaikan dengan baik. Memiliki kesadaran serta perhatian terhadap pekerjaan yang sedang dilakukan maka tidak mudah untuk berganti pekerjaan yang lain. 
      Dalam buku jalan menuju akhir dari penderitaan Bodhi (2010:89) memberikan batasan menggenai  sati, sati  merupakan keadaan pikiran penuh dengan perhatian dan kewaspadaan. Buddha  menjelaskan dalam Dhammapada bab Appamāda Vagga ayat 23 bahwa:
Tabah dan penuh perhatian, suci dalam setiap perbuatan, hati-hati dalam setiap tingkah laku, mengendalikan diri dengan baik, dan hidup secara benar, maka orang akan selalu sadar ini akan maju dengan cepat (Dh. II:10).

     Memiliki ketabahan, mengendalikan diri dengan baik dan penuh perhatian dalam melakukan berbagai hal dapat memperoleh manfaat yang baik.  Setiap melakukan berbagai hal sati  yang terdapat dalam masing-masing individu harus dikembangkan.  Sati bala merupakan kekuatan kewaspadaan  (A.V:318).  Dalam hal ini ditekankan terhadap empat landasan kewaspadaan. Empat landasan tersebut yaitu perenungan terhadap tubuh, perenungan terhadap perasaan, perenungan terhadap keadaan pikiran dan perenungan terhadap fenomena.
     Perenungan terhadap tubuh (kayanupassana) maksudnya perenungan terhadap perhatian pernafasan. Dalam perhatian pernafasan membutuhkan sebuah tarikan nafas atau nafas yang panjang dicatat sebagai hal yang muncul, dan sebuah tarikan napas atau hembusan napas yang pendek dicatat sebagai hal yang muncul. Perenungan terhadap perasaan (vedananupassana) diberi batasan terhadap kualitas perasaan. Kualitas perasaan yaitu perasaan menyenangkan, perasaan menyakitkan, perasaan netral. Perasaan merupakan suatu hal yang tidak terpisahkan dengan kesadaran, karena melakukan berbagai hal mengunakan perasan.  
     Perenungan terhadap pikiran (cittanupassana), sebuah tindakan kesadaran disebut citta. Citta sering diartikan sebagai suatu keadaan pikiran. Setiap citta terdiri dari banyak komponen diantaranya yaitu kesadaran itu sendiri, proses yang mengalami obyek paling dasar. Bersama dengan kesadaran setiap citta mengandung komponen-komponen yang disebut cetasika. Perenungan terhadap fenomena (Dhammanupassana) memiliki dua arti yang saling berhubungan yaitu cetasika-cetasika, faktor-faktor mental dan elemen-elemen kenyataan yang mana telah diajarkan Buddha. Hal tersebut sering diterjemahkan dengan Dhamma sebagai fenomena. Faktor mental ini meliputi tujuh faktor pencerahan (perhatian, penyelidikan, energi, kegiuran, ketenangan, kosentrasi dan keseimbangan batin) dan empat kebenaran mulia (dukkha, asal mula dukkha, lenyapnya dukkha, jalan menuju lenyapnya dukkha). 

2.4  Kekuatan Kosentrasi  (Samādhi Bala)

Jalan Mulia Berunsur Delapan kosentrasi benar berlandaskan pada pikiran benar (kusala citta), pemusatan pikiran pada obyek dapat menghilangkan kekotaran batin, sehingga membuat batin menjadi lebih tenang dan melatih untuk kesabaran. Dengan kosentarsi benar maka setiap orang akan mendapatkan ketenangan batin sehingga dalam melakukan pekerjaan mempunyai kemantapan batin dan kemantapan pikiran. Vidhurdhammābhorn (1992:179) mendefinisikan samādhi bala merupakan kemantapan batin atau kemantapan pikiran dalam menghadapi segala pekerjaan. Samādhi bala dalam menjalankan pekerjaan sangat dibutuhkan karena hal ini dapat membawa setiap orang memiliki kemantapan batin dan kemantapan pikiran dalam menghadapi semua pekerjaan, baik dalam bidang duniawi maupun dalam bidang keagaman.
     Lebih lanjut Wuryanto (2007:85) dalam buku berjudul wirausaha buddhis menyatakan samādhi bala merupakan pemusatan pikiran dengan teguh dalam menghadapi pekerjaan baik dalam bidang duniawi maupun bidang keagaaman. Setiap orang apabila mengahadapi pekerjaan duniawi  seperti menulis, membaca, mendengar setiap orang harus selalu memusatkan pikiran dengan teguh. Dalam bidang keagamaan seperti melatih, mengontrol dan membimbing pikiran sehingga dapat terarah dan membentuk kekuatan batin atau pikirian yang mantap.   
Secara umum pengertian meditasi atau samādhi merupakan pendekatan psikologis untuk pengembangan, pelatihan dan pemurnian pikiran (Dhammananda, 2005:295). Meditasi  umumnya apabila dipraktikan mempunyai tujuan untuk pelatihan mental dan pengembangan sepiritual. Meditasi dalam agama Buddha terdapat dua yaitu: Meditasi samatha-bhāvanā dan meditasi vipassanā-bhāvanā (Nayaka, 2009:104 ). Meditasi samatha-bhavana merupakan meditasi bertujuan untuk mengembangkan ketenangan sedangakan vipassanā-bhāvanā merupakan meditasi untuk mencapai pandangan terang. Vipassanā berasal dari bahasa pali kuno yang mempunyai arti melihat kedalam, padangan terang, kebijaksanaan. Vipassanā bhavana merupakan sari ajaran Buddha yang berupa pengalaman.
     Samādhi bala memang harus dimiliki oleh setiap orang dalam melakukan berbagai hal. Apabila melaksanakan dan mengembangkan meditasi samātha bhavana  memperoleh ketenangan batin sehingga lebih mempunyai kemantapan batin dan kemantapan pikiran terhadap sesuatu hal yang dilakukan. Bodhi (2010:108) menyatakan bahwa samādhi sebagai pemusataan pikiran, dapat menimbulkan konsentrasi yang bajik, mengumpulkan keadaan-keadaan pikiran yang terpencar dan terhambur untuk selalu terkosentrasi. Pikiran yang terkosentrasi terdapat dua ciri yaitu penuh perhatian yang tak terputus pada suatu obyek dan ketenangan. 
     Samādhi bala merupakan kekuatan dari kosentrasi (A. V:318).  Kekuatan dari kosentrasi ini ditekankan terhadap  empat jhāna. Maksudnya bahwa memiliki samādhi bala apabila dikembangkan untuk melakukan meditasi akan memperoleh jhāna satu, jhāna dua, jhāna tiga dan jhāna empat. Samādhi bala apabila dikembangkan memperoleh manfaat tergantung dari hal yang dilakukan. Samādhi bala dikembangkan oleh setiap orang dalam melakukan bebagai hal termasuk dalam bekerja maka pikiran akan lebih tenang dan mempunyai kemantapan batin serta kemantapan  pikiran sehingga pekerjaan yang dilakukan mendapatkan hasil lebih baik. Memiliki kemantapan pikiran dalam melakukan pekerjaan membuat pikiran tidak terpecah-pecah memikirkan pekerjaan yang lain, melainkan lebih kosentrasi terhadap pekerjaan yang dilakukan.

2.5 Kekuatan kebijaksanaan (Paññā Bala)

Vidhurdhammābhron (1992:180) dalam buku  berjudul ajaran bagi pemula mendifenisikan paññā bala merupakan kekuatan kebijaksanaan. Kebijaksanaan dapat diartikan sebagai pengetahuan. Kekuatan pengetahuan meliputi pengetahuan akan kejahatan (pāpa) dan kekuatan kebaikan (puñña). Pengetahuan dalam hal ini mengetahui mana yang baik serta manfaat dari pekerjaan yang dilakukan. Setiap orang dalam melakukan berbagai hal, termasuk dalam hal bekerja dengan memiliki kebijaksaan akan memudahkan dalam bekerja. Paññā bala merupakan kekuatan kebijaksanaan (A. V:318). Kebijaksanaan ini dapat dilihat dalam  empat kebenaran mulia (kensunyataan suci tentang dukkha, kesunyataan suci tentang asal mula dukkha, kesunyataan suci tentang lenyapnya dukkha, kesunyataan suci tentang jalan menuju lenyapnya dukkha).
Jalan Mulia Berunsur Delapan terbagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok sila, kelompok samādhi dan kelompok paññā. Kelompok paññā atau Kebijaksanaan terdiri dari pandangan benar dan pikiran benar (Issara, 2004:29). Pandangan benar maksudnya mengetahui empat kesunyataan mulia, mengetahui perbuatan baik, buruk beserta akarnya dan mengetahui tiga corak alam (ketidakkekalan, penderitaan, tidak ada jiwa yang kekal). Dengan pandangan benar seseorang dapat mengetahui hal-hal mana yang hendak dilakukan agar mendatangkan manfaat. 
Pikiran benar merupakan pikiran yang tidak mementingkan diri sendiri dan pikiran yang tebebas dari kemelekatan, kebencian, keserakahan, keinginan jahat, pikiran cinta kasih tanpa kekerasan kepada semua makhluk. Buddha menjelaskan bahwa pikiran memiliki tiga ruas yaitu kehendak untuk meninggalkan duniawi, kehendak untuk berniat baik dan kehendak untuk tidak merugikan orang lain (Boddhi, 2006:42).  Dengan memiliki pikiran benar maka dalam bekerja tidak akan merugikan pihak lain. Pikiran merupakan pemimpin dari semua orang bertindak, melakukan perbuatan termasuk dalam bekerja. Dalam Dhammapada bab Yamaka Vagga ayat 1 dijelaskan bahwa:
Pikiran mendahului semua kondisi batin, pikiran adalah pemimpin, segalanya diciptakan oleh pikiran. Apabila dengan pikiran yang jahat seorang berbicara atau berbuat dengan jasmani, maka penderitaan akan mengikuti si pelaku karenanya, seperti roda kereta yang mengikuti jejak kaki lembu jatan yang menariknya (Dh. I:3).

Pikiran merupakan pemimpin dalam melakukan suatu perbuatan. Dalam menjalankan berbagai hal termasuk dalam bekerja setiap orang hendaknya mempunyai pikiran benar serta pandangan benar. Dua hal tersebut merupakan rangkaian dari kebijaksanaan atau paññā. Berdasarkan Abhidhamma, kebijaksanaan dibagi menjadi tiga macam, yaitu: (1). kebijaksanaan yang diperoleh dari pikiran, (2). kebijaksanaan yang diperoleh dari mendengar, (3). kebijaksanaan yang diperoleh dari pengembangan batin (U Ba Khin, 1997:170).
Kebijaksanaan dari pikiran maksudnya pengetahuan mengenai berbagai hal, termasuk berbagai keahlian, profesi. Kebijaksanaan jenis ini meliputi pemikiran masalah Dhamma maupun masalah masalah duniawi. Kebijaksanaan yang diperoleh dari mendengar merupakan pengetahuan yang diperoleh seorang dengan jalan bertanya dan mendengarkan kata-kata orang yang bajik. Hal ini dilakukan apabila seorang tidak memperolehnya dari berpikir sendiri, tetapi jenis kebijaksanaan ini sangat luas.  Kebijaksanaan diperoleh dari pengembangan batin merupakan kebijaksanaan ketika mencapai jhāna dan buahnya. Untuk melakukan pekerjaan pikiran benar serta pandangan benar bermanfaat karena dalam hal ini merupakan pengetahuan untuk mengetahui hal-hal yang dilakukan dalam bekerja membawa manfaat.
Mettadewi (2001:10) menyatakan bahwa dengan memiliki paññā atau kebijaksanaan setiap orang dapat mengambil langkah-langkah yang baik dan tepat. Seorang dapat melakukan hal-hal yang bermanfaat dan menghindari segala sesuatu yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dengan memiliki paññā atau kebijaksanaan setiap orang akan terus berjuang dalam menjalankan kehidupan penuh dengan tantangan, sehingga tidak mudah putus asa, melainkan memiliki cara berpikir yang lebih dewasa dan mampu menerima kenyataan sebagaimana adanya. Wuryanto (2007:84) mendefinisikan paññā bala adalah kekuatan kebijaksanaan atau kekuatan pengetahuan.  Kebijaksanaan perlu digunakan dalam melakukan berbagai hal termasuk dalam hal berkerja. Dalam bekerja memiliki kebijaksanaan maka akan mengetahui mana pekerjaan yang pantas dikerjakan dan baik untuk dilakukan.
     Melakukan pekerjaan dengan mengembangkan kekuatan kebijaksanaan maka akan lebih mengetahui hal-hal mana yang perlu dikerjakan dan tidak perlu dikerjakan. Memiliki kebijaksanaan dalam menjalankan pekerjaan maka  akan terus berjuang, apabila pekerjaan yang dijalankan mengalami kegagalan tidak mudah putus asa untuk meningalkan pekerjaan, melainkan dengan menggunakan kebijaksanaan terus dapat mengevaluasi pekerjaan yang dijalankan.

3 Klasifikasi Penghasilan Secara Profesional

     Pekerjaan yang dilakukan  dengan kemampuan, keuletan, ketekunan  akan mendapatkan hasil yang maksimal. Penghasilan yang diperoleh akan  digunakan secara tepat, sehingga dalam melakukan pekerjaan tidak akan sia-sia. Setiap orang hendaknya dalam memperoleh penghasilan membagi pengasilan secara tepat agar dapat memenuhi kebutuhan hidup. 
     Buddha menjelaskan kepada pemuda Sigala bagaimana membagi penghasilan secara tepat agar dapat bermanfaat dengan cara: (1). Sebagian digunakan untuk membiayai kehidupan sehari-hari, (2). Dua bagian harus digunakan untuk pekerjaan atau dipakai untuk menambah modal, (3). Sebagian disimpan sebagai cadangan pada saat dibutuhkan (D. 2009:490).
     Penghasil yang diperoleh seharusnya dipergunakan secara baik dan benar. Buddha telah memberikan cara yang tepat dalam mengatur pengahasilan. Penghasilan  dapat bermanfaat apabila digunakan untuk kepentingan diri sendiri maupun untuk membantu kepentingan orang lain. 
     Dalam Kitab Jataka kañcnakkhandha Buddha menjelaskan kisah kelahiran lampau. Brahmadatta memerintah di Brenares, Bodhisata terlahir sebagai seorang petani. Suatu hari membajak ladang yang dulunya merupakan sebuah perdesaan. Pada massa desa tersebut masih berdiri seorang saudagar wafat dengan meninggalkan potongan emas besar, tertanam dalam tanah yang sekarang merupakan ladang tersebut. Potongan emas tersebut setebal lingkaran, dengan panjang empat kubik penuh. Ketika sedang membajak, bajak Bodhisatta mengenai potongan emas yang tertimbun dalam tanah, lalu menggali dan membersihkan kotoran dari emas tersebut. Waktu kerja telah berakhir dan matahari telah terbenam. Bodhisatta mencoba untuk menempatkan potongan emas dibahu dan membawa untuk pergi, namun tidak mampu mengangkatnya. Bodhisatta duduk didepan harta tersebut dan berpikir secara mendalam apa yang akan dilakukan. Bodhisatva memotong emas tersebut menjadi empat bagian. Satu bagian akan keguanan kebutuhan sehari-hari, bagian kedua akan kusimapan pada saat musim hujan, bagian ketiga akan kugunakan untuk usaha petanian, dan bagian terakhir akan diberikan pada fakir miskin dan orang membutuhakan serta pekerjaan yang giat. Pembagian tersebut membuat lebih ringan dalam hal untuk membawa potongan emas kerumahnya (J, 2009:323).



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar