Minggu, 13 Maret 2011

Pandangan Sosial Agama Buddha

Konsep Sosial Agama Buddha

            Dalam agama Buddha hukum-hukum moral tidak dibuat atau ditentukan oleh pribadi tertentu, melainkan merupakan bagian tak terpisahkan dari hukum-hukum universal maupun alam yang dapat dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Sang Buddha menaruh perhatian mendalam terhadap kesejahteraan manusia dan telah mengajarkan pedoman-pedoman untuk mencapai kebahagiaan dalam kehidupan masyarakat. Ajaran beliau bersifat realistik, rasional, pragmatis, dan humanistik sebagai dasar-dasar etis yang diperlukan manusia dalam kehidupannya. Bagi kehidupan perumah tangga maupun kehidupan viharawan, beliau menggariskan etika sosial atas dasar persaudaraan dan kasih sayang timbal balik antar manusia dalam hubungan sosial mereka, dan terus menerus mendorong mereka untuk mengembangkan tenggang rasa sosial, agar mereka dapat hidup berdampingan secara damai dan bahagia.
Cita-cita Sosial
   Etika bersangkutan dengan penilaian tingkah laku manusia dengan masalah baik buruk, benar dan salah, adil dan tidak adil, dengan kewajiban, hak dan tanggung jawab dengan tujuan tertinggi dalam hidup dan bagaimana mencapainya. Etika sosial agama Buddha menekankan bahwa setiap orang harus melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab masing-masing sesuai dengan kedudukan sosialnya, yang ditentukan hubungannya dengan masyarakat lain, berdasarkan prinsip-prinsip moral sehingga orang akan mencapai kesejahteraan, kemakmuran dan kebahagiaan dalam masyarakat.
Kedudukan Umat Awam
Sekalipun pencapaian Nibbana sebagai tujuan terakhir, latihan kerohanian buddhis terbuka bagi para Bhikkhu maupun umat awam, namun kesibukan-kesibukan duniawi seorang awam merupakan hambatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan hambatan yang dialami oleh seorang bhikkhu untuk mencapainya. Ibarat perumpamaan tiga jenis ladang, yaitu ladang yang subur, ladang yang sedang dan ladang yang gersang. Yang pertama ibarat para Bhikkhu, yang kedua adalah umat awam siswa Buddha, yang ketiga adalah para pertapa atau Brahmana yang berpandangan lain. Hal tersebut membuktikan bahwa pencapaian Nibbana lebih mudah dilakukan oleh mereka yang meninggalkan kehidupan duniawi.
Norma Moralitas
Dalam kehidupan sehari-hari seorang umat awam diminta untuk menyatakan berlindung pada Buddha Dhamma dan Sangha, serta menjalankan Pancasila dan dianjurkan untuk menepati dasakusalakamma.


Anjuran Mengenai Cara-cara Penghidupan
Kemakmuran ekonomis sebagai landasan bagi kehidupan yang baik sangat ditekankan.  Menurut Sang Buddha, kemiskinan adalah suatu keadaan yang celaka dalam hidup ini. Untuk mencapai tujuan di dunia, seseorang harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Jika seseorang bersungguh-sungguh bekerja menjalankan kewajibannya, selalu waspada, murni tindak tanduknya, terkendali dan sadar, jika dia hidup sesuai Dhamma dan bersungguh-sungguh, kemuliaannya akan terus bertambah.
            Terdapat empat faktor lain yang membantu umat awam mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidup ini, yaitu; pencapaian daya upaya, pencapaian kewaspadaan, bergaul dengan orang-orang baik, dan kehidupan yang seimbang.
            Dalam pemeliharaan kekayaan yang telah diperoleh, terdapat enam hala yang harus dihindarkan karena menyebabkan habisnya kekayaan, yaitu; kebiasaan minum-minuman keras, kebiasaan keluyuran di jalan pada waktu yang tak pantas, kebiasaan sering pergi ketempat keramaian, kebiasaan berjudi, kebiasaan bergaul dengan orang yang buruk, kebiasaan bermalas-malasan
            Ajaran agama Buddha mengenai hak dan kewajiban di dalam hubungan sosial antar anggota keluarga dan antar anggota masyarakat bersumber dari petunjuk Sang Buddha kepada pemuda Sigala. Sang Buddha mengatakan bahwa keenam arah itu mewakili enam kelompok manusia yang kita temui dalam kehidupan sehari hari.
Hubungan Antara Suami-Istri
            Hubungan prkawinan dan kehidupan keluarga sebagai satuan dasar dari masyarakat. Bila suami dan istri ingin saling tetap bersama-sama dalam hidup ini dan kehidupan yang akan datang, keduanya harus seimbang dalam keyakinan, moral, kemurahan hati dan kebijaksanaan. Sang Buddha membedakan empat jenis pasangan yaitu; chavo dengan chava mereka merupakan pasangan yang buruk, devi dengan chavo, dewa dengan chava, dan dewa dengan dewi. Pasangan yang terakhir yang dipuji oleh Sang Buddha. Kepada para istri, Sang Buddha menganjurkan agar tidak berbuat seperti salah satu dari tiga jenis istri berikut ini, yaitu istri pembunuh, istri perampok dan istri putri. Sebaliknya, Sang Buddha tentang empat jenis isti yang dipandang saleh, ideal dan patut didambakan yaitu; istri ibu, istri saudara, istri sahabat, istri pelayan.
            Mengenai suami secara umum Sang Buddha mengatakan bahwa seseorang yang menyokong orang tua, istri dan anak, bekerja untuk kebaikan keluarga dan masyarakat luas dapat disebut sebagai seorang yang baik dan berharga. Dalam kitab Jataka disebut tentang delapan hal yang menyebabkan suami dibenci oleh istrinya sendiri yaitu; miskin, sakit-sakitan, tua, bermabuk-mabukan, bodoh, kurang perhatian, terlalu sibuk, dan menghambur-hamburkan uang. Secara positif para suami dianjurka untuk memelihara istri mereka dengan cara; bersikap manis, menghormatinya, tidak membencinya, setia kepadanaya, memberikan wewenang kepadanya, menghadiahkan perhiasan, berbicara ramah pada istrinya, membantu dalam segala pekerjaan, membawanya mengunjungi upacara-upacara keagamaan, dan menasehati istrinya dalam hal kebaikan.
Hubungan Antara Orang Tua dan Anak
Dalam agama Buddha, cinta dan penghormatan terhadap orang tua sangat ditekankan. Mereka harus memelihara orang tua mereka yang sudah tua, harus mempertahankan kehormatan keluarga dan meneruskan tradisi-tradisi keluarga, melindungi harta benda yang telah dihimpun orang tua mereka dan harus melakukan persembahyangan sebagaimana layaknya pada waktu orang tua mereka meninggal.
            Sebaliknya orang tua mempunyai tanggung jawab terhadap anak-anak mereka  yaitu; mereka harus dapat menghindarkan anak-anaknya dari perbuatan yang tidak baik, harus menganjurkan untuk melakukan perbuatan baik, memberikan pendidikan, menikahkan mereka dari anak-anak dari keluarga yang baik, dan menyerahkan warisan mereka pada saat yang tepat.
Hubungan Antara Sahabat
Mereka harus saling tolong menolong, berbicara sopan dan menyenangkan, harus bekerja demi kejayaan bersama, bekerja satu sama lain, menjauhi perselisihan,
Hubungan Antara Guru Dengan Murid
Murid harus menghormati dan mendengarkan kata-kata guru, haus belajar dengan tekun
Sebaliknya guru harus melatih dan mendidik muridnya secara seksama. Harus memberikan muridnya satu pegangan hidup dan berusaha mencarikan pekerjaan yang layak jika pendidikan sudah selesai.
Hubungan Antara Majikan dan Pegawai
Majikan mempunyai beberapa kewajiban terhadap pelayannya, yaitu; ia harus memberikan pekerjaan yang dapat dan mampu dikerjakan oleh pegawainya, harus membayar gaji yang sesuai, menjamin perawatan kesehatan, sewaktu-waktu memberikan uang tambahan atau hadiah.
            Sebaliknya pelayan harus bekerja rajin dan tidak bermalas-malasan, jujur dan tidak menipu majikannya, tekun dalam pekerjaannnya.
Hubungan Antara Para Bhikkhu dengan Umat
Umat harus mengurus semua keperluan para bhikkhu dengan cinta kasih dan penuh rasa hormat. Para Bhikku memberikan pengetahuan dan ajaran kepada para umatnya dan membimbing mereka melalui jalan yang benar dan menjauhkan mereka dari segala sesuatu yang tidak baik.














2 komentar:

  1. Namo Buddhaya, trima kasih blok ini sangat membantu saya mengerjakan tugas.

    BalasHapus
  2. Thanks untuk blog ini.....lebig bagus lagi klau disertakan dengan sumber-sumber referensinya. lebig sangat membantu pembaca untuk cross chek lebih mendakam mengeni poin-poinnya.

    BalasHapus