Tampilkan postingan dengan label UMUM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UMUM. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juni 2012

31 ALAM KEHIDUPAN DALAM AGAMA BUDDHA


Dalam Agama Buddha dipercayai adanya 31 Alam Kehidupan yang secara garis besarnya terbagi atas:
1. Empat Alam Kemerosotan (apâyabhûmi),
2. Satu Alam Manusia (manussabhûmi),
3. Enam Alam Dewa (devabhûmi),
4. Enam Belas Alam Brahma Berbentuk (rûpabhûmi), dan
5. Empat Alam Brahma Nirbentuk (arûpabhûmi).
I. Empat Alam Kemerosotan (Apâyabhûmi)
Istilah ‘apâyabhûmi’ terbentuk dari tiga kosakata, yakni ‘apa’ yang berarti ‘tanpa, tidak ada’, ‘aya’ yang berarti ‘kebajikan’, dan ‘bhûmi’ yang berarti ‘alam tempat tinggal makhluk hidup’. Apâyabhûmi adalah suatu alam kehidupan yang tidak begitu ada kesempatan untuk berbuat kebajikan. Delapan jenis suciwan tidak akan terlahirkan di alam ini, dan tidak ada satu makhluk pun dalam alam ini yang mampu meraih kesucian dalam kehidupan sekarang. Alam ini juga sering disebut sebagai ‘dugga-tibhûmi’.
‘Duggati’ terbentuk dari dua kosakata, yakni ‘du’ yang berarti ‘jahat, buruk, sengsara’, dan ‘gati’ yang berarti ‘alam tujuan bagi suatu makhluk yang akan bertumimbal lahir’. Duggatibhûmi adalah suatu alam kehidupan yang buruk, menyengsarakan. Walaupun kerap dipakai se-bagai suatu padanan, duggatibhûmi sesungguhnya tidaklah sama persis cakupannya dengan apâyabhûmi. Apâyabhûmi terdiri atas empat alam, yakni:
a) Alam Neraka (Niraya),
b) Binatang (Tiracchâna),
c) Setan (Peta),
d) Iblis (Asurakâya).
Karena tidak semua binatang hidup dalam kesengsaraan, alam ini tercakup dalam duggatibhûmi secara tidak menyeluruh dan langsung.
Empat Alam Kemerosotan, alam manusia dan enam alam dewa termasuk sebagai Alam Nafsu Inderawi (kâmabhûmi).

Selasa, 21 Februari 2012

REMAJA BUDDHIS


Sebagai remaja Buddhis juga harus memiliki perilaku yang baik dengan menerapkan dan meneladani sifat-sifat luhur Buddha. Dengan berperilaku baik maka akan selalu disukai dan disayangi oleh orang lain. Ada beberapa sifat luhur Buddha yang dapat dijadikan patokan bagi remaja buddhis untuk menumbuhkan perilakunya agar menjadi lebih baik yaitu:

1 Hiri atau Malu Berbuat Jahat

Remaja harus mempunyai rasa malu untuk berbuat jahat, karena ini merupakan benteng pertama agar kehidupan remaja tidak salah langkah dalam pergaulan. Orang tua dalam memberikan pendidikan  pada anak harus dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang tidak baik agar anak tidak mempunyai keraguan dalam mengambil keputusan. Penjelasan yang diberikan oleh orang tua sebaiknya harus diberikan sejak dini untuk menghindari anak tidak melakukan perbuatan jahat.
Orang tua yang selalu memberikan pengertian dan latihan kemoralan pada anak sejak kecil, maka anak akan memiliki perilaku kebajikan sesuai apa yang dianjurkan oleh orang tuanya. Orang tua adalah brahmana didalam rumah yang selalu dihormati oleh anak-anaknya (A, II:63). Orang tua dalam mendidik anak remajanya dapat menggunakan acara-acara yang ada di televisi sebagai alat untuk mendidik, karena televisi banyak memberikan contoh mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang tidak baik. Setelah anak dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang tidak baik, maka orang tua dapat memberikan pendidikan pada anak remajanya tentang menumbuhkan rasa malu untuk melakukan kejahatan. Orang tua juga harus dapat mengkondisikan pikiran anaknya agar memiliki rasa malu, merasa tidak pantas untuk melanggar peraturan kemoralan yang ada dilingkungan masyarakat. (http://www.banjar-jabar.go.id/ diakses pada tanggal 03 maret 2011).

2 Ottapa atau Takut Akibat Perbuatan Jahat


Apabila anak sudah mulai dewasa, orang tua harus menunjukkan suatu perbuatan yang tidak pantas atau memalukan untuk dilakukan oleh anaknya. Apabila anak melakukan perbuatan buruk maka akibat buruk ini akan berdampak bagi anak, selain itu juga keluarga, orang tua, serta masyarakat. Dalam hal ini orang tua wajib memberikan uraian tentang akibat dari perbuatan jahat agar anak dapat mengerti dan memahami akibat dari perbuatan jahat. Orang tua dapat memberikan perumpamaan kepada anaknya kalau tidak mau dicubit jangan mencubit orang lain. Artinya apabila kita tidak senang terhadap suatu perbuatan tertentu, sebenarnya hampir semua orang pun bahkan semua makhluk cenderung tidak suka pula dengan hal itu. Rata-rata semua makhluk, dalam hal ini, manusia memiliki perasaan serupa. Penjelasan seperti ini akan membangkitkan kesadaran anak bahwa perbuatan buruk yang tidak ingin dialaminya akan menimbulkan perasaan yang sama bagi orang lain. http://www.banjar-jabar.go.id/diakses pada tanggal 03 maret 2011
Mempunyai perasaan malu dan takut untuk melakukan perbuatan yang tidak baik ataupun perbuatan jahat ini akan melindungi diri remaja. Sehubungan dengan perasaan malu dan takut akan perbuatan jahat  Sang Buddha bersabda:
Mereka yang didalam dirinya tidak dapat ditemukan rasa malu dan berbuat salah, telah menyimpang dari sumber yang terang, dan akan terseret pada kelahiran dan kematian, namun mereka yang didalam dirinya selalu ada rasa malu dan takut berbuat salah, yang damai, mantap dalam kehidupan suci, mereka dapat mengakhiri pembaharuan dumadi. (It, 1998:42)

Remaja harus memiliki perilaku yang mencerminkan suatu tindakan akan rasa malu dan takut untuk melakukan perbuatan jahat. Apabila remaja melaksanakan hal tersebut remaja akan dapat menempatkan dalam lingkungannya. Dengan demikian orang tua tidak merasa khawatir menghadapi diri naknya yang sudah remaja.

3 Sila Sebagai Pengendali Diri

Sila merupakan perilaku lahiriah manusia baik ucapan maupun perbuatan. Sila ini dapat diibaratkan seperti pakaian yang indah ketika kita kenakan pada badan dan membuat kita indah pula. Kata sila yang dipergunakan dalam agama Buddha mempunyai banyak arti antara lain kemoralan dan tatasusila (Panjika, 2004:373). Istilah sila yang digunakan dalam buddaya Buddhis mempunyai beberapa arti yaitu sifat, karakter, watak, kebiasaan, perilaku, kelakuan (Rashid, 1997:3)
Sila ini harus menjadi tuntunan perilaku bagi remaja karena sila ini akan berfungsi dalam mencegah, menahan, memutuskan serta mengendalikan pikiran, ucapan dan perbuatan jahat yang muncul pada diri remaja. Menjalankan manfaat perilaku bermoral dengan baik, maka akan memperoleh manfaatnya yaitu kegembiraan, suka cita, ketenangan, kebahagiaan, konsentrasi pikiran dan hilangnya nafsu (A, II:1). Dengan menjalakan manfaat perilaku bermoral dengan baik maka remaja akan memperoleh manfaatnya yaitu bergembira, sukacitta, ketenangan, kebahagiaan konsentrasi pikiran dan rasa muak juga hilangnya nafsu (A, III: 1). Apabila melaksanakan sila yang baik akan tercipta ketertiban dan ketenagan diri remaja maupun masyarakat disekitarnya seperti apa yang tertuang dalam Dhammapada, Puppha Vagga yaitu “ tidaklah seberapa harum bunga tagara dan kayu cendana, tetapi jauh lebih harum mereka yang memiliki sila (kebajikan ), nama harum mereka tersebar diantara para dewa di alam surga” (Dh, IV:56). Apabila perilaku bermoral ini dilaksanakan akan memperoleh pengetahuan dan pandangan pembebasan tertinggi. Perilaku bermoral ini akan membawa remaja lebih berhati-hati dalam bertingkah laku.

4 Berpikir Positif

Setiap tindakan yang dilakukan oleh remaja pasti didahului oleh pikiran, baik dalam tindakan yang positif maupun negatif. Sehubungan dengan pikiran dalam kitab suci Dhammapada, Yamaka Vagga bab 1 dab 2, Buddha bersabda:
Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati yang mengikuti kaki lembu yang menariknya. 
Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu; pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya bakaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya (Dh, I:2).

Dari isi Dhammapada dapat ditarik kesimpulan bahwa segala sesuatu berasal dari pikiran. Pikiran inilah yang menentukan remaja dalam bertingkah laku, dengan selalu berpikir positif maka kebahagiaan akan selalu mengikuti sebaliknya dengan pikiran yang jahat maka penderitaan akan mengikutinya. Remaja harus dapat mengontrol pikirannya dengan baik misalnya rasa jengkel, kemarahan, kekecewaan, kegelisahan, dan lain sebagainya dengan cara selalu berpikir positif. Apabila selalu berpikir positif maka remaja tidak akan melakukan perbuatan yang negatif.

5 Pelindung Bagi Diri Sendiri


Remaja harus dapat menjadikan diri sebagai pemuda yang baik dalam ucapan, piukiran maupun perbuatan. Apapun yang dilakukan oleh remaja tergantung dari dalam diri mereka sendiri, dia yang menentukan arah kehidupan mereka sendiri. Dalam Dhammapada, Bhikku Vagga, sang Buddha membabarkan syair:
“Sesungguhnya diri sendiri menjadi tuan bagi diri sendiri. Diri sendiri adalah pelindung bagai diri sendiri. oleh karena itu, kendalikan dirimu sendiri, seperti pedagang kuda menguasai kuda yang baik” (Dh, XXI:21)
Bila remaja dapat menerangi dirinya sendiri dan orang lain, maka akan melihat keidahan secara benar sebagai jati diri sendiri. Remaja harus dapat merubah perilakunya yang dulunya tidak baik mejadi remaja yang baik, karena yang dapat merubah perilakunya hanyalah diri sendiri. Bila dapat merubah dirinya sendiri menjadi baik maka akan mendapatkan kebahagiaan.

Pelindung Bagi Diri Sendiri



UPAYA MENINGKATKAN PERANAN KELUARGA DALAM MENDIDIK PERILAKU REMAJA BUDDHIS


1 Peranan Keluarga Dalam Mendidik Perilaku Remaja Buddhis

Mendidik adalah memelihara dan memberikan latihan mengenai perilaku dan kecerdasan pikiran. Sebelum keluarga memberikan suatu pendidikan kepada anak remajanya tentu harus memiliki pemahaman mengenai pengertian mendidik agar nantinya keluarga tidak salah arah dalam menentukan pola pendidikan yang diterapkan pada anak remajanya. Dalam memberikan pendidikan keluarga harus memiliki landasan dan dasar yang kuat yaitu dengan memahami apa yang sudah diajarkan oleh Buddha dalam Sigalovada Sutta yang menjelaskan bagaimana cara mendidik anak yang benar. Hendaknya keluarga berpedoman pada isi sutta ini agar mendapatkan hasil yang maksimal dalam mendidik anak. Keluarga juga harus benar-benar memahami apa yang memang dibutuhkan oleh remaja dalam hal mendidiknya.

1.1 Menanamkan Nilai-nilai Dhamma

Nilai Dhamma sangat penting bagi remaja dalam perkembangan pola perilakunya. Orang tua sebagai pendidik harus mengupayakan memberikan pendidikan  Dhamma sebagai benteng diri dalam berperilaku yaitu dengan menanamkan latihan kemoralitasan yaitu pancasila Buddhis dengan tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berbohong, tidak minum minuman keras. Dengan menanamkan latihan dasar melalui pancasila Buddhis anak akan memahami berbagai bentuk latihan pengendalian diri bahwa membunuh, mencuri, berbuat asusila, berbohong dan minum-minuman keras adalah tindakan yang melanggar norma agama. Dalam mendidik remaja orang tua harus memasukkan nilai-nilai Dhamma yang kuat agar remaja memiliki keyakinan akan agamanya, dengan memiliki keyakinan akan nilai-nilai Dhamma remaja tidak akan mudah terpengaruh akan hal-hal negatif yang akan mempengaruhi perilakunya. 
Orang tua juga harus mengajarkan cinta kasih kepada semua makhluk hidup dan rasa simpati kepada orang lain agar dalam diri remaja tumbuh saling menghargai antara individu. Dalam mengajarkan cinta kasih dan rasa simpati orang tua harus memberikan contoh sederhana melalui tindakan dan perbuatan karena dengan dicontohkan melalui tindakan dan perbuatan maka remaja akan lebih mudah mengerti bagaimana memancarkan cinta kasih dan memunculkan rasa simpati pada dirinya. Orang tua juga harus memberitahukan manfaat dari memancarkan  cinta kasih dan rasa simpati agar anak akan lebih tertarik untuk melakukan tindakan pemancaran cinta kasih. Dengan memberikan pendidikan tentang nilai-nilai Dhamma ini remaja akan memiliki benteng dalam melakukan sesuatu hal agar tidak terjerumus kearah pergaulan yang menyimpang.

1.2 Memberikan Pendidikan yang Sesuai

Pendidikan yang baik sebenarnya adalah warisan yang paling berharga yang diberikan orang tua kepada anak. Melatih dan mengajarkan  anak memiliki kepandaian dan keterampilan agar anak mempunyai profesi yang dapat diandalkan, sebagai modal untuk mandiri adalah sangat penting, karena suatu  saat anak akan mencari nafkah sendiri, Buddha mengatakan bahwa memiliki pengetahuan dan keterampilan adalah berkah utama. Keluarga harus selalu memperhatikan pendidikan anak jangan sampai pendidikan yang harus ditempuh anak terbengkalai. Pengarahan keluarga akan pendidikan sangat berpengaruh bagi anak karena pendidikan yang pertama kali diterima anak ada dalam keluarga, sebagai tempat pendidikan pertama bagi anak keluarga harus memberikan pendidikan yang sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimiliki anak. Pemberian keterampilan-keterampilan dalam berbagai bidang juga harus diberikan kepada anak sebagai bekal dalam menempuh kehidupan mandiri tanpa menggantungkan lagi hidupnya pada keluarga.
Keluarga dalam memberikan pendidikan ini tidak boleh lepas dari nilai-nilai agama sebagai pondasi anak untuk mengendalikan perbuatannya agar anak tidak  menggunakan kepintarnya menjadi sesuatu yang merugikan orang banyak. Pendidikan dan keahlian yang diberikan kepada anak tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral, etik dan spiritual agar pengetahuan yang dimiliki bermanfat bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara serta agama. Keluarga juga harus memberikan pemahaman apabila nantinya anak memiliki pengetahuan, kepandaian dan keahlian apapun tidak boleh didasari oleh perbuatan buruk. Keluarga juga harus membimbing anak-anaknya agar selalu hidup hemat, serta memperhatikan cara hidup yang baik agar nantinya ia dapat mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri.

1.3 Menanamkan Disiplin

Masa remaja merupakan masa bergejolak dimana remaja mulai mencari jati dirinya, dalam masa pencarian jati dirinya remaja melakukan tindakan-tindakan penentangan baik pada orang tua dan aturan-aturan di masyarakat. Dalam pencarian jati diri ini keluarga harus memberikan peratuan disiplin yang ketat pada remaja dan juga memberikan perhatian penuh terhadap perilaku-perilaku yang dilakukan remaja. Menanamkan disiplin ini bertujuan agar anak remaja dapat mengendalikan diri dan berperilaku baik. Penanaman disiplin baik di keluarga maupun di masyarakat harus diberikan kepada remaja agar remaja dapat mematuhi dan menghargai peraturan yang ada disekelilingnya. 
Keluarga pasti mengharapkan anak remajanya memiliki disiplin diri baik dalam lingkungan keluarganya dan masyarakat. Mendidik remaja agar menjadi disiplin merupakan kewajiban bagi keluarga. Keluarga harus memberikan peraturan-peraturan untuk remaja agar perilakunya dapat terbatasi oleh aturan yang telah dibuat. Pembuatan aturan ini harus melibatkan anak dalam pembuatannya, agar anak dapat menerima dan menyesuaikan peraturan yang dibuat juga. Apabila anak tidak dilibatkan dalam membuat peraturan dalam rumah maka anak akan merasa tertekan akan peraturan yang dibuat dan akan cenderung melanggar peraturan yang dibuat oleh keluarga. Setelah peraturan baru telah disepakati maka keluarga perlu selalu mengingatkan agar anak benar-benar menjalankan peratuaran. Pembuatan peraturan seperti ini akan lebih efektif untuk membuat anak remaja menjadi lebih disiplin.

1.4 Memberikan Teladan yang Baik

Orang tua sebagai guru awal bagi anak senantiasa harus memberikan teladan yang baik bagi anak dalam kondisi apapun. Selain menjadi teladan orang tua juga harus menunjukkan perilaku-perilaku baik yang harus ditunjukkan pada anak agar anak dapat menerima apa yang telah dicontohkan orang tuanya. Anak akan mudah menerima dan memahami apa yang diajarkan orang tuanya apabila terlebih dahulu mencontohkan prilaku yang baik. Misalnya orang tua mengajarkan anak untuk berdana, maka orang tua harus mencontohkan bagimana berdana yang baik. Dari melihat apa yang dicontohkan oleh orang tuanya, anak akan memahami dan mengerti bagaimana cara berdana itu. Orang tua harus menghindarkan contoh perilaku yang tidak baik pada anak remajanya karena anak saat usia remaja mudah terpengaruh akan suatu hal yang belum diketahuinya.
Pemberian teladan ini merupakan cara yang efektif bagi anak remaja karena perilaku yang dilakukan orang tua akan menjadi tolok ukur bagi perilaku yang akan diperbuat oleh anak nantinya. Perilaku remaja ini cenderung meniru perilaku orang disekitarnya maka dari itu keluraga harus berhati-hati dengan keadaan lingkungan keluarga, masyarakat, dan teman sebayanya sebab ini akan banyak mempengaruhi pola perilaku anak. Upayakan selalu mengontrol pergaulan anak dan selalu melibatkan anak dalam kegiatan yang bersifat positif sesuai dengan bakat yang dimiliki anak agar anak memiliki kesibukan sebagai pengalihan perhatian dengan lingkungan yang membuatnya berperilaku tidak baik.

1.5 Memberikan Pengetahuan Cara Bergaul yang Benar

Cara bergaul dalam masyarakat memiliki karakteristik yang berbeda-beda baik dalam cara berperilaku dan gaya bahasanya, dari perbedaan cara bergaul ini akan mempengaruhi remaja baik sikap maupun perilakunya. Remaja dalam bergaul harus mempunyai dasar sikap yang baik agar tidak terjerumus pada hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam hal bergaul remaja harus mempunyai sifat fleksibel, karena pergaulan tidak melihat apa dan dengan siapa kita bergaul. Dalam bergaul niat baik harus dimunculkan pada diri kita seperti sabda Buddha yaitu “janganlah bergaul dengan orang jahat, jangan bergaul dengan orang yang berbudi rendah, tetapi bergaullah dengan dengan sahabat yang baik, bergaullah dengan orang yang berbudi luhur”. Keluarga harus memberikan pendidikan bagaimana cara bergaul yang benar kepada anak remajanya dengan berpedoman apa yang sudah disabdakan oleh Buddha, anak harus diarahkan untuk bergaul dengan sahabat sahabat yang baik dan orang yang berbudi luhur atau yang beperilaku baik. Dengan mengarahkan anak untuk bergaul dengan sahabat dan orang yang berbudi luhur maka perilaku anak remaja kita nantinya juga akan baik.
Cara bergaul yang ideal sangat penting diberikan bagi remaja yaitu dengan memberikan pemahaman tentang bagaimana niat bergaul, cara bergaul, dan tujuan bergaul. Setiap keluarga pasti menginginkan pergaulan anak remajanya mengarah ke hal yang positif, maka dari itu keluarga harus memberikan pemahaman akan cara bergaul yang benar kepada anak remajanya. Keluarga juga harus memberitahukan kepada anak manfaat cara bergaul yang benar yaitu apabila remaja yang dapat mengerti akan kesadaran dan pengertian dalam tujuan bergaul akan memperoleh manfaat yaitu: (1) jika pergaulan didasari dengan kesadaran dan pengertian, dapat hidup bersama saling bahu membahu tanpa menumbuhkan saling mencurigai, sehingga akan terwujud kehidupan damai dalam diri juga damai dalam bermasyarakat, (2) perasaan simpati akan diperoleh oleh kedua belah pihak sebagai tali persahabatan sejati yang mampu mengatasi keadaan suka maupun duka dalam pergaulan, (3) saling meningkatkan akan nilai-nilai kebijakan dan melakukan perbuatan baik, (4) mempunyai kerelaan yang tulus untuk berkorban 

2 Penyebab Pola Perilaku Remaja Buddhis Menyimpang 

Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Perilaku yang dilakukan setiap remaja satu dengan remaja lain pasti berbeda sesuai dengan apa yang mempengaruhi remaja baik lingkungan keluarga, teman sebaya, sekolah, dan masyarakat. Keluarga harus bisa mengetahui dan memahami yang menyebabkan perilaku anak remajanya yang menyimpang sebagai acuan untuk mendidik anaknya menjadi lebih baik.

2.1 Keluarga yang Tidak Memperhatikan Pola Perilaku Remaja

Banyak keluarga yang karena kesibukan dalam hal pekerjaan tidak memperhatikan perilaku anak remajanya, sehingga menyebabkan perilaku remaja menjadi menyimpang dengan apa yang diharapkan oleh keluarganya. Kesibukan dalam keluarga ini cenderung tidak memperhatikan pola perilaku anak remaja sehingga dalam mendidik akan muncul berbagai hal sebagai berikut:

2.1.1 Tidak Kompak Dalam Mendidik

Pertumbuhan anak secara baik dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial serta ditentukan oleh tingkat kekompakan kedua orang tua, dan oleh kesepakatan mereka tentang tujuan yang ingin dicapai dalam mengolah pendidikan dan pertumbuhan anak-anak mereka. Tidak adanya kekompakan kedua orang tuanya dalam mengambil strategi pendidikan anak, membuat anak bingung dan mengalami guncangan dalam perilakunya. Ada contoh kasus seorang anak yang ingin keluar rumah untuk bermain bersama temannya kemudian ibunya melarangnya dengan alasan bahwa teman bermainnya suka berkelahi, sementara ayahnya mengijinkan keluar dengan alasan bahwa anak perlu berinteraksi agar belajar bagaimana bergaul. Dengan sikap seperti ini anak akan mengalami kebingungan siapa yang harus dipatuhi, padahal anak ini tahu harus mematuhi kedua orang tuanya. Keadaan yang seperti ini akan menimbulkan dampak buruk bagi anak karena akan menjadi penghalang dalam membangun kepribadian anak secara baik. Kebingungan anak akan ketidak kompakkan orang tuanya ini menyebabkan anak akan menjadi ragu dan tidak patuh dengan apa yang diinstruksikan oleh orang tuanya. 
Seorang anak membutuhkan komunikasi yang jelas dari kedua orang tuanya karena anak ingin memastikan kedua orang tuanya ini ada kesepahaman dan kekompakan dalam menangani problem-problem perilakunya. Jika orang tua menginginkan anak-anaknya tumbuh secara baik hendaknya mereka mengevaluasi apa yang seharusnya mereka lakukan dalam merespon perilaku anak-anak mereka. Mereka harus mengingatkan kekompakan dan komunikasi satu sama lain terutama dalam merespon perilaku sosial yang dilakukan oleh anak. Mereka juga harus menentukan dan menyepakati perbuatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh anak. Orang tua harus selalu menujukkan kekompakannya dalam mendidik anak, jangan sampai ibu melarang suatu perbuatan dan ayah memperbolehkannya juga janganlah menampakan pertentangan dihadapan anak.

2.1.2 Tidak Berusaha Mengetahui Motif Anak Melakukan Perilaku Salah

Banyak anak yang melakukan perilaku salah yaitu dengan melakukan tidakan-tindakan yang melanggar aturan yang berada dilingkup keluarga maupun masyarakat. Dalam hal ini anak banyak berperilaku salah adalah sebagai upaya menarik perhatian orang tuanya agar anak ini dapat memperoleh perhatian  lebih dari orang tuanya. Perilaku yang dilakukan anak ini kadang disikapi oleh orang tua secara tidak benar bahwa kesalahan yang dilakukan ini adalah perilaku buruk anak. Orang tua yang tidak berusaha mengetahui dan tidak memahami perilaku salah yang dilakukan oleh anaknya akan memunculkan perilaku anak yang lebih buruk. 
Orang tua seharusnya berusaha mengetahui dan memahami perilaku salah anaknya sebagai wujud perhatian kepada anak. Anak sangat membutuhkan perhatian yang ekstra dalam setiap tindakannya, apabila perhatiannya kurang anak cenderung melakukan perilaku salah sebagai upaya mencari perhatian orang tuanya agar orang tunya ini menaruh semua cinta dan perhatiannya pada dirinya. Pemahaman orang tua terhadap sikap anak yang melakukan perilaku salah ini akan menjadikan anak mengerti bahwa orang tua benar-benar memperhatikannya dan berusaha memberikan kasih sayang sepenuhnya.

2.1.3 Tidak Memenuhi Kebutuhan Kasih Sayang Pada Anak

Kasih sayang sangat dibutuhkan oleh seorang anak, karena kasih sayang sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan karakter anak. Kasih sayang yang diberikan orang tua terhadap anak akan membuat orang tua dapat lebih memahami anak. Sehingga orang tua lebih mudah memberikan arahan secara penuh kesabaran dan pengertian yang dalam. Dalam pemenuhan kasih sayang orang tua pada anak harus sesuai dengan kebutuhan anak jangan sampai dalam pemenuhan kasih sayang ini orang tua memberikanya secara berlebihan dan kurang kepada anak. Pemenuhan kasih sayang pada anak yang sesuai kebutuhan ini akan lebih membentuk kedekatan yang baik antra keluarga dan anak. Apabila keluarga memberikan perhatian yang lebih atau kasih sayang yang berlebihan pada anak akan berdampak negatif dikemudian hari bagi anak dalam masa perkembangannya. Akibat negatif apabila anak dimanja dan disayangi secara berlebihan yaitu anak jadi penakut, kuper dan lain sebagainya atau bahasa umumnya anak mama. Kewajiban orangtua kepada anaknya merupakan suatu hal yang harus dilakukan oleh orangtua, agar menjadi anak yang baik setelah besar nanti. Orang tua dalam mendidik anak-anaknya harus selalu bertanggung jawab dan memiliki sifat kasih sayang serta rela menderita dan berkorban demi anak-anaknya. 
Kedekatan orang tua sangat penting bagi perkembangan anak. Secara khusus orang tua harus memberikan arahan akan pentingnya kasih sayang yang cukup dari orang tua ke anak. Dengan pemberian kasih sayang yang tepat ini akan memberikan dampak positif bagi anak yaitu (1) menumbuhkan rasa percaya diripada anak: Perhatian dan kasih sayang orang tua yang stabil, menumbuhkan keyakinan bahwa dirinya berharga bagi orang lain, (2) Menumbuhkan semangat mengasihi sesama dan peduli pada orang lain: Anak yang tumbuh dalam hubungan kasih sayang yang hangat, akan memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kebutuhan sekitarnya. Anak akan mempunyai kepedulian sosial yang tinggi, membantu kesusahan orang lain menjadi kebutuhannya. 

2.2 Pola Asuh yang Salah Dalam Keluarga

Pola asuh dalam keluarga ini merupakan interaksi antara anak dengan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Pengasuhan ini berarti orang tua mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada di dalam masyarakat.
Dalam penerapan pola asuh ini keluarga harus menentukan pola asuh apa yang akan diterapkan dalam mendidik anaknya yaitu pola asuh otoriter, bebas dan demokratis. 
Dalam penerapan pola asuh ini keluarga sering kali mengalami kesalahan memahami makna dan pengertian dari pola asuh yang diambil sehingga dalam mendidik anak akan banyak mengalami tekanan, perilaku yang menyimpang dan perilakunya banyak mengarah ke hal yang tidak baik. Pemilihan  tipe pola asuh dalam keluarga harus benar-benar dipertimbangkan secara matang sesuai dengan kondisi dan karakter anak agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal dalam mendidik.

3 Mengatasi Pola Perilaku Menyimpang Remaja Buddhis

Perkembangan yang dialami pada masa remaja baik fisik maupun kejiwaannya terjadi sangat cepat, pada perubahan ini remaja mengalami masa transisi untuk menemukan identitas pada dirinya. Masa transisi ini membuat remaja melakukan perilaku-perilaku yang menyimpang seperti seks bebas, kriminalitas, narkoba, dan sebagainya. Sebelum terjadi penyimpangan perilaku-perilaku yang akan mengakibatkan remaja menjadi rusak, maka keluarga harus mengantisipasi dengan melakukan pencegahan dan penanggulangan agar anak remajanya tidak mengalami penyimpangan perilaku

3.1 Pencegahan Perilaku Menyimapang Remaja

Perilaku menyimpang pada remaja dapat disebabkan dari faktor keluarga yang kurang memperhatikannya dan kurangnya kasih sayang yang diberikan keluarga kepada remaja. Diusia remaja anak cenderung membutuhkan kasih sayang yang lebih, bila kebutuhan kasih sayang yang remaja butuhkan ini tidak didapatkan dari keluarganya, maka remaja akan cenderung mencarinya diluar keluarga. Kebanyakan remaja akan mudah terpengaruh akan lingkungan luar yang cenderung mengarah kehal-hal negatif seperti premanisme, tawuran, seks bebas, narkoba, kriminalitas, perkelahian. Pola perilaku anak akan berubah bila sudah terpengaruh akan lingkungan luar, perilakunya cenderung menyimpang dari arah yang diharapkan keluarganya. Sebelum remaja mengalami perilaku yang menyimpang dari harapan keluarga maka keluarga harus melakukan pencegahan-pencegahan agar perilaku menyimpang tidak sampai terjadi pada anak remaja.

3.1.1 Menciptakan Susana Keluarga yang Edukatif

Keluarga merupakan wadah pembentukan pribadi anggota keluarga terutama untuk  anak-anak yang sedang mengalami pertumbuhan fisik dan rohani. Dengan demikian kedudukan keluarga sangat fundamental dan mempunyai peranan yang vital bagi pendidikan seorang anak. Keluarga harus menciptakan suasana keluarga yang edukatif dan harmonis bila menginginkan anak remajanya tidak terpengaruh akan berbagai hal yang ada diluar lingkungan rumah. Lingkungan keluarga sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter anak dan membentuk anak yang bertanggung jawab. Suasana keluarga yang edukatif ini bisa dibangun melalui berbagai tindakan yaitu dengan membiasakan anak untuk membaca buku-buku yang baik bagi perkembangan anak, memberikan tugas yang sesuai dengan anak, mendorong anak untuk mengembangkan bakatnya. Dalam menciptakan susana keluarga yang edukatif ini keluarga harus selalu mengontrol anak baik dalam kegiatan dirumah maupun diluar rumah sebagai upaya mengantisipasi anak mengalami kejenuhan akan kondisi keluarga.
Selain membentuk suasana keluarga yang edukatif, keluarga juga harus menciptakan suasana harmonis karena suasana yang haromonis dalam keluarga akan menciptakan ketenangan bagi anak. Apabila susana keluarga yang harmonis tercipta dalam keluarga, anak akan merasa lingkungan keluarganya dipenuhi kasih sayang yang membuat anak betah tinggal dirumah. Keadaan keluarga yang harmonis dapat dilakukan dengan melakukan  komunikasi dan dialog dengan anak sebagai bentuk salaing keterbukaan antar sesama anggota keluarga.

3.1.2 Mencegah Anak Berbuat Jahat

Rumah adalah sekolah yang pertama bagi anak, dan orang tua merupakan guru yang pertama bagi anak. Anak biasanya belajar dari orang tua tentang baik dan buruk, tentang budi pekerti pada umumnya. Setiap keluarga pasti mengharapkan anggota keluarganya memiliki perilaku yang baik dan dapat membanggakan orang tuanya. Untuk mewujudkan perilaku anak menjadi baik salah satunya dengan mencegah anak berbuat jahat. Orangtua harus pandai mengarahkan anak, agar nantinya mereka menjadi anak yang berbudi luhur, baik terhadap orangtua, saudara-saudaranya maupun dimana ia berada. 
Keluarga juga harus menanamkan hiri atau malu berbuat jahat pada remaja karena hiri bisa menjadi benteng pertama agar remaja tidak salah langkah dalam berperilaku. Pertama-tama yang harus dilakukan keluarga adalah dengan memberikan contoh-contoh yang baik di depan anaknya sendiri, baik perilaku, ucapan, dan perbuatan badan jasmani, karena anak lebih cenderung meniru perilaku orang tuanya. Dalam memberikan pendidikan orang tua hendaknya dengan jelas dapat menunjukkan kepada anak perbedaan dari akibat perbuatan baik dan tidak baik. Kejelasan orang tua menerangkan hal ini akan dapat menghilangkan keraguan anak dalam mengambil keputusan untuk memilih kebaikan dan meninggalkan kejahatan. Dalam memberikan pendidikan yang berkaitan dengan perbuatan jahat keluarga bisa menggunakan media televisi sebagai alat pengajaran yaitu dengan menunjukkan kepada anak bahwa kejahatan tidak akan pernah menang dengan kebaikan. Apabila anak benar-benar sudah dapat dengan jelas membedakan kebaikan dan keburukan, tahap berikutnya adalah menumbuhkan rasa malu untuk melakukan kejahatan atau ottapa. Kondisikanlah pikiran anak punya rasa malu, merasa tidak pantas melakukan pelanggaran kemoralan baik yang diberikan Sang Buddha maupun oleh masyarakat. Mengkondisikan anak memiliki rasa malu untuk berbuat jahat ini dapat dilakukan dengan perumpamaan bahwa bila diri sendiri tidak ingin dibohongi, maka janganlah membohongi orang lain. Dari perumpamaan ini anak juga harus diberikan pemahaman makna perumpaman agar menumbuhkan kesadaran dalam diri anak dan menyadari bahwa perbuatan buruk yang tidak ingin dialaminya akan menimbulkan perasaan yang sama bagi orang lain.

3.1.3 Menganjurkan Anak Berbuat Baik

Keluarga merupakan tempat dimana anak mendapatkan berbagai bentuk pendidikan dan pembentukan karakter anak. Dengan itu keluarga harus memberikan pendidikan yang sesuai yaitu dengan menganjurkan anak berbuat baik. Menganjurkan anak berbuat baik adalah hal yang sangat bermanfaat bagi anak maupun bagi lingkungannya. Pembentukan karakter anak agar selalu berbuat baik tidak lepas dari peranan keluarga, apabila dalam keluarga tidak menceriminkan perbuatan baik dalam lingkungan rumah maka anak akan mencontoh apa yang ada disekitarnya. Sebelum keluarga menganjurkan perbuatan baik sebaiknya keluarga harus mengondisikan dan mencotohkan perilaku yang baik dalam lingkungan rumah karena kebanyakan anak akan mencotoh perilaku dari lingkungan terdekatnya yaitu keluarga. 
Pokok-pokok perbuatan baik yang perlu dikenalkan kepada anak-anak terutama adalah pengembangan kerelaan, kemoralan dan konsentrasi. Sebagai contoh dalam mengembangkan sikap kerelaan pada anak dapat dilakukan dengan membiasakan anak memberikan uang atau makanan kepada pengemis yang datang ke rumah. Dapat juga anak dibiasakan berbagi barang-barang kesukaannya dengan saudara-saudaranya, misalnya saja, mainan ataupun makanan kesukaannnya. Bila hal ini telah dilatih sejak dini maka anak akan memiliki watak penuh welas asih dan akan lebih mudah memaafkan orang lain, lebih-lebih lagi, anak akan lebih menyayangi orangtuanya. 

3.1.4 Memonitor Teman 

Di kalangan remaja memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Di jaman sekarang pengaruh kawan sepermainan sangat berpengaruh bagi remaja dalam berperilaku baik maupun buruk karena itu orang tua harus selalu memonitor teman pergaulan anak, agar tidak terjerumus dalam perilaku yang menyimpang atau tidak baik. Untuk meyakinkan anak kita berada dalam lingkup pergaulan yang positif, jangan segan-segan untuk mengundang teman-teman sekelompok bermainnya. Pasti memang lebih repot tapi dengan cara ini orangtua tahu benar siapa dan bagaimana teman-teman kelompoknya. Tunjukkan kepedulian terhadap teman anak dengan menyampaikan perilaku dan kata-kata yang ramah dan positif.
Orang tua harus selalu mengadakan komunikasi dengan anak mengenai bentuk perilaku temannya. Berusahalah menjadi seperti teman dalam proses komunikasi dengan anak. Ajaklah anak untuk berdiskusi dan menanyakan mengenai teman-temannya, ada baiknya jika opini berupa koreksi datang dari anak sendiri. Selalu ingat untuk minta pendapat anak tentang perilaku temannya yang dinilai kurang berkenan. Kemudian beri kesempatan sekaligus kepercayaan pada anak untuk mengatakan bagaimana seharusnya si teman bersikap. Lagipula kebiasaan menanyakan pendapat anak akan dapat membentuk anak kelak menjadi individu yang mampu bersikap objektif dalam menilai segala hal. Jangan sampai orangtua melarang anaknya berteman dengan seseorang yang dianggap berperilaku negatif namun orangtua melakukan hal yang serupa. 

4.3.2 Penanggulangan  Perilaku Menyimpang Remaja

Setiap keluarga pasti mengharapkan anggota keluarganya memiliki perilaku yang baik, terutama orang tua pasti mengharapkan anaknya memiliki perilaku yang baik dan dapat membanggakan orang tuanya dengan memberikan pendidikan yang baik. Apabila orang tua  tidak mendapatkan harapan memiliki anak yang baik prilakunya, orang tua tidak boleh membiarkan anak terus berprilaku buruk atau menyimpang, lakukanlah upaya untuk mengatasinya dengan melakukan berbagai hal yaitu:

4.3.1 Melakukan Pendekatan yang Lebih Mendalam Pada Diri Remaja

Orang tua perlu mengingat bahwa anak remaja tetaplah anak yang diasuh sejak masih bayi dan tumbuh menjadi dewasa, tetapi kini anak ingin orang tua memandang dengan cara yang berbeda. Berkenaan dengan perasaan anak remaja sikap orang tua harus mendekatkan hubungan mereka selayaknya sahabat. Orang tua yang bersahabat membantu remaja menemukan jati diri dan kemampuan terbaiknya, serta membimbing mereka mengembangkan keahliannya. Dengan melakukan pendekatan secara mendalam pada diri remaja akan menumbuhkan semangatnya  untuk menunjukkan keberadaan dirinya sebagai pribadi yang baik. 
Perlunya pendekatan pada diri remaja ini merupakan hal yang harus orang tua lakukan, karena remaja perlu seseorang yang selalu mendampinginya sebagai tempat berbagi baik dalam berperilaku dan masalah yang dialaminya. Kedekatan antara orang tua dan anak akan menjadi suatu wujud terciptanya hubungan cinta kasih dan kepedulian atas keberadaan anak. Orang tua juga harus mampu memahami pribadi anak sebagai bentuk pengertian akan kondisi anak yang membutuhkan perhatian dari sosok keluarganya.

4.3.2 Memberikan Motivasi Pada Remaja

Masa remaja merupakan masa transisi yaitu dimana remaja mulai merasakan goncangan dalam pertumbuhan baik fisik dan jasmaninya. Dalam masa transisi ini remaja mulai mencari jati diri dengan berbagai tindakan dan perilaku. Dalam berperilaku remaja cenderung banyak melakukan penyimpangan perilaku yang tidak diharapkan orang tua. Orang tua terkadang akan salah menyikapi perilaku anak yang seperti ini, kebanyakan anak akan dimarahi dan dihakimi dengan hukuman-hukuman yang akan menyebabkan anak remaja menjadi merasa tidak ada kepedulian di lingkungan keluarganya dan perilaku buruknya akan lebih meningkat. Orang tua tidak boleh bersikap seperti ini apabila anak remaja melakukan kesalahan, lakukanlah pendekatan dan kemudian berikanlah motivasi kepada anak, agar jiwa pemberontak pada anak ini bisa lebih teredam karena perhatian dan pemberian motivasi yang membangun diri remaja.
Memberikan motivasi pada anak remaja bukan suatu hal yang mudah bagi orang tua karena terkadang anak takut kepada orang tuanya setelah melakukan perilaku buruk. Apabila terjadi seperti ini orang tualah yang harus berperan ekstra untuk melakukan pendekatan komunikasi dengan remaja. Setelah komunikasi terjalin kemudian orang tua memberikan nasehat dan mendorong atau memberikan motivasi kepada anak remaja bahwa ia bisa berubah dari perilaku burukya. Pemberian motivasi ini akan bermanfaat bagi remaja untuk membangun kembali dirinya yang sudah terpuruk dengan perilaku buruk, remaja akan memiliki semangat baru apabila motivasi dan dorongan semangat dari orang tua selalu diberikan.

4.3.3 Mengarahkan Remaja Untuk Melakukan Pengendalian Diri

Keluarga harus bisa memahami anak remajanya dimana masa remaja ini merupakan masa peralihan yang sangat menentukan pada masa berikutnya yaitu masa dewasa. Perubahan-perubahan sosial pada remaja dapat menimbulkan hal positif maupun negatif, tergantung pengarahan yang dilakukan. Jika perubahan-perubahan tersebut dapat diarahkan secara maksimal, justru remaja akan dapat dengan mudah mengaktualisasikan dirinya tanpa melakukan penyimpangan-penyimpangan. Remaja memerlukan pengendalian diri karena remaja belum mempunyai pengalaman yang memadai dalam perkara ini. Masa remaja banyak menyentuh perasaan seorang remaja sehingga menimbulkan jiwa yang sensitif dan peka terhadap diri dan lingkungannya. 
Usahakan keluarga mengarahkan anak remaja untuk melakukan pengendalian diri, karena pengendalian diri ini akan membentuk kehidupan remaja menjadi terarah. Sebagai orang tua harus mengajarkan anak bagaimana melatih pengendalian diri baik dalam ucapan, perbuatan, dan tindakan. Pertama berpikir positif adalah pengendalian pikiran dalam memandang suatu masalah dari berbagai sudut untuk mendapatkan nilai nilai positif, sehingga mengasilkan cara pikir postif. Kedua yaitu berkata positif adalah belajar pengendalian diri melalui ucapan yang menyenangkan didengar orang lain dengan tutur bahasa yang sopan dan santun. Ketiga bertindak positif adalah pengendalian diri dengan tidak melakukan tindakan-tindakan yang tidak baik seperti anarkis atau melanggar norma norma. Tiga hal diatas adalah sangat simple namun sulit dilakukan. Untuk itu perlu proses latihan untuk mendapatkan hasil baik, bilamana sudah mampu melaksanakan ini maka akan mendapatkan rasa kedamain dalam diri.

4.3.4 Memberikan Pemahaman Tentang Sila Sebagai Landasan Berperilaku


Sila merupakan perilaku lahiriah manusia baik ucapan maupun perbuatan. Istilah sila yang digunakan dalam budaya Buddhis mempunyai beberapa arti yaitu sifat, karakter, watak, kebiasaan, perilaku, kelakuan. Sila ini merupakan dasar yang utama dan sebagai benteng dalam berperilaku bagi remaja. Keluarga harus memberikan pemahaman tentang sila untuk anak remajanya karena sila ini akan membentengi perilaku buruk anak. Ajaklah remaja memahami sila degan memberikan contoh-contoh sederhana dan usahakan agar dia mau mempraktikannya. Dengan keluarga bersikap seperti ini maka remaja akan menjadi mengerti dan memahami berbagai bentuk perilaku yang tidak boleh ia lakukan. Penanaman sila pada diri remaja akan membentuk pribadi remaja menjadi disiplin diri baik lewat ucapan, perbuatan, serta tindakan.
Sila ini harus menjadi tuntunan perilaku bagi remaja karena sila ini akan berfungsi dalam mencegah, menahan, memutuskan serta mengendalikan pikiran, ucapan dan perbuatan jahat yang muncul pada diri remaja. Menjalankan manfaat perilaku bermoral dengan baik, maka akan memperoleh manfaat yaitu kegembiraan, suka cita, ketenangan, kebahagiaan, konsentrasi pikiran dan hilangnya nafsu. Keluarga harus menanamkan sila pada anak karena sila merupakan pokok landasan dari segala tingkah laku anak, apabila sila ini dipahami anak maka perilaku anak akan menjadi baik dan terarah.

PAÑCABALA DALAM AGAMA BUDDHA


1  Pengertian Pañcabala

     Pañcabala terdiri dari dua suku kata yaitu Pañca dan Bala. Pañca dalam kamus Dictionary of the pali language berarti lima, sedangkan Bala berarti  kekuatan (Caesar, 1974:326). Jadi Pañcabala berarti lima kekuatan. 
      Pañcabala atau lima kekuatan terdiri dari Kekuatan keyakinan (Saddhā Bala), Kekuatan semangat (Viriya Bala), Kekuatan kesadaran (Sati Bala), Kekuatan kosentrasi (Samādhi Bala), Kekuatan kebijaksanaan (Paññā Bala) (A.V:318). 
2 Unsur-unsur  dalam Pañcabala

     Setiap orang pada dasarnya memiliki Pañcabala. Pañcabala apabila dikembangkan setiap orang mendapatkan manfaat yaitu mempunyai rasa aman. Prinsip ini sangat baik bagi pengembangan tenaga maupun sebagai metode agar semua yang dilakukan tidak sia-sia. Pañcabala atau lima kekuatan sangat penting untuk dijadikan suatu pedoman atau pondasi dalam melakukan segala sesuatu, tergantung dari konteksnya masing-masing. Kekuatan keyakinan, kekuatan semangat, kekuatan kesadaran, kekuatan kosentrasi dan kekuatan kebijaksan harus dikembangkan secara baik.

2.1 Kekuatan Keyakinan  (Saddhā Bala)

     Setiap manusia pada umumnya memiliki Saddhā Bala.  Vidhurdhammābhorn (1992:178) mendefinisikan  Saddhā bala adalah memiliki keyakinan. Hendaknya sebagai manusia memiliki keyakinan, bukan sebagai manusia yang tidak memiliki keyakinan sama sekali. Demi memiliki kekuatan keyakinan tersebut, setiap orang menetapkan prinsip, serta dipegang teguh misalnya dengan rajin belajar maka mempunyai keyakinan untuk lulus. Mettadewi (2001:7) menyatakan saddhābala merupakan suatu kekuatan dari keyakinan.  Keyakinan disini ditekankan keyakinan terhadap Buddha, Dhamma dan Sangha.   
Buddha menjelaskan terdapat empat keyakian yang terbaik.  Apabila setiap orang memiliki empat keyakinan terbaik akan mendapatkan hasil yang terbaik pula. Empat keyakinan tersebut adalah: (1). Mereka yang memiliki keyakinan terhadap Buddha memiliki keyakinan yang terbaik, (2). Mereka yang memiliki keyakinan terhadap Jalan Mulia Berunsur Delapan memiliki keyakinan terbaik, (3). Mereka yang memiliki keyakinan kepada Dhamma memiliki keyakinan yang terbaik, (4). Mereka yang memiliki keyakinan terhadap Saṅgha memiliki keyakian yang terbaik. Dan bagi mereka yang memiliki empat keyakinan terbaik, akan mendapat  hasil terbaik  pula (A. IV:211).
     Memiliki keyakinan terhadap Buddha maksudnya  Tathāgata, Arahā,  Yang Tercerahkan Sempurna  dinyatakan sebagai keyakinan terbaik diantara makhluk hidup yang berkaki dua, berkaki empat, baik yang berupa maupun tidak berupa serta yang sudah mencapai pencerahaan maupun belum mencapai pencerhaan.              
     Keyakian  terhadap Jalan Mulia Berunsur Delapan maksudnya setiap orang yakin bahwa jalan ini merupakan jalan yang tebaik diantara jalan yang lain. Jalan Mulia Berunsur Delapan yaitu: Pandangan benar (Sammā-diṭṭhi), Pikiran benar (Sammā-saṅkappa), Perkataan benar (Sammā-vācā), Perbuataan benar (Sammā-kammanta), Penghidupan benar (Sammā-ājīva), Upaya benar (sammā-vāyāma), Perhatian benar (sammā-sati), Kosentrasi benar (sammā-samādhi). 
Keyakinan terhadap Dhamma maksudnya memiliki keyakinan mengenai lenyapnya nafsu keinginan sebagai yang terbaik diantara keangkuhan, kemelekatan, keserakahan. Memiliki keyakinan terhadap Saṅgha  merupakan siswa Sang Bhagavā patut menerima pemberian, sambutan, persembahan, hormat, dan yakin bahwa Saṅgha ladang subur untuk menanam perbuatan baik tiada taranya. 
     Keyakinan terhadap Buddha, Jalan Mulia Berunsur Delapan, Dhamma dan Saṅgha. Maka akan memperoleh hasil yang terbaik pula. Apabila keyakinan  terhadap empat hal tersebut dikembangkan dapat memperoleh manfaat yang baik.   Setiap seorang menjalakan pekerjaan, dalam hal ini seorang tersebut mempunyai keyakinan yang baik terhadap Jalan Mulia Berunsur Delapan sehingga dapat mengatasi keragu–raguan dalam menjalakan pekerjaan.
     Keyakinan diri adalah pengharapan pasti, bukan suatu hal yang tidak dapat diketahui, tetapi suatu hal yang dapat diuji sebagai pengalaman dan dipahami secara pribadi. Keyakinan diri adalah akal budi, pengetahuan, dan pengalaman. Keyakinan diri menjadi kekuatan pikiran untuk memahami arti kehidupan (Dhammananda, 2005:291). Setiap orang pada dasarnya memiliki suatu keyakian yang dapat dijadikan suatu fondasi dalam melakukan segala sesuatu termasuk dalam bekerja. Keyakinan merupakan suatu hal bersifat  pengetahuan yang dimiliki oleh setiap orang. Keyakinan dapat dikembangkan untuk memperoleh hal yang bermanfaat dalam mengerjakan segala sesuatu tergantung dari konteksnya masing-masing. 
     Keyakinan memang perlu dimiliki oleh setiap orang, lebih lanjut bagi yang melakukan pekerjaan. Dalam melakukan pekerjaan saran dan pendapat dari orang lain sering dijumpai, dengan memiliki keyakinan yang kuat maka setiap orang terlebih dahulu akan mencari kebenaran pendapat tersebut apakah bermanfaat untuk pekerjaanya.   
     Dengan mempunyai keyakinan terhadap diri sendiri, maka seorang tidak akan percaya secara langsung terhadap pendapat orang lain.   Buddha menjelaskan kepada suku Kālāma bahwa: 
Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya, pembicara yang kelihatan meyakinkan..…………. tetapi setelah mengetahui hal-hal ini tidak bermanfaat, hal-hal ini dapat dicela; ….…….hal-hal ini jika dilaksanakan dan dipraktekan akan menuju kerugian dan penderitaan, maka  kalian harus meninggalkannya (A. III:141).

     Berdasarkan kutipan tersebut setiap orang hendaknya selalu memiliki keyakinan terhadap diri sendiri, dengan memiliki keyakinan maka setiap orang tidak akan secara langsung percaya oleh pendapat orang lain melainkan harus diselidiki kebenarannya. Setiap orang dalam melakukan pekerjaan memiliki keyakinan bahwa pekerjaan yang dijalankan akan berhasil. Dalam melakukan pekerjaan tentunya setiap orang mendapatkan saran, pendapat dari pihak lain. Dengan memiliki keyakianan dalam menerima saran, pendapat terlebih dahulu dicari kebenarannya sehingga akan membawa hasil, manfaat bagi pekerjaannya.

2.2 Kekuatan Semangat  (Viriya Bala)

Setiap orang pada dasarnya mempunyai hobi. Hobi yang dimiliki dapat membuat setiap orang merasa senang dalam melakukan pekerjaan. Kesenangan serta kegembiraan akan menimbulkan semangat untuk menekuni pekerjaan yang dijalankan. Semangat merupakan suatu keuletan, kegigihan, kerja keras dalam menjalankan suatu pekerjaan. Dengan semangat yang dimiliki maka seorang akan selalu tekun, rajin, serta  keuletan dalam melakukan pekerjaan.
     Setiap orang dalam melakukan berbagai hal termasuk dalam bekerja untuk mencapai tujuan, harus mempunyai keuletan, ketekunan dalam melakukan pekerjaan. Viriya Bala adalah bekerja atau belajar secara terus menerus dan konsekuen. Dengan secara terus menerus melakukan hal yang dikerjakan  maka akan terlatih untuk  berusaha (Vidhurdhammābhorn, 1992:179). Abhayanando (2004:60) memberikan definisi batasan mengenai viriya sebagai usaha yang semangat dalam mengerjakan berbagai hal.  Viriya atau Semangat dapat mengatasi kejenuhan dalam melakukan pekerjaan sehingga, dengan memiliki  viriya akan terus berusaha untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. 
Lebih lanjut Wuryanto (2007:69) berpendapat mengenai viriya bala  yaitu suatu usaha yang bersemangat, tekun, berusaha dengan sungguh-sungguh didalam melakukan berbagai hal sampai mencapai hasil. Viriya bala bila dikembangkan untuk melakukan suatu pekerjaan akan memperoleh hasil yang maksimal. Setiap orang dalam melakukan berbagai hal termasuk dalam bekerja, viriya harus dimiliki, sikap ini merupakan salah satu faktor sikap kerja yang positif. Dengan memiliki semangat setiap orang akan melakukan pekerjaan secara terus menerus sehingga tidak akan mengakibatkan suatu kegagalan.  Memiliki semangat dalam melakukan pekerjaan tentu akan lebih tekun, rajin dan mempunyai rasa senang dalam melakukan pekerjaan, sehingga tidak akan mengalami suatu kejenuhan dan kebosanan. 
     Menjalani hidup ini maupun melakukan suatu hal diperlukan adanya viriya atau semangat. Dalam Dhammapada bab Sahassa Vagga ayat 112 Buddha menjabarkan bahwa:
Daripada hidup selama seratus tahun bermalas-malasan dan kurang berusaha, lebih baik hidup satu hari yang penuh dengan semangat perjuangan (Dh. I:2).

Semangat memang harus dimiliki oleh setiap orang, dalam hal ini semangat berperan penting dalam menjalani kehidupan. Buddha telah menjelaskan bahwa setiap orang dalam menjalakan kehidupan ini harus mempunyai semangat. Semangat yang dimiliki oleh setiap orang dapat memberikan suatu hal yang positif.  Manfaat yang diperoleh dengan mengembangkan semangat yaitu tidak bermalas-malasan, selalu berusaha, memiliki keuletan, ketekunan untuk mengerjakan berbagai hal. Viriya bala  merupakan kekuatan dari semangat (A.V:318). Semangat dalam hal ini ditekankan pada empat usaha benar, Usaha-usaha tersebut adalah: (1) Untuk mencegah munculnya keadaan yang tak bajik dan jahat yang belum muncul, (2) Untuk menghilangkan keadaan yang tak-bajik dan jahat yang sudah ada, (3) Untuk mengembangkan keadaan bajik yang belum muncul, (4) untuk menahan dan menyempurnakan keadaan bajik yang sudah ada (S. IX:2542).
     Untuk mencegah munculnya keadaan yang tak bajik dan jahat yang belum muncul maksudnya membangun tekat untuk menghindari munculnya keadaan yang yang jahat, tak bajik, belum muncul dengan cara melakukan suatu usaha, membangkitkan suatu energinya, mengerahkan pikirannya untuk berjuang. Usaha benar bertujuan untuk mengatasi keadaan-keadaan tak bajik, kotoran batin. Untuk menghilangkan keadaan yang tak bajik dan jahat sudah ada yaitu membangun suatu tekat yang kuat untuk mengatasi keadaan-keadaan yang jahat, tidak bajik, yang sudah muncul dan melakukan usaha, menggunakan energi, mengunakan pikiran untuk selalu berjuang.
     Untuk mengembangkan keadaan bajik belum muncul yaitu membangun tekat untuk membangkitkan keadaan-keadaan bajik yang masih belum muncul dan melakukan usaha dan penuh perjuangan. Hal ini usaha untuk menghapus kotoran batin juga dilakukan usaha benar untuk mengembangkan keadaan bajik pikiran. Dalam usaha mengembangkan keadaan bajik yang belum muncul, setiap orang harus berusaha untuk membangkitkan keadaan-keadaan bajik yang belum muncul selanjutnya mematangkan keadaan-keadaan bajik yang sudah muncul.
     Untuk menahan dan menyempurnakan keadaan bajik yang sudah ada yaitu membangun tekat, usaha untuk memelihara hal-hal bajik yang sudah muncul dengan terus mengembangkan agar keadaan tersebut tidak lenyap. Usaha yang terakhir ini ditekankan pada faktor penjagaan hal-hal bajik yang sudah muncul.  
     Untuk mengembangkan dari empat hal tersebut diperlukan adanya perjuangan yang sungguh-sungguh, ketekunan dan keuletan serta kesabaran. Dilakukan dengan mengunakan suatu usaha, membangkitkan suatu energi dengan selalu berpikir dan selalu berjuang. Mengembangkan empat hal tersebut tentunya ada kesulitan-kesulitan baik secara sadar maupun secara tidak sadar akan dihadapi, hal ini diperlukan kesabaran dan ketekunan. 
     Buddha menekankan dalam mengerjakan segala sesuatu membutuhkan suatu usaha, ketekunan, kerja keras, dan keteguhan  terus menerus. Ketekunan dalam usaha sangat penting karena setiap orang harus bekerja untuk  membebaskan dirinya sendiri. Buddha menunjukan jalan menuju pembebasan dan harus dipraktikan. Hal ini memerlukan kerja keras dan keteguhan terus menerus. Usaha yang terus menerus dipakai untuk mengembangkan pikiran selalu fokus terhadap keseluruhan jalan (Bodhi, 2010:74). 
     Semangat yang ada dalam setiap orang dapat bermanfaat dalam melakukan berbagai hal termasuk pekerjaan. Setiap orang dengan memiliki kekuatan semangat maka, dalam bekerja memiliki ketekunan, kerja keras, konsekuen terhadap pekerjaan yang dijalankan. Memiliki semangat dalam bekerja akan memperoleh hasil yang maksimal dan tidak akan merasakan kebosanan dan kejenuhan, melainkan terus rajin, tekun dan selalu konsekuen dalam melakukan pekerjaan.

2.3 Kekuatan Kesadaran (Sati Bala)

      Menurut Vidhurdhammābhorn (1992:179) sati bala  atau kekuatan kesadaran dapat diartikan sebagai menggingat. Menggingat disini ditekankan pada menyadari hal-hal yang perlu dilakukan serta menyadari hal-hal yang tidak patut dilakukan karena tidak membawa manfaat. Dalam melakukan pekerjaan setiap orang menyadari pekerjaan yang harus dilaksanakan, serta menyadari pekerjaan yang tidak patut dikerjakan karena tidak membawa manfaat. Dengan memiliki  samādhi bala maka setiap orang akan selalu mengontrol diri dan tidak akan lupa terhadap pekerjaan yang dijalankan. 
      Pernyataan Vidhurdhammābhorn sati bala atau kekuatan kesadaran didefinisikan sebagai menggingat. Hal tersebut ternyata selaras dengan Wuryanto (2007:70) mendefinisikan sati bala. Sati bala merupakan  kemampuan untuk mengingat, waspada dan sadar  dengan apa yang dilakukan atau dikerjakan. Kesadaran yang dimiliki oleh setiap orang harus dikembangkan. Dengan mengembangkan kesadaran dalam melakukan pekerjaan selalu memperhatikan dengan sungguh-sungguh tanpa melupakan tugasnya. Apabila seorang selalu sadar dan memperhatikan pekerjaan yang sedang dilakukan sehingga dapat menyelesaikan dengan baik. Memiliki kesadaran serta perhatian terhadap pekerjaan yang sedang dilakukan maka tidak mudah untuk berganti pekerjaan yang lain. 
      Dalam buku jalan menuju akhir dari penderitaan Bodhi (2010:89) memberikan batasan menggenai  sati, sati  merupakan keadaan pikiran penuh dengan perhatian dan kewaspadaan. Buddha  menjelaskan dalam Dhammapada bab Appamāda Vagga ayat 23 bahwa:
Tabah dan penuh perhatian, suci dalam setiap perbuatan, hati-hati dalam setiap tingkah laku, mengendalikan diri dengan baik, dan hidup secara benar, maka orang akan selalu sadar ini akan maju dengan cepat (Dh. II:10).

     Memiliki ketabahan, mengendalikan diri dengan baik dan penuh perhatian dalam melakukan berbagai hal dapat memperoleh manfaat yang baik.  Setiap melakukan berbagai hal sati  yang terdapat dalam masing-masing individu harus dikembangkan.  Sati bala merupakan kekuatan kewaspadaan  (A.V:318).  Dalam hal ini ditekankan terhadap empat landasan kewaspadaan. Empat landasan tersebut yaitu perenungan terhadap tubuh, perenungan terhadap perasaan, perenungan terhadap keadaan pikiran dan perenungan terhadap fenomena.
     Perenungan terhadap tubuh (kayanupassana) maksudnya perenungan terhadap perhatian pernafasan. Dalam perhatian pernafasan membutuhkan sebuah tarikan nafas atau nafas yang panjang dicatat sebagai hal yang muncul, dan sebuah tarikan napas atau hembusan napas yang pendek dicatat sebagai hal yang muncul. Perenungan terhadap perasaan (vedananupassana) diberi batasan terhadap kualitas perasaan. Kualitas perasaan yaitu perasaan menyenangkan, perasaan menyakitkan, perasaan netral. Perasaan merupakan suatu hal yang tidak terpisahkan dengan kesadaran, karena melakukan berbagai hal mengunakan perasan.  
     Perenungan terhadap pikiran (cittanupassana), sebuah tindakan kesadaran disebut citta. Citta sering diartikan sebagai suatu keadaan pikiran. Setiap citta terdiri dari banyak komponen diantaranya yaitu kesadaran itu sendiri, proses yang mengalami obyek paling dasar. Bersama dengan kesadaran setiap citta mengandung komponen-komponen yang disebut cetasika. Perenungan terhadap fenomena (Dhammanupassana) memiliki dua arti yang saling berhubungan yaitu cetasika-cetasika, faktor-faktor mental dan elemen-elemen kenyataan yang mana telah diajarkan Buddha. Hal tersebut sering diterjemahkan dengan Dhamma sebagai fenomena. Faktor mental ini meliputi tujuh faktor pencerahan (perhatian, penyelidikan, energi, kegiuran, ketenangan, kosentrasi dan keseimbangan batin) dan empat kebenaran mulia (dukkha, asal mula dukkha, lenyapnya dukkha, jalan menuju lenyapnya dukkha). 

2.4  Kekuatan Kosentrasi  (Samādhi Bala)

Jalan Mulia Berunsur Delapan kosentrasi benar berlandaskan pada pikiran benar (kusala citta), pemusatan pikiran pada obyek dapat menghilangkan kekotaran batin, sehingga membuat batin menjadi lebih tenang dan melatih untuk kesabaran. Dengan kosentarsi benar maka setiap orang akan mendapatkan ketenangan batin sehingga dalam melakukan pekerjaan mempunyai kemantapan batin dan kemantapan pikiran. Vidhurdhammābhorn (1992:179) mendefinisikan samādhi bala merupakan kemantapan batin atau kemantapan pikiran dalam menghadapi segala pekerjaan. Samādhi bala dalam menjalankan pekerjaan sangat dibutuhkan karena hal ini dapat membawa setiap orang memiliki kemantapan batin dan kemantapan pikiran dalam menghadapi semua pekerjaan, baik dalam bidang duniawi maupun dalam bidang keagaman.
     Lebih lanjut Wuryanto (2007:85) dalam buku berjudul wirausaha buddhis menyatakan samādhi bala merupakan pemusatan pikiran dengan teguh dalam menghadapi pekerjaan baik dalam bidang duniawi maupun bidang keagaaman. Setiap orang apabila mengahadapi pekerjaan duniawi  seperti menulis, membaca, mendengar setiap orang harus selalu memusatkan pikiran dengan teguh. Dalam bidang keagamaan seperti melatih, mengontrol dan membimbing pikiran sehingga dapat terarah dan membentuk kekuatan batin atau pikirian yang mantap.   
Secara umum pengertian meditasi atau samādhi merupakan pendekatan psikologis untuk pengembangan, pelatihan dan pemurnian pikiran (Dhammananda, 2005:295). Meditasi  umumnya apabila dipraktikan mempunyai tujuan untuk pelatihan mental dan pengembangan sepiritual. Meditasi dalam agama Buddha terdapat dua yaitu: Meditasi samatha-bhāvanā dan meditasi vipassanā-bhāvanā (Nayaka, 2009:104 ). Meditasi samatha-bhavana merupakan meditasi bertujuan untuk mengembangkan ketenangan sedangakan vipassanā-bhāvanā merupakan meditasi untuk mencapai pandangan terang. Vipassanā berasal dari bahasa pali kuno yang mempunyai arti melihat kedalam, padangan terang, kebijaksanaan. Vipassanā bhavana merupakan sari ajaran Buddha yang berupa pengalaman.
     Samādhi bala memang harus dimiliki oleh setiap orang dalam melakukan berbagai hal. Apabila melaksanakan dan mengembangkan meditasi samātha bhavana  memperoleh ketenangan batin sehingga lebih mempunyai kemantapan batin dan kemantapan pikiran terhadap sesuatu hal yang dilakukan. Bodhi (2010:108) menyatakan bahwa samādhi sebagai pemusataan pikiran, dapat menimbulkan konsentrasi yang bajik, mengumpulkan keadaan-keadaan pikiran yang terpencar dan terhambur untuk selalu terkosentrasi. Pikiran yang terkosentrasi terdapat dua ciri yaitu penuh perhatian yang tak terputus pada suatu obyek dan ketenangan. 
     Samādhi bala merupakan kekuatan dari kosentrasi (A. V:318).  Kekuatan dari kosentrasi ini ditekankan terhadap  empat jhāna. Maksudnya bahwa memiliki samādhi bala apabila dikembangkan untuk melakukan meditasi akan memperoleh jhāna satu, jhāna dua, jhāna tiga dan jhāna empat. Samādhi bala apabila dikembangkan memperoleh manfaat tergantung dari hal yang dilakukan. Samādhi bala dikembangkan oleh setiap orang dalam melakukan bebagai hal termasuk dalam bekerja maka pikiran akan lebih tenang dan mempunyai kemantapan batin serta kemantapan  pikiran sehingga pekerjaan yang dilakukan mendapatkan hasil lebih baik. Memiliki kemantapan pikiran dalam melakukan pekerjaan membuat pikiran tidak terpecah-pecah memikirkan pekerjaan yang lain, melainkan lebih kosentrasi terhadap pekerjaan yang dilakukan.

2.5 Kekuatan kebijaksanaan (Paññā Bala)

Vidhurdhammābhron (1992:180) dalam buku  berjudul ajaran bagi pemula mendifenisikan paññā bala merupakan kekuatan kebijaksanaan. Kebijaksanaan dapat diartikan sebagai pengetahuan. Kekuatan pengetahuan meliputi pengetahuan akan kejahatan (pāpa) dan kekuatan kebaikan (puñña). Pengetahuan dalam hal ini mengetahui mana yang baik serta manfaat dari pekerjaan yang dilakukan. Setiap orang dalam melakukan berbagai hal, termasuk dalam hal bekerja dengan memiliki kebijaksaan akan memudahkan dalam bekerja. Paññā bala merupakan kekuatan kebijaksanaan (A. V:318). Kebijaksanaan ini dapat dilihat dalam  empat kebenaran mulia (kensunyataan suci tentang dukkha, kesunyataan suci tentang asal mula dukkha, kesunyataan suci tentang lenyapnya dukkha, kesunyataan suci tentang jalan menuju lenyapnya dukkha).
Jalan Mulia Berunsur Delapan terbagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok sila, kelompok samādhi dan kelompok paññā. Kelompok paññā atau Kebijaksanaan terdiri dari pandangan benar dan pikiran benar (Issara, 2004:29). Pandangan benar maksudnya mengetahui empat kesunyataan mulia, mengetahui perbuatan baik, buruk beserta akarnya dan mengetahui tiga corak alam (ketidakkekalan, penderitaan, tidak ada jiwa yang kekal). Dengan pandangan benar seseorang dapat mengetahui hal-hal mana yang hendak dilakukan agar mendatangkan manfaat. 
Pikiran benar merupakan pikiran yang tidak mementingkan diri sendiri dan pikiran yang tebebas dari kemelekatan, kebencian, keserakahan, keinginan jahat, pikiran cinta kasih tanpa kekerasan kepada semua makhluk. Buddha menjelaskan bahwa pikiran memiliki tiga ruas yaitu kehendak untuk meninggalkan duniawi, kehendak untuk berniat baik dan kehendak untuk tidak merugikan orang lain (Boddhi, 2006:42).  Dengan memiliki pikiran benar maka dalam bekerja tidak akan merugikan pihak lain. Pikiran merupakan pemimpin dari semua orang bertindak, melakukan perbuatan termasuk dalam bekerja. Dalam Dhammapada bab Yamaka Vagga ayat 1 dijelaskan bahwa:
Pikiran mendahului semua kondisi batin, pikiran adalah pemimpin, segalanya diciptakan oleh pikiran. Apabila dengan pikiran yang jahat seorang berbicara atau berbuat dengan jasmani, maka penderitaan akan mengikuti si pelaku karenanya, seperti roda kereta yang mengikuti jejak kaki lembu jatan yang menariknya (Dh. I:3).

Pikiran merupakan pemimpin dalam melakukan suatu perbuatan. Dalam menjalankan berbagai hal termasuk dalam bekerja setiap orang hendaknya mempunyai pikiran benar serta pandangan benar. Dua hal tersebut merupakan rangkaian dari kebijaksanaan atau paññā. Berdasarkan Abhidhamma, kebijaksanaan dibagi menjadi tiga macam, yaitu: (1). kebijaksanaan yang diperoleh dari pikiran, (2). kebijaksanaan yang diperoleh dari mendengar, (3). kebijaksanaan yang diperoleh dari pengembangan batin (U Ba Khin, 1997:170).
Kebijaksanaan dari pikiran maksudnya pengetahuan mengenai berbagai hal, termasuk berbagai keahlian, profesi. Kebijaksanaan jenis ini meliputi pemikiran masalah Dhamma maupun masalah masalah duniawi. Kebijaksanaan yang diperoleh dari mendengar merupakan pengetahuan yang diperoleh seorang dengan jalan bertanya dan mendengarkan kata-kata orang yang bajik. Hal ini dilakukan apabila seorang tidak memperolehnya dari berpikir sendiri, tetapi jenis kebijaksanaan ini sangat luas.  Kebijaksanaan diperoleh dari pengembangan batin merupakan kebijaksanaan ketika mencapai jhāna dan buahnya. Untuk melakukan pekerjaan pikiran benar serta pandangan benar bermanfaat karena dalam hal ini merupakan pengetahuan untuk mengetahui hal-hal yang dilakukan dalam bekerja membawa manfaat.
Mettadewi (2001:10) menyatakan bahwa dengan memiliki paññā atau kebijaksanaan setiap orang dapat mengambil langkah-langkah yang baik dan tepat. Seorang dapat melakukan hal-hal yang bermanfaat dan menghindari segala sesuatu yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dengan memiliki paññā atau kebijaksanaan setiap orang akan terus berjuang dalam menjalankan kehidupan penuh dengan tantangan, sehingga tidak mudah putus asa, melainkan memiliki cara berpikir yang lebih dewasa dan mampu menerima kenyataan sebagaimana adanya. Wuryanto (2007:84) mendefinisikan paññā bala adalah kekuatan kebijaksanaan atau kekuatan pengetahuan.  Kebijaksanaan perlu digunakan dalam melakukan berbagai hal termasuk dalam hal berkerja. Dalam bekerja memiliki kebijaksanaan maka akan mengetahui mana pekerjaan yang pantas dikerjakan dan baik untuk dilakukan.
     Melakukan pekerjaan dengan mengembangkan kekuatan kebijaksanaan maka akan lebih mengetahui hal-hal mana yang perlu dikerjakan dan tidak perlu dikerjakan. Memiliki kebijaksanaan dalam menjalankan pekerjaan maka  akan terus berjuang, apabila pekerjaan yang dijalankan mengalami kegagalan tidak mudah putus asa untuk meningalkan pekerjaan, melainkan dengan menggunakan kebijaksanaan terus dapat mengevaluasi pekerjaan yang dijalankan.

3 Klasifikasi Penghasilan Secara Profesional

     Pekerjaan yang dilakukan  dengan kemampuan, keuletan, ketekunan  akan mendapatkan hasil yang maksimal. Penghasilan yang diperoleh akan  digunakan secara tepat, sehingga dalam melakukan pekerjaan tidak akan sia-sia. Setiap orang hendaknya dalam memperoleh penghasilan membagi pengasilan secara tepat agar dapat memenuhi kebutuhan hidup. 
     Buddha menjelaskan kepada pemuda Sigala bagaimana membagi penghasilan secara tepat agar dapat bermanfaat dengan cara: (1). Sebagian digunakan untuk membiayai kehidupan sehari-hari, (2). Dua bagian harus digunakan untuk pekerjaan atau dipakai untuk menambah modal, (3). Sebagian disimpan sebagai cadangan pada saat dibutuhkan (D. 2009:490).
     Penghasil yang diperoleh seharusnya dipergunakan secara baik dan benar. Buddha telah memberikan cara yang tepat dalam mengatur pengahasilan. Penghasilan  dapat bermanfaat apabila digunakan untuk kepentingan diri sendiri maupun untuk membantu kepentingan orang lain. 
     Dalam Kitab Jataka kañcnakkhandha Buddha menjelaskan kisah kelahiran lampau. Brahmadatta memerintah di Brenares, Bodhisata terlahir sebagai seorang petani. Suatu hari membajak ladang yang dulunya merupakan sebuah perdesaan. Pada massa desa tersebut masih berdiri seorang saudagar wafat dengan meninggalkan potongan emas besar, tertanam dalam tanah yang sekarang merupakan ladang tersebut. Potongan emas tersebut setebal lingkaran, dengan panjang empat kubik penuh. Ketika sedang membajak, bajak Bodhisatta mengenai potongan emas yang tertimbun dalam tanah, lalu menggali dan membersihkan kotoran dari emas tersebut. Waktu kerja telah berakhir dan matahari telah terbenam. Bodhisatta mencoba untuk menempatkan potongan emas dibahu dan membawa untuk pergi, namun tidak mampu mengangkatnya. Bodhisatta duduk didepan harta tersebut dan berpikir secara mendalam apa yang akan dilakukan. Bodhisatva memotong emas tersebut menjadi empat bagian. Satu bagian akan keguanan kebutuhan sehari-hari, bagian kedua akan kusimapan pada saat musim hujan, bagian ketiga akan kugunakan untuk usaha petanian, dan bagian terakhir akan diberikan pada fakir miskin dan orang membutuhakan serta pekerjaan yang giat. Pembagian tersebut membuat lebih ringan dalam hal untuk membawa potongan emas kerumahnya (J, 2009:323).



PENERAPAN PAÑCABALA SEBAGAI LANDASAN BERWIRAUSAHA


1 Meningkatkan Potensi Terhadap Diri Sendiri

     Kekuatan keyakinan (Saddhā Bala) yang dimiliki oleh setiap orang menjadi dasar untuk  melakukan segala aktivitas sehari-hari. Saddhā Bala mempunyai peranan penting dalam mengerjakan sesuatu. Dengan memiliki Saddhā Bala maka setiap orang mempunyai rasa percaya diri dalam berwirausaha. Kekuatan keyakinan dan rasa percaya diri dapat meningkatkan potensi terhadap diri setiap orang. Potensi yang dimiliki akan memudah dalam berwirausaha, seperti dapat menciptakan produk-produk baru, mengelola, serta memasarkannya, sehingga usaha dapat tumbuh dan berkembang.
     Seorang wirausaha perlu memiliki saddhā bala karena dapat meningkatkan potensi diri. Dalam berwirausaha rasa percaya diri dan saddhā bala harus dikembangkan, karena hal ini dapat meningkatkan potensi yang dimiliki. Apabila potensi  yang dimiliki telah meningkat, maka dapat berwirausaha dengan baik dan mendapatkan kesuksesan. Dengan mempunyai  rasa kepercaya diri dan memiliki saddhā bala  seorang wirausaha akan mengetahui potensi diri yang dimiliki. Dengan mengenali potensi diri maka dapat menyalurkan bakat dan minat yang dimiliki untuk mengembangkan usahanya. Potensi diri yang dimiliki dapat memudahkan seorang wirausaha dalam hal menciptakan produk-produk baru sehingga usaha yang dijalankan dapat meningkat. Saddhā bala serta rasa percaya diri yang dimiliki seorang wirausaha dapat meningkatkan potensi diri dan memacu untuk terus menggali potensi yang ada dalam diri untuk mengembangkan usahanya. Dalam berwirausaha potensi perlu dimiliki dan dikembangkan, karena potensi sangat berperan penting dalam berwirausaha. Potensi dapat ditingkatkan melalui pengembangan saddhā bala.
     Seorang dalam menjalankan atau membuka usaha dalam berwirausaha tentunya memiliki suatu keyakinan bahwa usaha yang dijalankan akan berhasil atau mendapatkan kesuksesan. Kekuatan keyakinan (Saddhā bala) yang dimiliki harus dikembangkan, karena hal ini akan membawa manfaat yaitu dapat meningkatkan rasa percaya diri. Dengan percaya rasa percaya diri potensi yang dimiliki akan semakin meningkat. Dalam berwirausaha apabila potensi yang dimiliki dapat meningkat dan berkembang maka akan memudahkan setiap orang dalam menjalankan usahanya.
      Dalam berwirausaha apabila Saddhā bala  dikembangkan  potensi yang dimiliki akan semakin meningkat. Dengan memiliki saddhā terhadap Buddha, Dhamma, Jalan Mulia Berunsur Delapan, saṅgha potensi yang dimiliki akan semakin meningkat. Menjalankan wirausaha setiap orang memiliki keyakinan terhadap diri sendiri, namun hal ini potensi akan lebih meningkat bila memiliki suatu saddha terhadap Jalan Mulia Berunsur Delapan. Dalam berwirausaha  apabila seseorang memiliki suatu saddhā terhadap Jalan Mulia Berunsur Delapan (pandangan benar, pikiran benar, perkataan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, upaya benar, perhatian benar dan kosentrasi benar) akan memudahkan dalam berwirausaha karena potensi yang dimiliki akan meningkat. Memiliki saddhā  terhadap pandangan benar maka dalam berwirausaha akan membuat seorang menjalakan usahanya dengan benar. Memiliki saddhā bala terhadap pandangan benar maka secara tidak langsung akan memiliki pikiran benar. Memiliki pikiran benar dalam berwirausaha dapat meningkatkan potensi yang dimiliki sehingga dapat mengembangkan usaha yang dijalakan dan mencapai keberhasilan. Dengan memiliki saddhā  terhadap Jalan Mulia Berunsur  Delapan  dapat memperoleh keberhasilan serta membuat rasa percaya diri dan potensi yang dimiliki meningkat. 
Berwirausaha  setiap orang harus mengembangkan saddhā bala karena hal ini  dapat meningkat potensi yang dimiliki. Potensi harus dikembangkan dalam berwirausaha. Potensi yang ada dalam diri sendiri sangat menentukan setiap orang menuju keberhasilan. Dengan memperkuat dan mengembangkan saddhā yang dimiliki maka potensi yang dimiliki dapat meningkat. Apabila potensi yang dimiliki telah meningkat, potensi  akan terus digali sehingga dapat meningkatkan usaha yang dijalankan. Dengan demikian wirausaha dapat menciptakan produk-produk serta memasarkannya

2 Memiliki Semangat Kerja

     Pada dasarnya setiap orang memiliki semangat dalam menjalankan hidup. Dengan mengembangkan kekuatan semangat (viriya bala)  yang ada dalam dirinya, maka akan terus bekerja dan selalu konsekuen. Viriya bala akan menimbulkan semangat dalam bekerja. Hal tersebut sangat berguna bagi seorang untuk melakukan wirausaha, sehingga usaha yang dijalankan berhasil.
     Memiliki keuletan dan ketekunan dalam berwirausaha akan memperoleh hasil yang maksimal. Dengan memiliki semangat kerja setiap orang tidak akan menelantarkan usaha yang dijalankan, melainkan selalu berpikir dan berkarya untuk  mengembangkan demi kemajuan usaha.
     Keuletan dan ketekunan dalam bekerja sangat dibutuhkan. Seperti dalam berwirausaha, seorang wirausaha memiliki ketekunan, keuletan dalam melakukan pekerjaan, maka usahanya akan mendapatkan hasil yang lebih baik.  Pada umumnya seorang wirausaha mempunyai tujuan yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan usaha yang dijalankan akan berhasil. Dengan tujuan tersebut seorang wirausaha selalu beroreientasi pada tugas, laba, dan selalu memiliki jiwa kreatif dan inovasi untuk menciptakan produk-produk baru, hal ini seorang wirausaha harus memiliki kekuatan semangat (viriya bala) dalam bekerja.  Dengan memiliki dan mengembangkan kekuatan semangat (viriya bala) untuk bekerja seorang wirausaha akan selalu tekun, teliti dalam memulai, mengelola dan menyelesaikan pekerjaan.
     Dalam berwirausaha kekuatan semangat (viriya bala) harus dikembangkan hal ini merupakan salah satu faktor posif dalam bekerja. Dengan memiliki dan mengembangkan viriya bala seorang wirausaha akan selalu mencari peluang-peluang untuk memasarkan produknya. Viriya bala apabila dikembangkan secara berkelanjutan membuat seorang wirausaha terus berkarya dengan menampilkan produk-produk yang lebih bermutu. Selain hal itu jugaa akan memperoleh manfaat yaitu memiliki  kreativitas dan inovasi untuk mengembangkan usahanya. Semangat dalam menjalankan tugas maka seorang wirausaha dapat mencapai tujuan yang ditentukan. Semangat dalam menyusun rencana serta semangat dalam menjalankan program tersebut, maka akan membuat usaha yang dijalankan memperoleh kesuksesan. 
Viriya bala apabila dikembangkan dapat mengatasi kejenuhan dan kebosenan dalam bekerja. Menjalankan wirausaha setiap orang harus mempunyai semangat yang tinggi. Dalam berwirausaha setiap orang harus mengembangkan viriya bala sehingga tidak mempunyai rasa malas, kurang berusaha untuk menampilkan, memperbarui, menciptakan produk-produk baru. Dengan viriya bala yang dimiliki maka setiap oarang terus berkaya untuk memperbaruhi produk-produk baru untuk dipasarkan.
  Viriya bala jika dikembangkan akan memiliki semangat bekerja. Seperti  salah satu pengusaha di Indonesia Bob Sadino dengan memiliki semangat dalam bekerja selalu menekuni usaha pertenakan dan pangan. Bob Sadino dengan memiliki kekuatan semangat (viriya bala)  dapat mengembangakan usaha pertenakan ayam dan mengelola perkebunan sayur mayur. Selalu tekun, rajin dengan usaha yang dijalankan, Bob Sadino dapat mengembangkan usaha pertenakan dan pangan. Sehingga memiliki jaringan usaha Kemfood, Kemchick dan menjadi pemilik tunggal super market Kemchicks.
Pengusaha Bob Sadino dalam berwirausaha memiliki dan mengembangkan Viriya bala. Bob Sudino dengan memiliki  viriya  membuka usaha sehingga usaha yang dijalankan mendapatkan kesuksesan.  Bob Sudino membuka usaha pertenakan ayam, awalnya hanya memelihara 50 ayam pemberian dari temannya. Pertama Bob Sudino despresi dengan kegagalan hidupnya, namun setelah menerima pemberian 50 ayam dari temannya  dan memiliki Viriya untuk melakukan usaha pertenakan.  Bob Sudino dengan istri dalam memelihara ayamnya dengan penuh viriya (semangat) sehingga pertenakan menjadi berkembang. Selain pertenakan, Bob Sudino berwirausaha dalam bidang pangan. Dengan mengembangkan viriya bala, Bob Sudino memiliki jaringan usaha Kemfood dan Kemchick.
Bob Sudino dalam berwirausaha mengembangkan kekuatan semangat (viriya  bala) sehingga dapat meraih kesuksesan  hingga memiliki beberapa jaringan usaha. Dengan viriya bala Bob Sudino selalu menjalakan usahanya dengan tekun, rajin, terus berkarya dan tidak mempunyai rasa bermalas-malasan. Bob Sudino tidak pernah mempunyai rasa bosan, jenuh dalam menjalankan usahanya. Dalam usaha pangan Bob Sudino bekerjasama dengan petani sayur didaerah tertentu. Dengan Viriya bala Bob Sudino selalu menekuni usaha hingga mencapai keberhasilan yang luar biasa.

3 Fokus Terhadap Usaha Yang Ditekuni

     Kekuatan kesadaran (sati bala) dan  kekuatan kosentrasi (samādhi bala) yang dimiliki setiap orang akan membawa manfaat. Dengan mengembangkan sati bala dan samādhi bala setiap orang akan lebih fokus terhadap usaha yang ditekuni. Fokus terhadap usaha yang ditekuni maka usaha yang dijalankan dapat berkembang. Memiliki sati bala dan samādhi bala seorang wirausaha tidak akan mengabaikan pekerjaan yang sedang dijalankan. Dengan fokus terhadap usaha yang ditekuni dapat mengatasi kendala-kendala dalam berwirausaha. Seorang wirausaha selalu berusaha mengembangkan samādhi bala maka mempunyai kemantapan batin dan kemantapan dalam berpikir sehingga selalu fakus terhadap usaha yang dijalankan.
     Menjalankan pekerjaan selalu kosentrasi dan selalu sadar terhadap pekerjaan yang dilakukan. Seperti seorang wirausaha dalam mengembangkan usaha diperlukan kosentrasi dan sadar, waspada, menggingat terhadap pekerjaan yang dilakukan.  Sadar terhadap pekerjaan yang dijalankan dan selalu konsentrasi, maka seorang wirausaha akan fokus terhadap usaha yang ditekuni. Seorang wirausaha fokus terhadap usaha yang ditekuni maka tidak akan terpengaruh dengan pekerjaan lainnya. Dengan fokus dan selalu menekuni usaha yang dijalankan maka mempunyai kemantapan terhadap usaha yang dijalankan, sehingga tidak mudah untuk berpindah-pindah terhadap usahanya yang lain. Selalu fokus terhadap usaha yang dijalankan, mudah untuk mengetahui peluang sehingga produk-produk yang dihasil dapat segera dipasarkan.  
     Mengembangkan kekuatan kesadaran (sati bala) dalam melakukan wirausaha maka akan lebih fokus terhadapat usaha yang dijalakan karena selalu menginggat usaha yang dijalankan saat ini. Dengan mengembangkan sati bala setiap orang akan memperoleh manfaat yaitu selalu mengingat, sadar dan waspada terhadap usaha yang dijalankan. Sati bala  apabila dikembangkan seseorang dalam berwirausaha maka akan memperhatikan keuangan dalam perusahaan, sehingga dapat mengontrol pemasukan dan pengeluaran. Selalu fokus usaha yang dijalankan sehingga dapat mengerti dan memahami hal-hal mana yang belum diselesaikan. 
     Mengembangkan kekuatan kosentrasi (samādhi bala) dalam berwirausaha maka memiliki kemantapan usaha yang dijalankan saat ini. Pada umumnya setelah mengembangkan samādhi akan memperoleh ketenagan batin dan pandangan terang. Apabila samādhi bala dikembangkan seseorang dalam menjalakan wirausaha akan mempunyai kemantapan batin dan kemantapan pikiran untuk menjalakan usaha yang telah didirikan. Ketenangan batin yang diperoleh dari mengembangkan samādhi membawa manfaat yaitu lebih fokus dalam menjalakan usaha. Dengan mempunyai kemantapan, baik kemantapan batin dan kemantapan pikiran maka seorang wirausaha akan selalu fokus terhadap usaha yang dijalankan. 
Memiliki sati bala dan samādhi bala membuat seoarang wirausaha fokus terhadap usaha yang dijalankan. Seperti Sudhamek A.W.S seorang Presiden direktur Garuda Food dengan mengembangkan sati bala dan samādhi bala usaha yang dipimpin dapat berhasil. Dengan fokus terhadap usaha yang dijalankan dapat mengetahui mengetahui peluang yang ada. Sudhamek A.W.S dalam menjalankan usaha fokus terhadap distribusi serta pemasaranya sehingga penjualan dapat berkembangkan.
Sudhamek A.W.S dalam memimpin Garuda Food selalu fokus terhadap usaha yang dijalankan sehingga mendapatkan kesuksesan. Garudafood yang dipimpin Sudhamek A.W.S memiliki dua ratus item produk-produk, serta berkembang menjadi delapan perusahaan dan kurang lebih mempunyai dua puluh ribu karyawan.  Hal tersebut dapat diperoleh karena Sudhamek A.W.S selalu fokus terhadap pekerjaan yang dijalankan. Sudhamek A.W.S selalu mengembangkan sati bala dan samādhi bala sehingga dalam menjalankan selalu mengontrol, mengingat hal-hal yang perlu diperbaiki. Serta memiliki kemantapan batin dan kemantapan pikiran terhadap perusahaan yang dijalankan. 
Sudhamek A.W.S dalam menjalankan perusahaan Garuda Food hingga mencapai keberhasilan. Hal ini dilakukan Sudhamek A.W.S dengan  selalu perhatian dan waspada serta mengontrol perusahaan, sehingga selalu fokus terhadap sistem distribusi. Dengan distribusi yang lancar dan bagus, maka konsumen tidak akan kecewa. Sudhamek A.W.S selalu fokus terhadap usaha yang dijalankan sehingga produk-produk Garuda Food menguasai pasar nasional, selain itu produk-produk garuda food  diekspor dalam beberapa negara seperti: Hongkong, Malasiya dan Korea. Sudhamek A.W.S selalu fokus terhadap hal-hal yang bersangkutan dalam pekerjaan perusahaan. Sudhamek A.W.S memiliki kemantapan pikiran dan memiliki kemantapan batin. Sehingga selalu fokus terhadap hal-hal yang bersangkutan dengan perusahaan hingga mencapai keberhasilan.

4 Bijaksana dalam Bekerja.

      Kekuatan kebijaksanaan (paññā bala) dimiliki oleh setiap orang. Kebijaksanaan apabila dikembangkan oleh setiap orang maka akan mendapatkan manfaat yaitu bijaksana dalam bekerja. Bijaksana dalam berkerja dapat mengetahui mana yang bermanfaat serta tidak bermanfaat. Bijaksana dalam berkerja seperti seorang wirausaha dalam mengambil resiko dilakukan secara bijaksana, sehingga resiko yang diambil tidak menyebabkan kerugian. Bijaksana dalam berwirausaha yaitu  dengan mengambil resiko tidak tergesa-gesa melainkan dipertimbangkan secara kritis. Selain hal tersebut, seorang wirausaha dalam menjalankan usaha mendapatkan saran, pendapat, dengan bijaksana akan memikirkan terlebih dahulu pendapat dan saran dari pihak lain.
     Bijaksana dalam berwirausaha tidak akan merugikan orang lain. Seorang yang bijaksana dalam bekerja selalu mengambil langkah-langkah yang baik untuk mengembangkan usahanya. Bijaksana dalam mencari peluang untuk  memasarkan produk-produk barunya sehingga  tidak merugikan pihak lain. 
     Kebijaksanaan sangat dibutuhkan dalam menjalankan berbagai pekerjaan. Seperti dalam berwirausaha, seorang wirausaha harus mempunyai kebijaksanaan. Kebijaksanaan sangat diperlukan, karena dalam menjalankan suatu usaha pasti mendapatkan pendapat atau saran dari pihak lain.  Dengan  memiliki kebijaksanaan seorang wirausaha tidak langsung menerima saran, pendapat dari orang lain melainkan harus mencari kebenarannya, dan berpikir secara realitis apakah nanti bermanfaat bagi kemajuan usahanya. Dalam berwirausaha suatu pengambilan resiko pasti dialami, dengan memiliki kebijaksanaan seorang wirausaha akan mengambil resiko dengan penuh pertimbangan tidak tergesa-gesa, sehingga usaha yang dijalankan dapat tumbuh dan berkembang.
Mengembangkan paññā bala dalam berwirausaha dapat meningkatkan kebijaksanaan dalam bekerja. Dalam berwirausaha apabila mempunyai kebijaksanaan dalam memimpin perusahaan maupun dalam bekerja maka akan membuat perusahaan yang dipimpinnya akan lebih tumbuh dan bekembang. Seorang wirausaha apabila dalam bekerja mengembangkan paññā bala maka akan memiliki kebijaksanaan dalam bekerja. Kebijaksanaan dalam berwirausaha dapat dilihat dari merencanakan, menyusun program-program untuk kemajuan usahanya, disini kebijaksanaan yang dimiliki  berperan penting  dalam mengambil keputusan, pengambilan resiko akan lebih memperkecil suatu kegagalan. Menggunakan paññā dalam pengambilan resiko maka lebih mengetahui bahwa keputusan yang akan diambil membawa manfaat bagi perusahaannya atau tidak, karena dengan memiliki kebijaksanaan seorang tersebut memiliki pandangan benar dan pikiran benar.  
    Memiliki pikiran benar serta pandangan benar maka telah memiliki paññā, dengan pikiran benar dan pandangan benar seorang wirausaha akan selalu bertindak secara benar dalam mempimpin karyawannya.  Mengembangkan pikiran benar serta pandangan benar maka dapat memperoleh paññā. Dengan paññā yang dimiliki wirausaha yang dijalankan akan lebih tumbuh dan berkembang. Berwirausaha Paññā perlu dimiliki, dengan pañña akan timbul suatu pengetahuan sehingga dalam mengambil langkah, keputusan serta menyusun rencana tersusun dengan rapi dan benar.
Kekuatan bijaksana (paññā bala) yang dikembangkan membuat  Ciputra meraih kesuksesan. Dalam mengembangkan usaha Ciputra menggunakan kebijaksanaan sehingga proyek usaha Jaya Group berhasil. Dengan memiliki kekuatan (paññā bala) selalu membangun Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) dengan secara bijaksana dalam menambah fasilitas di TIJA. Dengan menerapkan Pañña bala proyek yang dijalankan Ciputra berhasil dan dapat tumbuh serta bekembang. 
Ciputra pengusaha Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) meraih sukses dalam usahanya. Sebelum meraih kesuksesan Ciputara mengalami kegagalan dalam usahanya. Krisis pada tahun 1997  Ciputra mengalami suatu kegagalan dalam mempimpin tiga group: Jaya group, Metropolitan group dan Ciputra group. Namun, dengan bijaksana mengetahui bahwa dalam dunia usaha kalu tidak mengalami keberhasilan pasti mengalami kegagalan. Ciputra selalu mempunyai prinsip dalam bekerja bahwa selama bekerja selalu semangat dan berbuat benar, pasti  akan ada jalan keluarnya dalam menjalakan usaha.  Ciputra sangat bijaksana dalam memimpin kurang lebih empat belas ribu karyawan. Dalam membangun fasilitas yang baru untuk perkembangkan  Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) sangat direncakan secara serius. Dengan membangun tempat-tempat hiburan terlebih dahulu Ciputra secara bijaksana menyusun langkah-langkah tertentu, sehingga usaha yang dijalankan dua puluh tahun kemudian dapat berkembang seperti sampai saat ini. Hal tersebut karena tidak lepas dari Ciputra yang selalu mempunyai pikiran benar dan pandangan benar dan mempunyai prinsip dalam menjalakan usaha.
Pikiran benar serta pandangan benar yang dikembangkan oleh Ciputra dapat digunakan dalam mengembangkan usaha. Mempunyai dua hal tersebut sehingga memiliki kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang dimiliki Ciputra dalam bekerja  dapat ditujukan melalui salah satu prinsip dasarnya untuk menjalankan usahanya, selain itu Ciputra dalam membangun, menambah tempat hiburan selalu bepikir secara bijaksana. Dengan mengembangkan paññā bala yang dimiliki, Ciputra membangun Taman Impian Jaya Anjol (TIJA) sampai memperoleh kesuksesan sampai saat ini. Dalam membangun tempat-tempat hiburan yang baru Ciputra memiliki suatu strategi, dan dengan bijaksana merencanakan serta melakukan program yang telah ditentukan.

5 Mengembangkan Hasil Untuk Kemajuan Usaha

     Setiap orang dalam melakukan pekerjaan tentunya memiliki tujuan untuk mendapatkan penghasilan. Dengan melakukan pekerjaan secara sungguh-sungguh maka akan  memperoleh hasil yang maksimal.  Penghasilan yang diperoleh agar bermanfaat digunakan secara baik dan tepat.
     Setiap orang mendapatkan penghasilan  digunakan untuk memenuhi kebutuhan  dirinya sendiri, menujang kebutuhan keluarga, mengembangkan usaha sehingga hasil yang diperoleh dapat bermanfaat. Seorang wirausaha apabila mendapatkan laba atau penghasilan dibagi secara tepat dan benar sehingga dapat mengembangkan usaha. Berwirausaha faktor utama adalah modal, sehingga dalam mendapatkan keuntungan harus dibagi secara benar. Penghasilan dapat digunakan untuk menambah modal usaha, sehingga usaha yang dijalankan akan tumbuh dan berkembang. Dengan demikian seorang wirausaha harus mengunakan hasil yang diperoleh dengan disiplin, tidak terlalu boros dan mendahulukan kebutuhkan dari pada keingginan.
    Berwirausaha dalam mendapatkan penghasilan dibagi secara tepat sehingga dapat mengembangkan usaha. Hal ini dibagi menjadi empat bagian pertama seperempat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seorang wirausaha harus mengunakan penghasilan seperempat bagian untuk memenuhi kebutuhanya sendiri dan kebutuhan keluarga, selanjutnya setengah bagian digunakan untuk menambah modal untuk usaha. Dengan menambahkan setengah bagian dari penghasilan kedalam modal kerja hal ini akan membuat usaha semakin tumbuh dan berkembang. Semakin banyak modal serta mengelola keuangan usaha secara tepat dan teratur, maka penghasilan akan maksimal. Seperempat bagian lagi disimpan untuk kepentingan mendadak, berwirausaha tidak selama akan berjalan sesuai harapan yang diinginkan, maka seperempat bagian ini dapat digunakan. Apabila mengalami kebangkrutan tetap dapat menjalankan usaha.
Dalam berwirausaha penghasilan yang diperoleh dapat dijadikan untuk menambah modal. Penghasilan yang peroleh lima puluh persen dapat ditambahkan kedalam modal usaha. Modal dalam berwirausaha merupakan salah satu faktor keberhasilan. Dengan menggunakan modal untuk mengembangkan usahanya maka usaha yang dijalankan  dapat tumbuh dan berkembang. Penghasilan yang diperoleh agar bermanfaat, seorang wirausaha membagi menjadi dibagi menjadi empat bagian. Setengah atau lima puluh persen untuk mengembangkan usaha yang dijalankan.  Dalam hal ini seorang wirausaha dengan bijaksana menggunakan hasil dan mengembangkan hasil yang diperoleh untuk kemajuan usaha.