Tampilkan postingan dengan label DHAMMAPADA ATTHAKATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DHAMMAPADA ATTHAKATA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2012

KISAH ORANG KAYA YANG TIDAK MEMILIKI ANAK

Suatu ketika, Raja Pasenadi dari Kosala datang untuk memberi hormat kepada Sang Buddha. Ia menjelaskan kepada Sang Buddha bahwa ia terlambat datang karena pada pagi hari itu seorang kaya telah meninggal dunia di Savatthi tanpa meninggalkan ahli waris. Hal ini menjadikannya harus mengambil alih semua kekayaan orang itu. Kekayaannya berjumlah 8 juta keping emas, belum termasuk uang perak, dan membutuhkan waktu 7 hari untuk mengangkutnya ke gudang harta Raja. Kemudian Raja menceritakan perihal orang itu, yang meskipun sangat kaya namun sangat kikir. Saat orang itu masih hidup, ia tidak pernah memberikan apapun sebagai wujud kemurahan hati. Ia menolak untuk membelanjakan uangnya bahkan untuk dirinya sendiri, dan karenanya, makan sangat hemat serta mengenakan pakaian dari kain yang kasar dan murah. Mendengar hal ini Sang Buddha menceritakan kepada raja serta para pengiringnya tentang orang itu pada saat kehidupannya yang lampau. Dalam kehidupannya itu ia juga seorang kaya.

Suatu hari ketika seorang Paccekabuddha datang dan berdiri untuk berpindapatta di depan rumahnya. Ia berkata pada istrinya untuk mempersembahkan sesuatu kepada Paccekabuddha. Istrinya berpikir sangat jarang suaminya memberi ijin untuk memberikan sesuatu pada orang lain. Maka istrinya mengisi penuh mangkok Beliau dengan makanan. Orang kaya tersebut sekali lagi bertemu dengan Paccekabuddha tersebut dalam perjalanan pulang ke rumah dan ia melihat pada mangkok makanannya. Mengetahui bahwa istrinya telah mempersembahkan makanan yang baik dalam jumlah banyak, ia berpikir, "Oh, bhikkhu ini hanya akan tidur nyenyak setelah makan enak. Akan lebih baik bila pelayan-pelayanku yang diberi makanan sebaik itu. Paling tidak, mereka akan memberiku pelayanan yang lebih baik." Dengan kata lain, ia menyesal bahwa ia telah menyuruh istrinya untuk mempersembahkan dana makanan pada Paccekabuddha.

Orang ini mempunyai seorang kakak yang juga kaya. Kakaknya hanya mempunyai satu orang anak lelaki. Karena iri hati atas kekayaan kakaknya, ia telah membunuh keponakannya yang masih muda dan karenanya ia mewarisi secara tidak sah kekayaan kakaknya setelah meninggal dunia.

Karena orang tersebut telah mempersembahkan dana makanan pada Paccekabuddha, ia menjadi orang kaya dalam kehidupannya sekarang. Karena ia menyesal telah mendanakan makanan pada Paccekabuddha maka ia tidak punya keinginan untuk membelanjakan apapun bahkan untuk dirinya sendiri. Karena ia telah membunuh keponakannya sendiri untuk mendapatkan kekayaan kakaknya, ia telah menderita dalam alam neraka (niraya) selama tujuh kali kehidupan dan tanpa anak. Perbuatan buruknya telah berakhir sehingga ia terlahir kembali ke alam manusia, tetapi di sini ia juga tidak melakukan perbuatan baik.

Raja kemudian berkata, "Bhante, meskipun ia telah hidup di sini dalam masa kehidupan seorang Buddha, ia tidak pernah mempersembahkan apapun kepada Sang Buddha maupun murid-muridNya. Sesungguhnya, ia telah kehilangan kesempatan yang sangat baik, ia sangat bodoh."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Hananti bhogā dummedhaṃ no ce pāragavesino
bhogataṇhāya dummedho hanti aññe va attanaṃ."

Kekayaan dapat menghancurkan orang bodoh,
tetapi tidak menghancurkan mereka yang mencari `Pantai Seberang` (nibbana).
Karena nafsu keinginan mendapatkan kekayaan,
orang bodoh menghancurkan dirinya sendiri dan orang lain.

KISAH DERMAWAN YANG MEMBERI HASIL PERTAMANYA

Ketika Sang Buddha bersemayam di Vihara Jetavana, Beliau membabarkan syair 367 ini, berkenaan kisah seorang brahmana yang mempunyai kebiasaan berdana lima macam hasil pertama yang diperoleh dari pekerjaannya sebagai seorang petani. Hasil pertama pertanian yang diberikan sebagai dana diambil pada saat panen, saat menguliti beras, saat menyimpan beras, saat memasak beras, dan saat menaruh nasi pada tempat nasinya.

Suatu hari Sang Buddha melihat brahmana dan istrinya itu dengan kemampuan batin luar biasa Beliau dan Beliau mengetahui bahwa saatnya sudah masak bagi brahmana dan istrinya mencapai tingkat kesucian anagami. Oleh karena itu Sang Buddha berkunjung ke tempat tinggal mereka dan berdiam diri di dekat pintu rumah brahmana untuk berpindapatta.

Pada saat itu brahmana sedang makan sambil melihat ke bagian dalam rumahnya, sehingga ia tidak melihat Sang Buddha berdiri di dekat pintu rumahnya. Isteri brahmana yang sedang berdiri dekat brahmana itu melihat Sang Buddha tiba, tetapi ia khawatir apabila suaminya melihat Sang Buddha berdiri di dekat pintu rumah untuk berpindapatta, suaminya itu akan memberikan seluruh nasi yang ada pada tempat nasinya kepada Sang Buddha, sehingga ia harus menanak nasi lagi.

Dengan pikiran seperti itu wanita itu kemudian berdiri menghalangi penglihatan suaminya, sehingga suaminya tidak bisa melihat Sang Buddha. Kemudian wanita itu perlahan-lahan berjalan menghampiri Sang Buddha, ia menghormat dan berkata kepada Sang Buddha, "Bhante, kita tidak bisa berdana makanan pada hari ini."

Tetapi Sang Buddha memutuskan untuk tidak beranjak dari tempat Beliau berdiri. Beliau hanya menggeleng-gelengkan kepala. Melihat hal itu, isteri brahmana tidak dapat menahan diri, ia ketawa.

Oleh karena itu brahmana membalikkan dirinya dan melihat Sang Buddha. Mengetahui apa yang dilakukan oleh isterinya itu, brahmana menjerit, "O, isteriku yang buruk, engkau telah meruntuhkan aku."

Segera brahmana mengambil tempat nasinya. Ia menghampiri Sang Buddha dan memohon maaf sambil berkata, "Bhante, silakan menerima pemberian nasi ini meskipun saya sudah mengambilnya sebagian." Kepada brahmana itu, Sang Buddha membalas, "O brahmana, nasi apapun sesuai buat-Ku, apakah nasi itu belum diambil, atau sudah sebagian diambil, bahkan sisa satu sendok terakhir.”

Brahmana sangat gembira mendengar kata-kata Sang Buddha. Pada saat yang sama ia merasa berbahagia karena pemberian nasinya telah diterima oleh Sang Buddha.

Brahmana itu kemudian bertanya kepada Sang Buddha, dengan ukuran apa seorang bhikkhu dapat dinilai dan bagaimana seseorang bisa dikenal, dan disebut sebagai bhikkhu. Sang Buddha mengetahui bahwa baik brahmana maupun isterinya telah siap mendengarkan ajaran Beliau perihal batin dan badan jasmani.

Oleh karena itu Beliau menjawab, "O brahmana, seseorang yang tidak lagi terikat kepada batin dan badan jasmani disebut bhikkhu."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

“Sabbaso nāmarūpasmiṃ yassa n’atthi mamāyitaṃ
asatā ca na socati sa ve "bhikkhū" ti vuccati.”

Apabila seseorang tidak lagi melekat pada konsepsi "aku" atau "milikku", baik yang berkenaan dengan batin maupun jasmani, dan tidak bersedih terhadap apa yang tidak dimilikinya, maka orang seperti itu layak disebut bhikkhu.

Brahmana dan isterinya mencapai tingkat kesucian anagami, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

KISAH NANGALA THERAS

Nangala adalah seorang buruh tani yang bekerja pada seorang petani. Suatu hari seorang bhikkhu melihatnya sedang bekerja di sawah dengan pakaian tuanya yang koyak-koyak. Sang bhikkhu bertanya kepadanya apakah ia berminat menjadi seorang bhikkhu. Ketika ia menyetujui sang bhikkhu membawanya ke vihara, dan mentahbiskannya menjadi bhikkhu. Setelah diterima dalam Pasamuan Bhikkhu seperti yang telah dinasehatkan oleh gurunya, ia meninggalkan bajak dan pakaian tuanya pada sebuah pohon tidak jauh dari vihara. Karena orang miskin itu meninggalkan bajaknya untuk memasuki pasamuan, maka ia dikenal dengan nama Nangala Thera (nangala artinya bajak).

Kehidupan di vihara lebih baik maka Nangala Thera menjadi lebih sehat, dan berat badannya bertambah. Setelah beberapa saat ia merasa bosan dengan kehidupannya sebagai bhikkhu dan sering memikirkan untuk kembali menjadi perumahtangga.

Jika pikiran itu muncul, ia akan pergi ke pohon dekat vihara, di mana bajak dan pakaian tuanya ditaruh. Di sana ia menegur dirinya sendiri, "O, orang tak tahu malu! Apakah kamu masih menginginkan kembali menggunakan pakaian tua ini dan bekerja keras, hidup rendah sebagai buruh kasar ?" Setelah berpikir seperti itu, ketidakpuasan terhadap kehidupan bhikkhunya menjadi sirna, dan ia kembali ke vihara. Ia pergi ke pohon itu setiap tiga atau empat hari untuk merenungkan kembali tentang masa lalunya yang tidak menyenangkan.

Jika para bhikkhu bertanya kepadanya tentang seringnya ia berkunjung ke pohon itu, ia menjawab, "Saya pergi ke tempat guru saya."

Waktu berlalu, karena ketekunannya, akhirnya ia mencapai tingkat kesucian arahat, dan ia berhenti ke pohon lagi. Para bhikkhu lain memperhatikan hal itu, bertanya kepadanya, "Mengapa engkau sekarang tidak lagi berkunjung kepada gurumu?" Kepada mereka ia menjawab, "Saya pergi kepada guru saya karena saya memerlukannya, tetapi sekarang saya tidak memerlukan pergi kepadanya." Para bhikkhu mengerti apa maksud jawabannya itu, mereka pergi menghadap Sang Buddha dan memberitahu, "Bhante, Nangala Thera menyatakan diri telah mencapai tingkat kesucian arahat. Itu tidak mungkin benar; ia pasti membual, ia pasti berbohong."

Kepada mereka, Sang Buddha berkata, "Para bhikkhu jangan berkata seperti itu perihal Nangala, ia tidak berkata bohong. Anak-Ku Nangala, dengan introspeksi diri dan memperbaiki diri sendiri telah berhasil mencapai tingkat kesucian arahat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Attanā coday’attānaṃ paṭimāse attam attanā,
so attagutto satimā sukhaṃ bhikkhu vihāhisi.

Attā hi attano nātho attā hi attano gati,
tasmā saññāmay’attānaṃ assaṃ bhadraṃ va vāṇijo."

Engkaulah yang harus mengingatkan
dan memeriksa dirimu sendiri.
O bhikkhu, bila engkau dapat menjaga
dirimu sendiri dan selalu sadar,
maka engkau akan hidup dalam kebahagiaan.

Sesungguhnya diri sendiri menjadi tuan bagi diri sendiri.
Bagaimana bisa orang lain menjadi pelindung bagi seseorang?
Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri.
Oleh karena itu kendalikan dirimu sendiri,
seperti pedagang kuda menguasai kuda yang baik.

KISAH MARA

Pada satu kesempatan, Mara datang menemui Sang Buddha, menampakkan diri berujud manusia dan bertanya kepada Beliau, "Bhante! Anda sering mengucapkan kata `param`. Apakah arti dari kata tersebut ?"

Sang Buddha yang mengetahui bahwa Mara-lah yang bertanya tersebut, lalu menegurnya, "O, Mara yang jahat! Kata `param` dan `aparam` tidak berarti apapun bagimu. `Param` berarti `pantai seberang` yang hanya dapat dicapai oleh para arahat yang telah terbebas dari kekotoran batin."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Yassa pāraṃ apāraṃ vā
pārāpāraṃ na vijjati
vītaddaraṃ visamyuttam
tamaham brumi brahmanam."
Seseorang yang tidak lagi memiliki
pantai sini (enam landasan indria dalam)
atau pantai sana (enam objek indria luar),
ataupun kedua-duanya (pantai sini dan pantai sana),
tidak lagi bersedih dan tanpa ikatan,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.

------------
Notes :

6 landasan (ayatana) internal : yaitu melalui :
Mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran.

6 landasan (ayatana) external : bentuk/forms, suara/bunyi, bau, rasa, sentuhan, dan ide-ide.

KISAH MAHAPAJAPATI GOTAMI THERI

Mahapajapati Gotami adalah ibu tiri dari Buddha Gotama. Pada saat kematian Ratu Maha Maya, tujuh hari setelah kelahiran Pangeran Siddhattha, Mahapajapati Gotami menjadi permaisuri dari Raja Suddhodana. Pada waktu itu, putra kandungnya sendiri, Nanda, baru berusia lima hari. Ia rela anak kandungnya sendiri diberi makan oleh pembantu, dan dirinya sendiri memberi makan Pangeran Siddattha, calon Buddha. Demikianlah Mahapajapati Gotami telah melakukan pengorbanan besar bagi Pangeran Siddhattha.

Ketika Pangeran Siddhattha berkunjung ke Kapilavatthu setelah mencapai Ke-Buddha-an, Mahapajapati Gotami datang menemui Sang Buddha dan mohon agar kaum wanita juga diijinkan untuk memasuki pasamuan bhikkhuni. Tetapi Sang Buddha menolak memberi ijin. Kemudian, Raja Suddhodana meninggal dunia setelah mencapai tingkat kesucian arahat. Ketika Sang Buddha sedang berjalan di hutan Mahavana dekat Vesali, Mahapajapati, disertai oleh lima ratus wanita, berjalan dari Kapilavatthu menuju Vesali. Mereka telah mencukur rambut mereka dan telah menggunakan jubah yang sudah dicelup. Di sana, untuk kedua kalinya, Mahapajapati memohon kepada Sang Buddha untuk menerima kaum wanita ke dalam pasamuan bhikkhuni. Y.A. Ananda juga mendukung permintaan para wanita tersebut.

Akhirnya Sang Buddha memenuhi kehendak itu dengan syarat bahwa Mahapajapati hendaknya mematuhi delapan syarat khusus (garudhamma). Mahapajapati bersedia mematuhi garudhamma tersebut seperti yang diharapkan Sang Buddha. Kemudian beliau menerima kaum wanita ke dalam pasamuan bhikkhuni.

Mahapajapati adalah wanita yang pertama kali diterima dalam pasamuan bhikkhuni. Wanita yang lain diterima ke dalam pasamuan setelah Mahapajapati oleh para bhikkhu sesuai peraturan yang telah diajarkan Sang Buddha.

Setelah berlangsungnya waktu, terpikir oleh beberapa bhikkhuni bahwa Mahapajapati Gotami telah tidak sah diterima sebagai seorang bhikkhuni karena tidak mempunyai seorang pembimbing. Oleh karena itu Mahapajapati bukanlah seorang bhikkhuni yang sesungguhnya. Berdasarkan pemikiran yang demikian, mereka berhenti melakukan upacara uposatha dan upacara vassa (pavarana) bersama Mahapajapati Gotami.

Mereka pergi menemui Sang Buddha, dan mengajukan permasalahan bahwa Mahapajapati Gotami telah tidak dengan sah diterima dalam pasamuan bhikkhuni karena ia tidak mempunyai pembimbing.

Kepada mereka, Sang Buddha menjawab, "Mengapa kalian berkata demikian? Saya sendiri memberikan delapan kewajiban khusus (garudhamma) kepada Mahapajapati, dan ia telah memahami serta melakukan garudhamma seperti yang Kuharapkan. Saya sendiri pembimbingnya dan adalah salah jika kalian mengatakan bahwa ia tidak mempunyai seorang pembimbing. Kalian hendaknya tidak memelihara keraguan apapun mengenai seorang arahat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Yassa kāyena vācāya manasā n’atthi dukkataṃ
saṃvutaṃ tīhi thānehi tam ahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ."

Seseorang yang tidak lagi berbuat jahat
melalui badan, ucapan, dan pikiran,
serta dapat mengendalikan diri dalam tiga saluran perbuatan ini,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.

---------------
Notes :

Dari kisah diatas, kita dapat melihat contoh pentingnya ‘garis silsilah’ atau lineage dalam kebhikkhuan. Karena ada keraguan apakah Mahapajapati Gotami ditahbiskan secara sah, maka sebagian bhikkhuni yang meragukan itu tidak mau melakukan upacara bersama Mahapajapati Gotami. Untungnya dalam hal tsb ternyata tidak perlu meragukan keabsahan penahbisan Mahapajapati Gotami yang ditahbiskan langsung oleh Sang Buddha.

Pada awalnya Sang Buddhalah yang menahbiskan langsung para bhikkhu. Ketika permintaan untuk ditahbiskan bertambah banyak dan lokasi yang berjauhan, Sang Buddha kemudian mengijinkan bhikkhu-bhikkhu Arahat untuk menahbiskan. Sekarang ini, hanya bhikkhu-bhikkhu tertentu yang memiliki hak untuk menjadi upajjhaya, yaitu bhikkhu yang memiliki wewenang untuk menahbiskan bhikkhu baru. Tidak sembarang bhikkhu boleh menahbiskan. Jika tidak memiliki wewenang untuk menahbiskan biasanya bhikkhu ybs akan mengirim muridnya untuk ditahbiskan oleh upajjhaya yang berwenang. 

Untuk menjadi seorang bhikkhu, seseorang harus memiliki guru dan ditahbiskan oleh upajjhaya. Kalau diibaratkan, misalnya untuk menjadi dokter, guru adalah dosen di kampus yang sehari-hari lebih dekat dengan mahasiswa untuk mengajarinya. Dan upacara wisuda dan pemberian ijasah kira-kira bisa diibaratkan saat penahbisan. Hanya rektor dll pejabat universitas yang resmi yang berhak memberikan gelar. Dan setelah itu, si dokter baru masih harus praktek lapangan beberapa tahun dll sebelum dapat membuka praktek sendiri.
Demikian pula bhikkhu, harus memiliki guru, dan upajjhaya. Seperti seorang dokter yang tidak bisa mengangkat dirinya sendiri menjadi dokter, seorang bhikkhu juga tidak dapat mengangkat dirinya sendiri menjadi bhikkhu.

Tidak semua dokter pasti pintar dan hebat, tetapi adalah lebih sangat berbahaya kalau kita minta diobati oleh dokter palsu yang tidak kuliah dan tidak lulus/diwisuda.
Kalau dokternya palsu, andaipun tidak sampai mati atau keracunan, penyakit bisa tidak sembuh-sembuh karena ketidakbecusannya.

Demikian pula, kita harus berhati-hati memilih guru bhikkhu jika ingin mendapat ajaran yang benar. Banyak orang yang mengaku sebagai bhikkhu tetapi tidak memiliki silsilah yang jelas, bahkan beberapa orang mengarang sendiri silsilahnya.

KISAH SARIPUTTA THERA


Y.A. Sariputta sering dipuji oleh banyak orang karena kesabaran dan pengendalian dirinya. Murid-muridnya biasa membicarakannya demikian: "Guru kita adalah orang yang memiliki kesabaran yang tinggi dan ketabahan yang luar biasa. Jika beliau diperlakukan kasar atau bahkan dipukul oleh orang lain, beliau tidak menjadi marah tetapi tetap tenang dan sabar."
Karena ini sering dikatakan mengenai Y.A. Sariputta, seorang brahmana yang mempunyai pandangan salah mengatakan bahwa itu karena tidak ada yang mengganggu Sariputta Thera, lalu ia mengumumkan kepada para pengagum Sariputta bahwa ia akan memancing kemarahan Y.A. Sariputta.

Pada saat itu, Y.A. Sariputta yang sedang berpindapatta, lewat disana. Brahmana tersebut menghampiri beliau dari belakang dan memukul punggung beliau keras-keras dengan tangannya. “Apa itu?”, kata Sang Thera, dan tanpa menoleh untuk melihat siapa yang telah menyerangnya, ia meneruskan berjalan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Melihat keluhuran dan ketabahan dari sang Thera yang mulia tersebut, brahmana itu menjadi sangat terkejut dan menyesal. “Oh, betapa luhurnya kualitas Sang Thera!”, kata brahmana itu. Ia berlutut di kaki Y.A. Sariputta, dan berkata, “Maafkan saya, Bhante.”
“Apa yang engkau maksudkan?” tanya Sang Thera.
“Karena ingin menguji kesabaranmu, aku telah memukulmu,” jawab brahmana itu.
“Baiklah, aku memaafkanmu” kata Sang Thera.
“Jika Bhante memaafkanku, sudilah datang dan menerima dana makanan di rumahku.” Kemudian brahmana itu mengambil patta (mangkuk) Sang Thera, yang diberikan oleh Sang Thera dengan senang hati, mengajak Sang Thera ke rumahnya, dan memberikan dana makanan untuk Sang Thera.

Orang-orang yang melihat pemukulan itu, sangat marah. “Orang itu,” kata mereka, “memukul Thera kita yang mulia, sungguh tak boleh dibiarkan! Kita akan membunuhnya disini sekarang juga.” Sambil membawa gumpalan tanah, tongkat dan batu-batu di tangan mereka, mereka menunggu di depan rumah brahmana itu.

Ketika Sariputta Thera bangkit dari tempat duduknya, beliau meletakkan pattanya di tangan brahmana itu*. Orang-orang yang melihat brahmana itu keluar bersama Sang Thera, berkata, “Bhante, suruhlah brahmana yang memegang pattamu untuk kembali.”
“Apa yang engkau maksudkan, oh perumah tangga?” tanya Sang Thera.
“Brahmana itu telah memukulmu, dan kami akan memberi ganjaran kepadanya”, jawab mereka.
“Apa yang engkau maksudkan? Apakah dia memukulmu, atau memukulku?”, tanya Sang Thera.
“Memukulmu, bhante” jawab mereka.
“Jika ia memukulku, ia telah meminta maaf kepadaku; kalian pulanglah.” Demikian jawab Sang Thera membubarkan kerumunan itu, dan setelah mempersilakan brahmana itu kembali ke rumahnya, Sang Thera kembali menuju ke vihara.

Sore harinya para bhikkhu lain memberitahu Sang Buddha bahwa Y.A. Sariputta telah pergi untuk menerima dana makanan ke rumah seorang brahmana yang telah memukulnya. Lebih lanjut, mereka menduga bahwa brahmana tersebut makin berani dan akan melakukan hal yang sama terhadap para bhikkhu yang lain.

Kepada para bhikkhu tersebut, Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu, seorang brahmana sejati tidak akan memukul brahmana sejati lainnya; hanya orang biasa maupun brahmana biasa yang akan memukul seorang arahat dengan kemarahan dan itikad jahat. Itikad jahat ini akan dilenyapkan oleh seseorang yang telah mencapai tingkat kesucian ketiga, Anagami."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

Na brāhmaṇassa pahareyya
nāssa muñcetha brāhmaṇo,
dhī brāhmaṇassa hantāraṃ,
tato dhī y’assa muñcati.

Na brāhmaṇas’ etad akiñci seyyo
yadā nisedho manaso piyehi,
yato yato hiṃsamano nivattati
tato tato sammati-m-eva dukkhaṃ.

Janganlah seseorang memukul brahmana,
juga janganlah brahmana yang dipukul itu menjadi marah kepadanya.
Sungguh memalukan perbuatan orang yang memukul brahmana,
tetapi lebih memalukan lagi adalah brahmana yang
menjadi marah kepada orang yang telah memukulnya.

Tak ada yang lebih baik bagi seorang `brahmana`
selain menarik pikirannya dari hal-hal yang menyenangkan.
Lebih cepat ia dapat menyingkirkan itikad jahat,
maka lebih cepat pula penderitaannya akan berakhir.


Rabu, 29 Februari 2012

KISAH LIMARATUS BHIKKHU


Lima ratus bhikkhu yang berasal dari Savatthi, setelah memperoleh cara-cara bermeditasi dari Sang Buddha, mengadakan perjalanan sejauh seratus yojana dari Savatthi dan tiba pada sebuah hutan yang besar, suatu tempat yang cocok untuk melaksanakan meditasi. Banyak makhluk halus yang berdiam pada pohon-pohon di hutan tempat para bhikkhu tinggal, para makhluk halus itu merasa tidak sesuai berdiam di pohon bersama-sama mereka.
Para makhluk halus itu kemudian turun dari pohon dan berpikir, "Ah, para bhikkhu itu hanya bermeditasi untuk satu malam saja. Biarlah aku mengalah dan menyingkir dari pohon." Tetapi, sampai dini hari para bhikkhu itu belum pergi juga.
"Celaka, jangan-jangan para bhikkhu itu akan tinggal di sini sampai akhir masa vassa. Maka aku dan keluargaku terpaksa harus tinggal di tanah dalam waktu yang lama." Pikir makhluk-makhluk halus itu lagi. Mereka segera berunding dan memutuskan untuk menakut-nakuti para bhikkhu tersebut pada malam harinya, dengan membuat suara-suara dan hal-hal aneh yang menakutkan. Mereka memperlihatkan tubuh tanpa kepala, kepala tanpa tubuh, kerangka-kerangka yang berjalan mondar-mandir, dan sebagainya.
Bhikkhu-bhikkhu sangat terganggu dengan tingkah laku mereka dan akhirnya meninggalkan tempat itu, kembali menghadap Sang Buddha, serta menceritakan segala yang terjadi.
Setelah mendengarkan laporan mereka, Sang Buddha mengatakan bahwa hal itu terjadi karena mereka pergi tanpa membawa apa-apa. Mereka harus kembali ke hutan itu dengan membawa sesuatu yang sesuai (cinta kasih). Kemudian Sang Buddha mengajarkan ‘Metta Sutta?(Sutta Pengembangan Cinta Kasih) kepada mereka, diawali dengan syair berikut :


Karaniyamattha kusalena 
Yanta santam padam abhisamecca
Sakko uju ca suhuju caHal-hal inilah yang perlu dilakukan oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan dan bermanfaat mencapai ketenangan sempurna (Nibbana). Ia harus tepat guna, jujur, sungguh jujur, rendah hati, lemah lembut, tiada sombong, dst.


Bhikkhu-bhikkhu diharapkan untuk mengulang kembali sutta itu pada saat mereka tiba di pinggir hutan dan berada di vihara.
Para bhikkhu pergi kembali ke hutan dan melakukan pesan Sang Buddha. Makhluk halus penunggu pohon mendapat pancaran cinta kasih dari bhikkhu-bhikkhu.
Mengetahui bahwa para bhikkhu sebenarnya tidak ingin mengganggu mereka, para makhluk halus membalas dengan menyambut selamat datang dan tidak mengganggu lagi. Di hutan itu tidak ada lagi suara-suara dan penglihatan-penglihatan yang aneh. Dalam suasana damai bhikkhu-bhikkhu bermeditasi dengan obyek tubuh jasmani, dan mereka memperoleh perealisasian bahwa tubuh ini rapuh dan tidak kekal keberadaannya.
Dari Vihara Jetavana, Sang Buddha, dengan kekuatan batinnya, mengetahui kemajuan batin bhikkhu-bhikkhu itu dan mengirimkan cahaya agar membuat mereka merasakan kehadiran Beliau.
Kepada mereka Sang Buddha berkata, "Para bhikkhu, seperti apa yang kalian telah realisasikan, tubuh ini sungguh-sungguh tidak kekal dan rapuh seperti sebuah tempayan tanah."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 40 berikut :

Dengan mengetahui bahwa tubuh ini rapuh bagaikan tempayan, hendaknya seseorang memperkokoh pikirannya bagaikan benteng kota, dan melenyapkan Mara dengan senjata kebijaksanaan. Ia harus menjaga apa yang telah dicapainya, dan hidup tanpa ikatan lagi.

Lima ratus bhikkhu itu mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

KISAH SAMGHARAKKHITA


Suatu hari, tinggallah di Savatthi, seorang bhikkhu senior yang bernama Samgharakkhita. Ketika kakak perempuannya melahirkan anak laki-laki, ia memberi nama anaknya Samgharakkhita Bhagineyya. Keponakan Samgharakkhita, pada waktu itu, juga memasuki pasamuan Sangha.
Ketika bhikkhu muda tinggal di suatu vihara desa, ia diberi dua buah jubah, dan ia bermaksud memberikan satu jubah kepada pamannya, Samgharakkhita Thera. Akhir masa vassa, bhikkhu muda itu pergi ke pamannya untuk memberi hormat kepadanya dan memberikan jubah. Tetapi pamannya menolak untuk menerima jubah itu, dan berkata bahwa ia sudah mempunyai cukup. Walaupun bhikkhu muda mengulangi lagi permintaannya, pamannya tetap tidak mau. Bhikkhu muda itu merasa sakit hati dan berpikir bahwa sejak saat itu pamannya tidak sudi untuk berbagi kebutuhan dengannya. Akan lebih baik baginya untuk meninggalkan pasamuan Sangha dan hidup sebagai seorang perumah tangga.
Dari masalah itu, pikirannya mengembara dari pikiran yang satu ke pikiran yang lain. Ia berpikir bahwa setelah meninggalkan pasamuan Sangha, ia akan menjual jubahnya dan membeli seekor kambing betina. Kambing betina itu akan segera melahirkan anak. Anak-anak kambing dijual dan segera ia akan mempunyai uang cukup untuk menikah. Isterinya akan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia akan membawa isteri dan anaknya dengan sebuah kereta kecil untuk mengunjungi pamannya di vihara. Dalam perjalanan, ia akan berkata bahwa ia akan menggendong anaknya. Tetapi isterinya berkata kepadanya agar ia mengendarai kereta saja dan jangan mengurusi anak. Ia bersikeras dan merebut anak dari isterinya. Sewaktu terjadi perebutan, anak itu terjatuh dan terlindas roda kereta. Dengan marah ia memukul isterinya dengan cemeti.
Pada saat itu ia membelakangi pamannya dengan memegang kipas daun palem dan ia dengan tidak sengaja memukul kepala pamannya dengan kipasnya. Samgharakkhita tua mengetahui pikiran bhikkhu muda itu dan berkata, "Kamu tidak sanggup menghajar isterimu; mengapa kamu menghajar seorang bhikkhu tua ?" Samgharakkhita muda sangat terkejut dan malu atas kata-kata bhikkhu tua itu. Ia juga menjadi sangat ketakutan dan kemudian melarikan diri. Bhikkhu-bhikkhu muda lainnya dan penjaga vihara mengejarnya dan akhirnya membawanya ke hadapan Sang Buddha.
Ketika membicarakan seluruh kisah bhikkhu muda itu, Sang Buddha berkata bahwa pikiran memiliki kemampuan untuk berpikir pada suatu obyek yang berkepanjangan, dan seseorang seharusnya berusaha keras untuk bebas dari belenggu nafsu keinginan, kebencian, dan kegelapan batin.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 37 berikut ini :
Pikiran itu selalu mengembara jauh, tidak berwujud, dan terletak jauh di lubuk hati. Mereka yang dapat mengendalikannya, akan bebas dari jeratan Mara.
Bhikkhu muda mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

KISAH SEORANG BHIKKHU YANG TIDAK PUAS


Ada seorang pemuda anak seorang bankir bertanya kepada seorang bhikkhu yang menghampiri rumahnya untuk berpindapatta, apakah yang harus dilakukan untuk membebaskan diri dari penderitaan dalam kehidupan saat ini.
Bhikkhu itu menyarankan untuk memisahkan tanahnya dalam tiga bagian. Satu bagian untuk mata pencahariannya, satu bagian untuk menyokong keluarga, dan satu bagian lagi untuk berdana.
Ia melakukan semua petunjuk itu, kemudian pemuda itu menanyakan lagi apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Disarankan lebih lanjut; pertama, berlindung kepada Tiratana dan melaksanakan lima sila; kedua, melaksanakan sepuluh sila; dan ketiga, meninggalkan kehidupan keduniawian dan memasuki Pasamuan Sangha. Pemuda itu menyanggupi semua saran dan ia menjadi seorang bhikkhu.
Sebagai seorang bhikkhu, ia mendapat pelajaran Abhidhamma dari seorang guru dan vinaya oleh guru lainnya. Selama mendapat pelajaran ia merasa bahwa Dhamma itu terlalu berat untuk dipelajari, dan peraturan vinaya terlalu keras dan terlalu banyak, sehingga tidak banyak kebebasan, bahkan untuk mengulurkan tangan sekalipun.
Bhikkhu itu berpikir bahwa mungkin lebih baik untuk kembali pada kehidupan berumah tangga. Karena alasan ragu-ragu dan tidak puas, ia menjadi tidak bahagia dan menyia-nyiakan kewajibannya. Dia juga menjadi kurus dan kering.
Ketika Sang Buddha datang dan mengetahui masalahnya, Beliau berkata, "Jika kamu hanya mengawasi pikiranmu, kamu tidak akan mempunyai apa-apa lagi yang akan diawasi; jadi jagalah pikiranmu sendiri."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 36 berikut :
Pikiran sangat sulit untuk dilihat, amat lembut dan halus; pikiran bergerak sesuka hatinya. Orang bijaksana selalu menjaga pikirannya, seseorang yang menjaga pikirannya akan berbahagia.
Bhikkhu muda itu bersama dengan para bhikkhu yang lain mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

KISAH SEORANG BHIKKHU TERTENTU


Suatu ketika, enam puluh bhikkhu, setelah mendapatkan cara bermeditasi dari Sang Buddha, pergi ke desa Matika, di kaki sebuah gunung. Di sana, Matikamata, ibu dari kepala desa, memberikan dana makanan kepada para bhikkhu; Matikamata juga mendirikan sebuah vihara untuk para bhikkhu bertempat tinggal selama musim hujan.
Suatu hari Matikamata bertanya kepada para bhikkhu perihal cara-cara bermeditasi. Bhikkhu-bhikkhu itu mengajarkan kepadanya bagaimana cara bermeditasi dengan tiga puluh dua unsur bagian tubuh untuk menyadari kerapuhan dan kehancuran tubuh. Matikamata melaksanakannya dengan rajin dan mencapai tiga magga dan phala bersamaan dengan pandangan terang analitis dan kemampuan batin luar biasa, sebelum para bhikkhu itu mencapainya.
Dengan munculnya berkah magga dan phala ia dapat melihat dengan mata batin (dibbacakkhu). Ia mengetahui para bhikkhu itu belum mencapai magga. Ia juga tahu bahwa bhikkhu-bhikkhu itu mempunyai cukup potensi untuk mencapai arahat, tetapi mereka memerlukan makanan yang cukup dan penuh gizi, karena tubuh yang lemah akan mempengaruhi pikiran untuk berkonsentrasi.
Maka, Matikamata menyediakan makanan pilihan untuk mereka. Dengan makan makanan yang sesuai dan pengendalian yang benar, para bhikkhu dapat mengembangkan konsentrasinya dengan benar dan akhirnya mencapai arahat.
Akhir musim hujan, para bhikkhu kembali ke vihara Jetavana, tempat bersemayam Sang Buddha. Mereka melaporkan kepada Sang Buddha bahwa mereka semua dalam keadaan kesehatan yang baik dan menyenangkan, mereka sudah tidak khawatir perihal makanan. Mereka juga menceritakan Matikamata mengetahui pikiran mereka dan menyediakan serta memberi mereka banyak makanan yang sesuai.
Seorang bhikkhu, yang mendengar pembicaraan mereka tentang Matikamata, memutuskan untuk melakukan hal yang sama pergi ke desa itu. Setelah memperoleh cara-cara meditasi dari Sang Buddha ia tiba di vihara desa. Di sana, ia menemukan bahwa segala yang diharapkannya sudah dikirim oleh Matikamata, umat yang dermawan.
Ketika bhikkhu itu mengharap Matikamata datang, ia datang ke vihara, dengan pilihan banyak makanan. Sesudah makan, bhikkhu itu bertanya kepada Matikamata apakah ia bisa membaca pikiran orang lain. Matikamata mengelak dengan pertanyaan balasan, "Orang yang dapat membaca pikiran orang lain berkelakuan semakin jauh dari ‘Sang Jalan?"
Dengan terkejut bhikkhu itu berpikir, "Mungkinkah saya, berkelakuan seperti perumah tangga yang terikat pikiran tidak suci, dan ia sungguh-sungguh mengetahuinya ?" Bhikkhu itu khawatir terhadap umat dermawan tersebut dan memutuskan kembali ke Vihara Jetavana.
Ia menyampaikan kepada Sang Buddha bahwa ia tidak dapat tinggal di desa Matika karena ia khawatir bahwa umat dermawan yang setia itu mungkin melihat ketidak-sucian pikirannya.
Sang Buddha kemudian berkata kepada bhikkhu itu untuk memperhatikan hanya pada satu hal, yaitu mengawasi pikiran. Beliau juga berkata kepada bhikkhu itu untuk kembali ke vihara desa Matika, tidak memikirkan sesuatu yang lain, tetapi hanya pada obyek meditasinya.
Bhikkhu tersebut kembali ke desa Matika. Umat dermawan itu tetap memberikan dana makanan yang baik kepadanya seperti yang dilakukannya kepada para bhikkhu lain, dan bhikkhu itu melaksanakan meditasi dengan tanpa rasa khawatir lagi. Dalam jangka waktu yang pendek, bhikkhu itu mencapai tingkat kesucian arahat.
Berkenaan dengan bhikkhu itu, Sang Buddha membabarkan syair 35 berikut ini :
Sukar dikendalikan pikiran yang binal dan senang mengembara sesuka hatinya. Adalah baik untuk mengendalikan pikiran, suatu pengendalian pikiran yang baik akan membawa kebahagiaan.
Para bhikkhu yang berkumpul pada saat itu mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

KISAH MEGHIYA THERA


Pada suatu waktu Meghiya Thera menghadap Sang Buddha dan tinggal beberapa waktu di sana. Pada suatu kesempatan, dalam perjalanan pulang setelah menerima dana makanan, Meghiya Thera tertarik pada suatu hutan mangga yang menyenangkan dan indah.
"Hutan ini demikian indah dan tenang, cocok untuk tempat berlatih meditasi," demikian pikirnya. Setibanya di Vihara, ia segera menghadap Sang Buddha dan meminta ijin agar diperbolehkan segera pergi ke sana.
Mulanya, Sang Buddha meminta dia agar menundanya untuk beberapa waktu, karena dengan hanya menyenangi tempat saja tidak akan menolong memajukan meditasi.
Tetapi Meghiya Thera ingin segera pergi, lalu ia mengulangi dan mengulangi lagi permohonannya. Akhirnya Sang Buddha mengatakan agar melakukan apa yang dia inginkan.
Segera Meghiya Thera pergi ke hutan mangga, duduk di bawah pohon dan berlatih meditasi. Tetapi pikirannya berkeliaran terus, tanpa tujuan, dan sukar berkonsentrasi.
Sore harinya, dia kembali dan melapor kepada Sang Buddha mengapa sepanjang waktu pikirannya dipenuhi nafsu indria, pikiran jahat dan pikiran kejam (kama vitakka, byapada vitakka, dan vihimsa vitakka).
Atas pertanyaan itu Sang Buddha kemudian membabarkan syair 33 dan 34 berikut ini :
Pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap; pikiran susah dikendalikan dan dikuasai. Orang bijaksana meluruskannya bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panah.
Bagaikan ikan yang dikeluarkan dari air dan dilemparkan ke atas tanah, pikiran itu selalu menggelepar. Karena itu cengkeraman dari Mara harus ditaklukkan.
Meghiya Thera mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

KISAH NIGAMAVASITISSA


Nigamavasitissa lahir dan dibesarkan di suatu kota dagang kecil dekat Savatthi. Setelah menjadi seorang bhikkhu dia hidup dengan sederhana, dengan mempunyai hanya sedikit keinginan.
Untuk berpindapatta, beliau biasanya pergi ke desa tempat saudaranya tinggal dan mengambil apa yang disediakan untuknya. Nigamavasitissa selalu melewatkan kesempatan menerima banyak dana makanan lainnya. Meski ketika Anathapindika dan Raja Pasenadi dari Kosala memberikan dana makanan dalam jumlah besar kepada para bhikkhu, Nigamavasitissa tidak mau pergi ke sana.
Beberapa orang bhikkhu kemudian membicarakan hal tersebut. Bahwa beliau lebih dekat dengan saudara-saudaranya dan tidak mempedulikan orang lain seperti Anathapindika dan Raja Pasenadi, yang ingin berbuat jasa dengan memberikan dana makanan.
Ketika Sang Buddha menerima laporan ini, Beliau mengundang Nigamavasitissa dan menanyakan hal itu.
Bhikkhu Nigamavasitissa dengan penuh hormat menjelaskan kepada Sang Buddha bahwa memang benar ia sering mengunjungi desanya, tetapi hanya pada saat berpindapatta. Ketika dia telah mendapatkan makanan yang cukup, dia tidak akan berjalan lebih jauh lagi, dan dia tidak pernah mempersoalkan apakah makanan itu enak atau tidak.
Sang Buddha tidak menegur setelah mendengar penjelasan bhikkhu Nigamavatissa bahkan Beliau menghargai tindakannya dan menceritakannya kepada bhikkhu yang lain.
Beliau bahkan menganjurkan kepada murid-muridnya, untuk hidup puas dengan sedikit keinginan, sesuai dengan ajaran Buddha dan para Ariya, dan begitulah semua bhikkhu seharusnya, mencontoh tindakan bhikkhu Tissa dari kota dagang kecil.
Berkenaan dengan ini, Beliau menceritakan kisah Raja dari burung nuri.
Pada masa dahulu kala, tinggallah raja burung nuri di lobang sebuah pohon besar yang tumbuh di muara sungai Gangga, dengan sejumlah besar pengikutnya. Ketika buah-buahan telah habis dimakan, semua burung nuri pergi meninggalkan lobang tersebut, kecuali sang raja, yang puas pada apa yang masih tersisa di pohon tersebut.
Sakka, mengetahui hal ini dan ingin menguji ketulusan hati raja nuri tesebut. Sakka pergi ke pohon tersebut dengan kekuatan supranaturalnya. Kemudian, dengan menyamar sebagai angsa, Sakka dan permaisurinya, Sujata, mengunjungi tempat di mana raja nuri tersebut tinggal dan menanyakan kenapa dia tidak meninggalkan pohon tua tersebut seperti yang telah dilakukan nuri lain; mencari pohon lain yang berbuah lebat.
Raja nuri menjawab,"Karena perasaan terima kasih kepada pohon ini, aku tidak akan meninggalkannya dan selama aku masih dapat makanan yang cukup, aku tidak akan meninggalkannya. Akan tidak berterima kasih sekali jika aku meninggalkan pohon ini, meskipun pohon ini akan mati."
Sakka sangat terkesan dengan jawaban tersebut, dia menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Dia mengambil air dari Sungai Gangga dan menyiramkannya di sekitar pohon tersebut. Segera pohon itu menjadi segar kembali; tumbuh kembali dengan cabang-cabang yang rimbun dan hijau, penuh dengan buah.
Sangat bijaksana meskipun seekor binatang tidak rakus, mereka puas dengan apa yang tersedia. Raja nuri yang ada dalam kisah itu adalah Sang Buddha sendiri; Sakka adalah Anuruddha.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 32 berikut:
Seorang bhikkhu yang bergembira dalam kewaspadaan dan melihat bahaya dalam kelengahan tak akan terperosok lagi, ia sudah berada di ambang pintu nibbana.
Tissa Thera mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Selasa, 28 Februari 2012

KISAH MAGHA


Suatu waktu, seorang Pangeran Licchavi, bernama Mahali, datang untuk mendengarkan khotbah Dhamma yang disampaikan oleh Sang Buddha. Khotbah yang dibabarkan adalah Sakkapanha Suttanta. Sang Buddha menceritakan tentang Sakka yang selalu bersemangat. Mahali kemudian berpikir bahwa Sang Buddha pasti pernah berjumpa dengan Sakka secara langsung. Untuk meyakinkan hal tersebut, dia bertanya kepada Sang Buddha.
Sang Buddha menjawab, "Mahali, Aku mengenal Sakka; Aku juga mengetahui apa yang menyebabkan dia menjadi Sakka." Kemudian Beliau bercerita kepada Mahali bahwa Sakka, raja para dewa, pada kehidupannya yang lampau adalah seorang pemuda yang bernama Magha, tinggal di desa Macala.
Pemuda Magha dan tiga puluh dua temannya pergi untuk membangun jalan dan tempat tinggal. Magha juga bertekad untuk melakukan tujuh kewajiban. Tujuh kewajiban tersebut adalah :

1.dia akan merawat kedua orang tuanya; 

2.dia akan menghormati orang yang lebih tua; 
3.dia akan berkata sopan; 
4.dia akan menghindari membicarakan orang lain; 
5.dia tidak akan menjadi orang kikir, dia akan menjadi orang yang murah hati; 
6.dia akan berkata jujur; dan 
7.dia akan menjaga dirinya untuk tidak mudah marah.

Karena kelakuannya yang baik dan tingkah lakunya yang benar pada kehidupannya yang lampau Magha dilahirkan kembali sebagai Sakka, raja para Dewa.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 30 berikut :
Dengan menyempurnakan kewaspadaan Dewa Sakka dapat mencapai tingkat pemimpin di antara para dewa. Sesungguhnya, kewaspadaan itu akan selalu dipuji dan kelengahan akan selalu dicela.

KISAH DUA BHIKKHU YANG BERSAHABAT


Dua orang bhikkhu, setelah memperoleh suatu obyek meditasi dari Sang Buddha, pergi ke vihara yang letaknya di dalam hutan.
Salah satu dari mereka lengah, dia menghabiskan waktunya untuk menghangatkan tubuh dengan api dan berbicara pada waktu-malam pertama, dan ini menghabiskan waktunya.
Bhikkhu yang lain dengan rajin mengerjakan tugasnya sebagai bhikkhu. Dia berjalan sambil bermeditasi selama waktu-malam pertama, beristirahat selama waktu-malam kedua dan bermeditasi lagi pada waktu-malam terakhir sepanjang malam. Kemudian, karena rajin dan selalu waspada, bhikkhu kedua ini mencapai tingkat kesucian arahat dalam waktu singkat.
Pada akhir masa vassa keduanya pergi untuk menghormat Sang Buddha, dan Beliau menanyakan bagaimana mereka menghabiskan waktu selama bervassa.
Bhikkhu pemalas dan lengah menjawab bahwa bhikkhu yang lain hanya menghabiskan waktunya dengan berbaring dan tidur. Sang Buddha kemudian bertanya, "Bagaimana dengan kamu sendiri ?" Jawabannya bahwa dia selalu duduk menghangatkan tubuh dengan api pada waktu-malam pertama dan kemudian duduk tanpa tidur.
Tetapi Sang Buddha mengetahui dengan baik bagaimana kedua bhikkhu tersebut telah menghabiskan waktu, maka Beliau berkata kepada bhikkhu yang malas, "Meskipun kamu malas dan lengah kamu mengatakan bahwa kamu rajin dan selalu waspada; tetapi kamu telah mengatakan bahwa bhikkhu yang lain kelihatan malas dan lengah meskipun dia rajin dan selalu waspada. Kamu seperti seekor kuda yang lemah dan lamban dibandingkan dengan anak-Ku yang seperti kuda yang kuat dan tangkas."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 29 berikut ini:
Waspada di antara yang lengah, berjaga di antara yang tertidur; orang bijaksana akan maju terus, bagaikan seekor kuda yang tangkas berlari meninggalkan kuda yang lemah di belakangnya.

KISAH MAHAKASSAPA THERA


Suatu waktu ketika Mahakassapa Thera tinggal di gua Pipphali, beliau menghabiskan waktunya untuk mengembangkan kesadaran batin aloka kasina dan mencoba untuk memperoleh kemampuan batin mata dewa, mengetahui siapa yang waspada dan siapa yang lengah, juga siapa yang mati dan akan dilahirkan.
Sang Buddha, dari vihara, mengetahui melalui kemampuan batin mata dewa Beliau, apa yang dikerjakan oleh Mahakassapa Thera dan ingin mengingatkan bahwa apa yang dia lakukan hanyalah menghabiskan waktu. Maka Beliau menampakkan diri di depan thera tersebut dan berkata, "Anakku Kassapa, jumlah kelahiran dan kematian makhluk hidup tak terhitung dan tak dapat dihitung. Hal ini bukan tugasmu; hal ini adalah tugas para Buddha."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 28 berikut ini :
Bilamana orang bijaksana telah mengatasi kelengahan dengan kewaspadaan, maka ia akan bebas dari kesedihan, seakan memanjat menara kebijaksanaan dan memandang orang-orang yang menderita di sekelilingnya, seperti seseorang yang berdiri di atas gunung memandang mereka yang berada di bawah.

KISAH PERAYAAN BLANAKKHATTA


Suatu waktu perayaan Balanakkhatta dirayakan di Savatthi. Selama perayaan ini, beberapa pemuda melumuri tubuhnya dengan debu dan kotoran sapi berkeliling kota sambil berteriak-teriak. Perbuatan mereka menyusahkan masyarakat. Mereka juga berhenti di setiap pintu dan tidak akan pergi sebelum diberi uang.
Waktu itu, beberapa murid Sang Buddha yang hidup berumah tangga berdiam di Savatthi. Melihat kejadian tersebut, mereka mengirimkan utusan untuk menghadap Sang Buddha, meminta Beliau untuk tetap tinggal di vihara dan tidak ke kota selama tujuh hari. Mereka mengirimkan makanan ke vihara dan mereka sendiri tinggal di dalam rumah.
Pada hari ke delapan, ketika perayaan telah usai, Sang Buddha dan muridnya diundang ke kota untuk makan siang. Mereka membicarakan tindakan para pemuda yang kasar dan memalukan itu selama perayaan berlangsung, Sang Buddha memberikan komentar bahwa hal itu adalah wajar, bahwa kebodohan dan ketidaktahuan akan membuat eseorang melakukan perbuatan yang memalukan.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 26 dan 27 berikut ini :
Orang dungu yang berpengertian dangkal terlena dalam kelengahan; sebaliknya orang bijaksana senantiasa menjaga kewaspadaan, seperti menjaga harta yang paling berharga.
Jangan terlena dalam kelengahan, jangan terikat pada kesenangan-kesenangan indria. Orang yang waspada dan rajin bersamadhi akan memperoleh kebahagiaan sejati.

KISAH CULAPANTAKA


Bendahara Kerajaan di Rajagaha mempunyai dua orang cucu laki-laki bernama Mahapanthaka dan Culapanthaka. Mahapanthaka, yang tertua, selalu menemani kakeknya mendengarkan khotbah Dhamma. Kemudian Mahapanthaka bergabung menjadi murid Sang Buddha.
Culapanthaka mengikuti jejak kakaknya menjadi bhikkhu pula. Tetapi, karena pada kehidupannya yang lampau pada masa keberadaan Buddha Kassapa, Culapanthaka telah menggoda seorang bhikkhu yang sangat bodoh, maka dia dilahirkan sebagai orang dungu pada kehidupannya saat ini. Dia tidak mampu mengingat meskipun hanya satu syair dalam empat bulan. Mahapanthaka sangat kecewa dengan adiknya dan mengatakan bahwa adiknya tidak berguna.
Suatu waktu, Jivaka datang ke vihara mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu yang ada, untuk berkunjung makan siang di rumahnya. Mahapanthaka, yang diberi tugas untuk memberitahu para bhikkhu tentang undangan akan siang tersebut, mencoret Culapanthaka dari daftar undangan. Ketika Culapanthaka mengetahui hal itu dia merasa sangat kecewa dan memutuskan untuk kembali hidup sebagai seorang perumah tangga.
Mengetahui keinginan tersebut, Sang Buddha membawanya dan menyuruhnya duduk di depan Gandhakuti. Kemudian Beliau memberikan selembar kain bersih kepada Culapanthaka dan menyuruhnya untuk duduk menghadap ke timur dan menggosok-gosok kain itu. Pada waktu bersamaan dia harus mengulang kata "Rajoharanam", yang berarti "kotor". Sang Buddha kemudian pergi ke tempat kediaman Jivaka, menemani para bhikkhu.
Culapanthaka mulai menggosok selembar kain tersebut, sambil mengucapkan "Rajoharanam". Berulang kali kain itu digosok dan berulang kali pula kata-kata rajoharanam meluncur dari mulutnya.
Berulang dan berulang kali.
Karena terus menerus digosok, kain tersebut menjadi kotor. Melihat perubahan yang terjadi pada kain tersebut, Culapanthaka tercenung. Ia segera menyadari ketidakkekalan segala sesuatu yang berkondisi.
Dari rumah Jivaka, Sang Buddha dengan kekuatan supranaturalnya mengetahui kemajuan Culapanthaka. Beliau dengan kekuatan supranaturalnya menemui Culapanthaka, sehingga seolah-olah Beliau tampak duduk di depan Culapanthaka, dan berkata :
"Tidak hanya selembar kain yang dikotori oleh debu; dalam diri seseorang ada debu hawa nafsu (raga), debu keinginan jahat (dosa), dan debu ketidaktahuan (moha), seperti ketidaktahuan akan empat kesunyataan mulia. Hanya dengan menghapuskan hal-hal tersebut seseorang dapat mencapai tujuannya dan mencapai arahat."
Culapanthaka mendengarkan pesan tersebut dan meneruskan bermeditasi. Dalam waktu yang singkat mata batinnya tebuka dan ia mencapai tingkat kesucian arahat, bersamaan dengan memiliki ‘Pandangan Terang Analitis? Maka Culapanthaka tidak lagi menjadi orang dungu.
Di rumah Jivaka, para umat akan menuang air sebagai tanda telah melakukan perbuatan dana; tetapi Sang Buddha menutup mangkoknya dengan tangan dan berkata bahwa masih ada bhikkhu yang ada di vihara. Semuanya mengatakan bahwa tidak ada bhikkhu yang tertinggal. Sang Buddha menjawab bahwa masih ada satu orang bhikkhu yang tertinggal dan memerintahkan untuk menjemput Culapanthaka di vihara.
Ketika pembawa pesan dari rumah Jivaka tiba di vihara, dia menemukan tidak hanya satu orang, tetapi ada seribu orang bhikkhu yang serupa. Mereka semua diciptakan oleh Culapanthaka, yang sekarang telah memiliki kekuatan supranatural. Utusan tersebut kagum dan dia pulang kembali dan melaporkan hal ini kepada Jivaka.
Utusan itu kembali diutus ke vihara untuk kedua kalinya dan diperintahkan untuk mengatakan bahwa Sang Buddha mengundang bhikkhu yang bernama Culapanthaka. Tetapi ketika dia menyampaikan pesan tersebut, seribu suara menjawab, " Saya adalah Culapanthaka." Dengan bingung, dia kembali ke rumah Jivaka untuk kedua kalinya.
Untuk ketiga kalinya dia disuruh kembali ke vihara. Kali ini, dia diperintahkan untuk menarik bhikkhu yang dilihatnya pertama kali mengatakan bahwa dia adalah Culapanthaka. Dengan cepat dia memegangnya dan semua bhikkhu yang lain menghilang, dan Culapanthaka menemani utusan tersebut ke rumah Jivaka.
Setelah makan siang, seperti yang diperintahkan oleh Sang Buddha, Culapanthaka menyampaikan khotbah Dhamma, khotbah tentang keyakinan dan keberanian, mengaum bagaikan raungan seekor singa muda. Ketika masalah Culapanthaka dibicarakan di antara para bhikkhu, Sang Buddha berkata bahwa seseorang yang rajin dan tetap pada perjuangannya akan mencapai tingkat kesucian arahat.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 25 berikut ini :
Dengan usaha yang tekun, semangat, disiplin, dan pengendalian diri, hendaklah orang bijaksana membuat pulau bagi dirinya sendiri yang tidak dapat ditenggelamkan oleh banjir.

KISAH KUMBHAGHOSA




Suatu ketika ada suatu wabah penyakit menular menyerang kota Rajagaha. Di rumah bendahara kerajaan, para pelayan banyak yang meninggal akibat wabah tersebut. Bendahara dan istrinya juga terkena wabah tersebut. Ketika mereka berdua merasa akan mendekati ajal, mereka memerintahkan anaknya Kumbhaghosaka untuk pergi meninggalkan mereka, pergi dari rumah dan kembali lagi pada waktu yang lama, agar tidak ketularan. Mereka juga mengatakan kepada Kumbhaghosaka bahwa mereka telah mengubur harta sebesar 40 crore. Kumbhaghosaka pergi meninggalkan kota dan tinggal di hutan selama 12 tahun dan kemudian kembali lagi ke kota asalnya.
Seiring dengan waktu, Kumbhaghosaka tumbuh menjadi seorang pemuda dan tidak seorangpun di kota yang mengenalinya. Dia pergi ke tempat di mana harta karun tersebut disembunyikan dan menemukannya masih dalam keadaan utuh. Tetapi dia menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengenalinya lagi. Jika dia menggali harta tersebut dan menggunakannya, masyarakat mungkin berpikir seorang lelaki miskin secara tidak sengaja telah menemukan harta karun dan mereka mungkin akan melaporkannya kepada Raja. Dalam kasus ini, hartanya akan disita dan dia sendiri mungkin akan ditangkap. Maka dia memutuskan untuk sementara waktu ini tidak menggali harta tersebut dan untuk sementara dia harus mencari pekerjaan untuk membiayai penghidupannya.
Dengan mengenakan pakaian tua Kumbhaghosaka mencari pekerjaan. Dia mendapatkan pekerjaan untuk membangunkan orang. Bangun awal di pagi hari dan berkeliling memberitahukan bahwa saat itu adalah saat untuk menyediakan makanan, untuk menyiapkan kereta, atau pun saat untuk menyiapkan kerbau dan lain-lain.
Suatu pagi Raja Bimbisara mendengar suara orang membangunkannya. Raja berkomentar, "Ini adalah suara dari seorang laki-laki sehat."
Seorang pelayan, mendengar komentar raja. Ia mengirimkan seorang penyelidik untuk menyelidikinya. Dia melaporkan bahwa pemuda itu hanya orang sewaan. Menanggapi laporan ini raja kembali berkomentar sama selama dua hari berturut-turut. Sekali lagi, pelayan raja menyuruh orang lain menyelidikinya dan hasilnya tetap sama. Pelayan berpikir bahwa ini adalah hal yang aneh, maka dia meminta pada raja agar memberikan izin kepadanya untuk pergi dan menyelidikinya sendiri.
Dengan menyamar sebagai orang desa, pelayan dan putrinya pergi ke tempat tinggal para buruh. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah pengelana, dan membutuhkan tempat untuk bermalam. Mereka mendapat tempat bermalam di rumah Kumbhaghosaka untuk satu malam. Tetapi mereka merencanakan memperpanjang tinggal di sana. Selama periode tersebut, dua kali Raja telah mengumumkan bahwa akan diadakan suatu upacara di tempat tinggal para buruh, dan setiap kepala rumah tangga harus memberikan sumbangan. Kumbhaghosaka tidak mempunyai uang untuk menyumbang. Maka dia berusaha untuk mendapatkan beberapa koin (Kahapana) dari harta simpanannya.
Ketika melihat Kumbhaghosaka membawa koin-koin tersebut, pelayan raja berusaha agar Kumbhaghosaka mau menukarkan koin-koin itu dengan uangnya. Usahanya berhasil dan pelayan itu mengirimkan koin-koin itu kepada raja. Setelah beberapa waktu, pelayan tersebut mengirmkan pesan kepada raja untuk mengirim orang dan memanggil Kumbhaghosaka ke pengadilan. Kumbhaghosaka merasa tidak senang, dengan terpaksa pergi bersama orang-orang tersebut. Pelayan dan putrinya juga pergi ke istana.
Di istana, raja menyuruh Kumbhaghosaka untuk menceritakan kejadian sebenarnya dan menjamin keselamatannya. Kumbhaghosaka kemudian mengakui bahwa Kahapana itu adalah miliknya dan juga mengakui bahwa ia adalah putra seorang bendahara di Rajagaha, yang meninggal karena wabah dua belas tahun yang lalu.Dia kemudian juga menceritakan tentang tempat di mana harta karun tersebut disembunyikan. Akhirnya, semua harta karun tersebut dibawa ke istana; raja mengangkatnya menjadi seorang bendahara dan memberikan putrinya untuk dijadikan istri.
Setelah itu, raja membawa Kumbhaghosaka mengunjungi Sang Buddha di Vihara Veluvana dan mengatakan kepada Beliau bagaimana pemuda tersebut memperoleh kekayaan, dengan mengumpulkan hasil pekerjaannya sebagai buruh, dan bagaimana dia diangkat menjadi seorang bendahara.
Mengakhiri pertemuan itu, Sang Buddha membabarkan syair 24 berikut ini :
Orang yang penuh semangat, selalu sadar, murni dalam perbuatan, memiliki pengendalian diri, hidup sesuai dengan Dhamma dan selalu waspada, maka kebahagiaannya akan bertambah.

KISAH SAMAVATI


Kerajaan Kosambi waktu itu diperintah oleh Raja Udena dengan permaisurinya Ratu Samavati.
Ratu Samavati mempunyai 500 orang pengiring yang tinggal bersamanya di istana. Ia juga mempunyai pelayan kepercayaan, Khujjuttara, yang setiap harinya bertugas untuk membeli bunga.
Suatu hari terlihat Khujjuttara sedang menanti tukang bunga langganannya, Sumana. Tetapi yang dinantinya tak kunjung datang, sedang hari semakin siang. Bergegas ia ke rumah Sumana dengan maksud untuk membelinya di sana. Setibanya di sana, Sumana kelihatannya sedang repot menjamu tamu-tamunya, yaitu para bhikkhu. Dengan menggerutu terpaksa Khujjuttara menunggu sampai perjamuan itu selesai.
Selesai perjamuan, Khujjuttara melihat seorang bhikkhu yang berwajah cerah dan agung mulai berkhotbah. Para bhikkhu lainnya, Sumana, dan kerabatnya, tampak mengelilinginya dan mendengarkan dengan tekun dan penuh perhatian.
"Aduh, bisa-bisa aku kena marah kalau pulang nanti," keluh Khujjutara. "Apa boleh buat, terpaksa aku harus menunggu lagi," keluhnya. "Ah, dari pada menganggur dan mengantuk, apa salahnya aku juga ikut mendengarkan. Aku ingin tahu, apa yang dikhotbahkan, sehingga semuanya mendengarkan dengan khidmad dan tidak mempedulikan kehadiranku !" katanya dalam hati.
Mula-mula Khujjuttara hanya setengah-setengah mendengarkan. Tetapi, makin lama perhatiannya makin tertarik, dan akhirnya malahan mendengarkan dengan tekun dan penuh perhatian.
Tak heran, karena pengkhotbah itu adalah Sang Buddha sendiri.
Khujjuttara baru kali itu mempunyai kesempatan untuk mendengarkan khotbah Dhamma yang disampaikan oleh Sang Buddha. Walaupun demikian, karena akibat kamma masa lampaunya, mata batinnya mulai terbuka. Apa yang dikhotbahkan dapat dipahaminya dengan benar dan sekaligus ia berhasil mencapai tingkat kesucian sotapatti.
Pulang ke istana ia telah ditunggu oleh Samavati dengan muka cemberut. "Kemana saja dan apa pula kerjamu sehingga sesiang ini baru pulang ? Dan mana bunga yang seharusnya kau beli ?" tegus Samavati.
Setelah meminta maaf, Khujjuttara menceriterakan apa yang barusan dialaminya. Samavati tertarik mendengar pengalaman Khujjuttara dan memintanya agar sore nanti mengulangi khotbah yang tadi didengarnya.
Sore itu, Khujjuttara mengulang khotbah Sang Buddha kepada Samavati dan 500 orang pengiringnya. Sama halnya seperti Khujjuttara, Samavati beserta pengiringnya pada akhir khotbah juga mencapai kesucian sotapatti.
"Oh, Khujjuttara, engkau beruntung sekali bisa mendengarkan khotbah yang seindah itu. Berkat engkau, aku beserta yang lain-lainnya juga ikut menikmati keberuntungan itu !" kata Samavati.
"Atas jasa-jasamu, engkau kuangkat sebagai ibu angkat dan guruku !" lanjutnya. "Mulai hari ini engkau kubebaskan dari segala kewajibanmu yang lain. Sayang, aku tak dapat keluar istana. Maka untuk selanjutnya engkau berkewajiban untuk mendengarkan khotbah Sang Buddha dan kemudian mengulangnya untuk didengar oleh semuanya."
Demikianlah, Khujjuttara selalu mengikuti kemana Sang Buddha berkhotbah dan kemudian mengulangnya di hadapan Samavati beserta para pengiringnya. Dalam waktu singkat Khujjuttara berhasil memahami Dhamma yang diajarkan Sang Buddha dengan baik.
Lama kelamaan Samavati dan pengiringnya sangat berharap dapat melihat Sang Buddha dan ingin sekali memberi penghormatan kepada Beliau. Tetapi mereka takut jika raja tidak berkenan. Dicarilah akal, bagaimana caranya agar mereka bisa melaksanakan maksudnya. Salah satu pengiring Samavati menemukan cara, dengan membuat lobang-lobang pada dinding-dinding di sekitar istana. Melalui lobang itu mereka dapat melihat keluar dan memberi penghormatan kepada Sang Buddha setiap hari, saat Beliau akan mengunjungi rumah tiga orang hartawan, bernama Ghosaka, Kukkuta, dan Pavariya.
Pada waktu Raja Udena memerintah, ada seorang brahmana mempunyai puteri yang sangat cantik, Magandiya namanya. Karena kecantikan puterinya, ia selalu memilih-milih calon suami anaknya. Dan selama itu dirasanya belum ada yang tepat untuk mendampingi anaknya.
Suatu hari brahmin itu bertemu muka dengan Sang Buddha. Ia sangat terpesona melihatnya dan berpikir bahwa inilah satu-satunya orang yang pantas untuk menjadi suami puterinya yang sangat cantik. Dicarinya tahu di mana Sang Buddha berdiam, kemudian bersama dengan isteri dan puterinya ia ke sana dan meminta kepada Sang Buddha agar mau menerima puterinya sebagai isteri.
Sang Buddha terdiam sejenak. Dengan kekuatan supranatural-Nya diselidikilah brahmin anak beranak itu. Beliau melihat bahwa brahmin itu dengan isterinya mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk mencapai kesucian anagami.
Dengan tersenyum Beliau menjawab, "Setelah melihat Tanha, Arati, dan Raga, putri-putri Mara, Aku tidak lagi mempunyai keinginan seksual; semuanya hanya berisikan kotoran dan air kencing dan aku tidak ingin menyentuhnya walaupun dengan ujung kakiku sekali pun."
Mendengar kata-kata Sang Buddha, brahmin itu dan istrinya terkejut. Mereka kemudian merenung, mengapa permintaan baik-baik mereka dijawab seperti itu ? Akhirnya mata batin mereka berdua terbuka, dan mereka menjadi paham dengan arti jawaban tadi. Keduanya langsung mencapai tingkat kesucian anagami magga dan phala.
Sepulangnya, mereka berdua segera berunding. Berdua mereka ingin menjauhi kehidupan duniawi dan bergabung dengan murid-murid Sang Buddha. Mereka juga bersetuju untuk menyerahkan perawatan puteri mereka kepada saudara mereka. Kelak, karena ketekunannya mereka berdua berhasil mencapai tingkat kesucian arahat.
Alkisah, puteri Magandiya yang juga mendengar jawaban Sang Buddha seperti tadi merasa sangat terhina dan tersinggung. Apalagi setelah ayah bundanya akhirnya mengikuti Sang Buddha dan menyerahkan perawatan dirinya kepada pamannya.
"Wahai Samana Gotama, setelah aku kau hina, kau rebut pula kedua orang tuaku. Sungguh keterlaluan sikapmu padaku !" demikian kata hati puteri Magandiya. "Awas! Tunggulah pembalasanku ! Kemana saja engkau pergi, pasti akan kucari dan kubalas penghinaanmu padaku ! Sebelum dendamku terbalas, aku tidak akan berhenti!" ancamnya dalam hati.
Alkisah, beberapa waktu kemudian pamannya menyerahkan Magandiya kepada Raja Udena. Karena Magandiya memang cantik jelita, raja pun menerimanya sebagai salah satu isterinya.
Suatu ketika Magandiya mendengar kedatangan Sang Buddha di Kosambi dan bagaimana Samavati dan pengiringnya memberi penghormatan kepada Beliau melalui lobang-lobang di sekitar istana.
"Inilah waktunya untuk membalas dendam !" pikirnya. Matanya berbinar-binar kegirangan. Segera Magandiya merencanakan cara untuk membalas dendam kepada Sang Buddha dan mencelakakan Samavati beserta pengiring yang sangat mengagumi Sang Buddha.
Paginya, Magandiya segera menghadap raja. "Baginda, Samavati ingin berkhianat. Ia bersama pengiringnya telah membuat lobang-lobang di dinding istana agar dapat berhubungan dengan orang luar. Mungkin pula mereka telah mengatur pemberontakan !" katanya memanas-manasi raja.
Raja terkejut mendengar laporan itu. Ia segera turun ke lapangan untuk melihat sendiri kebenarannya. Benar! Banyak lobang dibuat pada dinding istana. Dengan marah raja segera memanggil Samavati. "Samavati, tak kusangka bahwa engkau sampai hati benar ingin berkhianat kepadaku!"
Samavati melenggak keheranan, "Baginda, mengapa Baginda sampai hati menuduh demikian ?"
"Untuk apa kaubuat banyak lobang pada dinding istana? Bukankah untuk memudahkan berhubungan dengan orang luar dan mengatur pemberontakan ?"
"Ampun Baginda," jawab Samavati. "Tiada setitikpun terbit ingatan untuk memberontak pada diri hamba. Bahkan selama ini hamba sangat berterima kasih dapat hidup tanpa kekurangan suatu apapun di istana ini."
"Lalu, untuk apa kaubuat lobang-lobang itu ?"
Samavati segera menceriterakan semuanya dengan bersungguh-sungguh. Raja dapat diyakinkan, sehingga tidak menarik panjang urusan itu.
Melihat usahanya untuk mengenyahkan Samavati tidak berhasil, Magandiya bertambah marah, tetapi ia tidak putus asa. Ia tetap berusaha mencari jalan untuk membuat raja percaya bahwa Samavati tidak setia kepada Raja dan telah berusaha untuk membunuhnya.
Suatu hari, Magandiya mendengar bahwa Raja akan mengunjungi Samavati dalam beberapa hari mendatang dan akan membawa kecapinya. Magandiya memasukkan seekor ular ke dalam kecapi tersebut dan menutupinya dengan seikat bunga.
Magandiya mengikuti Raja Udena ke tempat tinggal Samavati. Di perjalanan ia selalu mencoba mengurungkan niat raja karena dia merasa tidak percaya kepada Samavati dan mengkhawatirkan keselamatan raja. Tetapi raja tidak menghiraukannya. Sampai di kediaman Samavati, tatkala tiada orang, Magandiya mencabut seikat bunga dari lubang kecapinya. Ular itu keluar dan melingkar di atas tempat tidur. Ketika raja hendak mengambil kecapinya dan melihat ular itu, baru beliau mempercayai kata-kata Magandiya bahwa Samavati berusaha untuk membunuhnya.
Raja sangat marah. Beliau memerintahkan Samavati untuk berdiri, dengan semua pengiringnya berbaris di belakangnya.
"Pengawal, ambil busur dan anak panahku!" teriak raja. Tetapi Samavati dan pengiringnya tak gentar. Mereka semua tetap berdiri sambil memancarkan cinta kasih kepada Raja.
Raja menarik busurnya dengan anak panah yang telah dilumuri racun. Samavati dibidiknya baik-baik, dan kemudian anak panah dilepaskan.
Dengan suara berdesir anak panah itu melaju secepat kilat mendekati sasarannya, Samavati. Semua yang melihat menahan napasnya.
Ajaib, begitu akan menyentuh Samavati anak panah itu kelihatan seolah-olah terpental, menyeleweng arahnya, melewati Samavati dan para pengiringnya, dan akhirnya menghunjam ke dinding di belakangnya.
Raja semakin murka, dikiranya bidikannya meleset. Sekali lagi raja menarik busurnya dan Samavati dibidiknya dengan lebih hati-hati.
Sekali lagi anak panah itu seolah-olah mengenai perisai yang keras, menyeleweng arahnya dan menghunjam lagi ke dinding.
Lagi, dan lagi raja berusaha membidik Samavati maupun pengiringnya, tetapi kejadian seperti tadi tetap berulang lagi.
Raja tercenung memikirkan kejadian yang baru dialaminya. Seolah-olah Samavati dan pengiringnya ada yang melindungi. Dan kalau benar demikian, niscaya Samavati tidak bersalah. Maka kemarahannya mereda. Bahkan pada akhirnya ia memberi ijin kepada Samavati untuk mengundang Sang Buddha dan murid-muridnya ke istana untuk menerima dana makanan dan untuk menyampaikan khotbah.
Magandiya menyadari bahwa tidak satupun dari rencananya terlaksana. "Kalau Baginda tak mampu membunuh Samavati, maka aku sendiri yang akan turun tangan membunuhnya!" pikirnya. Oleh karenanya ia membuat rencana akhir, rencana yang sempurna. Magandiya mengirimkan suatu pesan kepada pamannya dengan petunjuk-petunjuk lengkap untuk pergi ke istana Samavati dan membakar istananya bersamaan dengan semua orang yang ada di dalamnya.
Ketika istana tersebut terbakar, Samavati dan pengiringnya, yang berjumlah 500 orang, tetap bermeditasi. Kemudian, beberapa dari mereka mencapai tingkat kesucian sakadagami dan yang lain berhasil mencapai tingkat kesucian anagami.
Berita kebakaran tersebut segera menyebar, Raja segera pergi ke tempat kejadian, tetapi beliau terlambat. Beliau mencurigai bahwa hal ini dilakukan oleh Magandiya, tetapi raja tidak menunjukkan kecurigaannya.
Untuk mengetahui hal yang sebenarnya, beliau berkata, "Ketika Samavati masih hidup, saya selalu khawatir kalau-kalau dia kan mencelakakan saya. Sekarang, pikiranku lebih tenang. Siapa yang telah melakukan ini semua ? Hal ini pasti hanya dilakukan oleh seseorang yang sangat mencintaiku."
Mendengar kata-kata itu, Magandiya segera mengkui bahwa dia yang telah memerintahkan pamannya untuk melakukan hal itu semua. Untuk hal itu, Raja sangat puas dan mengatakan bahwa beliau akan memberikan penghargaan pada Magandiya dan seluruh keluarganya. Kemudian, seluruh keluarga Magandiya diundang ke istana untuk menghadiri perjamuan.
Magandiya, pamannya, dan seluruh kerabatnya datang ke istana dengan gembira. Setelah mereka berkumpul semua, raja segera berdiri dan berteriak, "Hei, para pengawal, tangkap mereka semua !" Setelah semuanya ditangkap raja segera memerintahkan, "Masukkan mereka semuanya ke dalam istana Magandiya. Jangan sampai ada yang lolos. Kemudian bakar seluruh istana itu, seperti apa yang telah mereka lakukan terhadap Samavati !"
Ketika Sang Buddha mendengar dua kejadian tersebut, Beliau mengatakan bahwa seseorang yang waspada tidak akan mati; tetapi mereka yang lengah akan merasa mati meskipun dia masih hidup.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 21, 22, dan 23 berikut ini :
Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan; kelengahan adalah jalan menuju kematian. Orang yang waspada tidak akan mati, tetapi orang yang lengah seperti orang yang sudah mati.
Setelah mengerti hal ini dengan jelas, orang bijaksana akan bergembira dalam kewaspadaan dan bergembira dalam praktek para ariya.
Orang bijaksana yang tekun bersamadhi, hidup bersemangat dan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh, pada akhirnya mencapai nibbana (kebebasan mutlak).